Ini film terakhir saga terpanjang abad ini, sayang aja kalau ndak ditulis reviewnya haha. Jadilah kita menemui sebuah film tanpa basa-basi lagi langsung aja memulai ceritanya tanpa repot2 lagi ngenalin cast di opening scene. Voldemort dah riang gembira hampir nyium Dumbledore eh ternyata cuman mo ngambil tongkat sihirnya, Elder Wand. Harry Potter termangu di depan makam Dobby trus masuk rumah Bill, ketemu kawan karib trus nodong Griphook buat masuk ke dalam Gringotts. Lolos dari Gringotts pake naga, balik deh ke Hogwarts buat nyari Horcrux trus perang terakhir. Tak banyak lagi yang bisa diceritakan film ini, sehingga sebelum film ini tayang saya sudah membayangkan David Yates benar-benar ingin habis-habisan di film ini, perang besar nan kolosal lagi epik serta digdaya dijanjikannya.

Percaya ama ucapan David Yates tentu saja, syirik.

Masih segar di ingatan saya ketika ini buku rilis tengah tahun 2007 lalu, saya tergopoh-gopoh ke Gramedia untuk melihat bukunya, gak beli sih, ga punya duit haha. Sebulan kemudian setelah punya duit baru beli, hihi. Membacanya cukup sulit, karna kali itulah pertama kali saya membeli novel berbahasa inggris dan berniat menamatkannya. Akhirnya tamat juga, membaca bab terakhir muka saya penuh kepuasan yang ganteng, cerita panjang nan melelahkan serta bertwist keren itu happy ending, suka saya. Sayangnya, scene terakhir film ini membuat jidat saya berkerut, tak puas, “errr” tak sengaja terucap, muka saya tetep…ganteng. Itulah perbedaan nyata apa yang saya rasakan, saya tak puas dengan adaptasinya, wabil khusus, film ini. Read the rest of this entry »

Advertisements

Fast and Furious

April 4, 2009

Starring: Vin Diesel, Paul Walker, Michelle Rodriguez, Jordana Brewster, John Ortiz, Laz Alonso, Gal Gadot, Shea Whigham, Tego Calderon

Director: Justin Lin

What do you expect from movie like this?

Cars of course…walo tidak sekeren mobil2 di film pertama, apalagi di film kedua dan ketiga…mobil2 yang ada disini lumayanlah, terutama itu mobil putih punya si cewe cakep asisten penjahatnya, kecil dan lucu…ga tau merknya…haha..mobil lainnya ga terlalu istimewa (mgkn juga karna aku ga terlalu apal nama mobil kali ya..haha), bahkan kehadiran kembali Dodge Charger punyanya Dom dari film pertama, tidak sehebat seperti yang kubayangkan.

Races…sedikit berbeda dengan film sebelumnya yang mana tiap kali ada balapan jalanannya ditutup, nah di film ini tidak, balapan diadakan di jalan raya yang padat mobil2 lain, apakah hasilnya keren dan mantap??ok..mungkin dia berbeda dengan prequel2nya…tapi hal itu malah membuatnya sama dengan film2 aksi lainnya…!!!, balapan di jalan raya omg…terlalu sangat biasa dan tiada istimewa sedikitpun, mengecewakan!. Mgkn balapan di terowongan itu yang agak keren, lumayan bikin nahan nafas, tapi pengambilan gambarnya tidak terlalu membuat saya sesak nafas, terlalu biasa bahkan terlalu lama yang jadinya malah membuat saya bosan. Sepertinya sutradaranya sudah kehabisan ide untuk membuat balapan yang kreatif. Lompatan mobil pink Devon Aoki di film ke dua sanggup membuat saya berkata “wow!”, tapi di film ini…ga satupun adegan yg layak untuk itu.

Actions…seperti halnya film pertama, opening film ini menunjukkan Dom dan gengnya merampok trailer disebuah jalanan sepi, awalnya cukup membosankan, tapi ketika jalan tersebut mulai turun ke arah tebing mulailah terhampar pemandangan lansekap Dominika yang keren (kok malah ngmgin pemandangan??) disertai dengan naiknya tingkat ketegangan, sampai ketika Dom terjebak antara tebing dan gerbong trailer yang terbakar, cukup tegang wlo spesial efek-nya sesaat kemudian lgsg menjadikan adegan itu tidak spesial lagi. kliatan bgt boongannya..haha. Aksi yang lain??bisa kalian temukan di film2nya John Cena. Ga jauh beda.

Chicks…Michelle Rodriguez, asli bosen ngeliat ini cewe, sepertinya film2 aksi ada aja muncul muka dia…Lost, Girlfight, Resident Evil ampe SWAT mgkn yang paling terkenal. Fail. Jordana Brewster, rahang kotak dari film pertama masih dipakenya, dan itu cukup menyeramkan…hahahaha. Fail…!!.Ok, brarti pemeran utama tiada yang istimewa, justru dari pihak penjahatlah yang mantap, ya seperti yang saya bilang di paragraf pertama, cewe yg make mobil putih itu, wlo teman saya ntn tidak terlalu setuju sepertinya…tapi menurut saya dia cakep…hhehe. Dan pas liat di film ini saya dah yakin klo dia tu seorang model, soalnya prnh liat di sebuah majalah….eh ternyata benar, dia Gal Gadot, model israel..pantesan ajib..haha.

Musik hiphop ples pantat2 bergoyang, sudah hal wajib sepertinya di film2 seperti ini, pantat-pantat itu sungguh sungguh sangat tidak penting, wlo musiknya mgkn bakal kudonlot juga dan dengerin 2-3 hari, dan kemudian tekan shift+delete karna ia akan jadi sangat membosankan. Hal itu saya lakukan tidak lain karena ada satu musik yang mengingatkan saya akan house music yang sering saya dengar di angkot2 waktu sma dulu, brings back memories dude!!hahaha.

Cerita dan akting???Sebaiknya jangan terlalu berharap, karna pembuat cerita ini film juga tidak mau berfikir lebih serius dalam menggarap plot-nya. Cewek si Dom mati, ternyata ada hubungannya ama penyelundup heroin terbesar di LA. Nahh…si penjahat ini juga kebetulan lagi diburu ama Brian, bla bla bla nyam nyam nyam…jadilah si Dom dan Brian bergabung untuk menangkap ini penjahat. dst dst dst…..crap!!, sangat dangkal sekali. walo ada twist kecil2an sana sini, sama sekali tidak berfungsi untuk mengangkat derajat cerita film ini. Akting?haha…cukup rapatkan gigi dan menatap tajam, sudah sangat berguna ketika menatap penjahat dan mengendarai mobil kencang-kencang.

so?
klo bingung mau kemana lagi buat ngabisin duit, pergilah ke bioskop dan tonton film ini…lumayan menghibur. aku jamin!.

Ken Park (2002)

January 20, 2009

Category: Movies
Genre: Drama
Starring : Adam Chubbuck, James Bullard, James Ransone, Stephen Jasso
Directed by : Larry Clark, Ed Lachman
Seorang anak muda naik skate menuju skatepark, disana setelah bermain sebentar ia duduk ditengah skatepark itu, mengeluarkan camcorder, dan sebuah pistol, cam dinyalakan, dan dengan senyuman yang aneh, anak muda ini mengarahkan pistol ke kepalanya dan BANG…!!!
mati.

dan dimulailah film ini dengan rasa penasaran siapakah anak muda yang belakangan dikenal dengan nama Ken Park. Bukannya langsung menjawab, film ini malah membawa kita mengenal satu persatu teman Ken yang…yaahh…tidak biasa.

Shawn, seorang pemuda yang suka menyiksa adik kecilnya, dan diluar rumah dia bergaul dengan ibu pacarnya, di rumah pacarnya itu….you know what i mean about “gaul” kan?haha. Then…we meet Claude, seorang anak yang musti berurusan ama ayahnya yang suka memamerkan otot, suka menyiksa claude, baik verbal, fisik..bahkan seksual, sedangkan ibunya adalah sosok yang pasif, yaa..mungkin karna kondisinya yang lagi hamil. Selanjutnya ada Tate, yang tinggal dengan kakek neneknya, dia sangatlah tidak sopan ama orang tua itu, neneknya dikatainya bitch dst, dan anjingnya yg kaki 3 pun, sering disiksanya. Dan akhirnya, ada tokoh cewe juga, Peaces, yang tinggal dengan ayahnya yang sangat relijius setelah ditinggal mati istrinya, kerjanya tiap hari adalah membaca Injil dan berdoa untuk istrinya.

Yap…keluarga2 yang aneh, disfungsional, Clark menurut saya sangat baik menceritakan, plotnya ringan dan mengalir apa adanya, sederhana dan tersusun rapi. Semua sub-plot ini berujung pada kejadian yang lumayan mengejutkan. Dan akting para pemain juga bagus-bagus…nilai tambah buat hal ini.

dan errghh….di film ini sungguh banyak adegan2 yang sangat tidak layak buat konsumsi 21tahun kebawah, pantes aja ni film kagak beredar di bioskop2 indonesia, wong di amerika ama australia ni film dilarang beredar lewat bioskop, di new zealand juga, hanya diputar di festival2 film dan buat bahan studi perkuliahan ttg film.

poin : 6/10

Y. P. F. (2007)

January 16, 2009

Category: Movies
Genre: Comedy

Starring: Aaron Abrams, Carly Pope, Kristin Booth, Josh Dean, Sonja Bennett, Josh Cooke, Diora Baird, Callum Blue, Ennis Esmer, Peter Oldring, Natalie Lisinska

Director: Martin Gero


Atau lebih dikenal sebagai Young People F**king.

Adalah sebuah adult comedy, bukan karna guyonannya yang berat, kata2nya yang ga bakal dimengerti anak2, tapi karna tema komedinya sendiri yang hanya bisa diterima dan ditonton oleh orang dewasa…yakni tentang sex.

Film ini terbagi menjadi 5 bagian
The Exes, The First Date, The Roommates dan The Couple, The Friends.
dan semua bagian dibagi menjadi diceritakan berdasar 5 sesi…
Prelude, Foreplay, Sex, Interlude, Orgasm and Afterglow..

see….seperti sebuah “tutorial” dan dokumenter tentang bagaimana sex terjadi pada berbagai macam pasangan itu…hahahaha

Eric dan Mia, pasangan yang sebenarnya sudah putus, dan mereka memutuskan untuk kembali berkencan, sekedar mengingat tentang masa lalu, bagian ini penuh dialog2 yang licik, menjebak, karna sebenarnya Eric dan Mia masih sama2 saling suka. nice, dan Mia cewe paling manis di film ini..haha

Gord dan Dave, adalah teman satu apartemen, suatu waktu, Gord menyuruh Dave untuk berhubungan dengan pacarnya, Inez, sebagai salam perpisahannya karna Gord akan segera pndah dari apartemen itu, Gord pun hanya menonton temannya itu disamping tempat tidur sambil memakan kebab??mbuh sepertinya itu kebab…hahaha. Bagian ini terlalu gampang ditebak, nice emotion writing but bad ending.

Bagian yg lain, Ken, seorang playboy beraksen inggris berhubungan dengan teman kencan yang baru ditemuinya, Jamie, seorang pekerja kantoran biasa. Bagian ini tidak terlalu istimewa, paling hanyalah ternyata banyak kebohongan yang disimpan yang dibongkar pada bagian afterglow.

Trus, bagian yang paling bagus menurut saya, pasangan Matt dan Kris, mereka adalah teman yang sangat akrab dari lama, dari masa kecil malah. Mereka memutuskan untuk berhubungan sex untuk saling mengobati hubungan mereka dgn pasangan masing2 yang gagal. Sepanjang bagian ini sangat menarik, mulai bagaimana mereka saling canggung pada bagian prelude, yang paling keren ketika Kris menyuruh Matt mengatakan kata2 kotor…dan kata2nya adalah…hahaha…lucu, tonton aja dah…hahaha. dan bagian afterglow sesi ini….bagus, love it. Dan Kris cewe yg paling keren di film ini…apalagi klo bukan karna perutnya…mantap…hahahahaha

Bagian terakhir, yang paling aneh menurut saya, bagaimana bisa pasangan suami istri yang masing2 baru berumur 26, sudah mengalami kebosanan dalam sex, dan akhirnya mereka memutuskan untuk sedikit berkesperiman dalam hubungan mereka, yakni menggunakan sex toys…wtf??..aneh.

Intercourse, bukanlah topik utama film ini, komedi adalah jualan utamanya, dari bagian foreplay ampe afterglow. Film ini bercerita dengan sex, bukan tentang sex.

Sayangnya, karna terlalu banyak pasangan yang diceritakan (dan banyak yang biasa aja ceritanya) film ini jadi kurang dalem. Misal nih…misal aja ya, hanya bagian the friends aja yang diceritain, disertai dengan script yang lebih bagus lagi…pasti ni film lebih keren…hehe

6/10

Category: Movies
Genre: Drama
Starring: Aaron Eckhart, Toni Collette, Maria Bello, Peter Macdissi, Summer Bishil

Director: Alan Ball

Aku bingung, apakah harus menyukai atu malah membenci kepolosan Jasira, karakter utama film ini, terhadap segala hal tentang sex. Yang jelas, melihat bagaimana Jasira masturbasi sambil melihat majalah porno Palace, sangatlah menjengkelkan, aku tidak bisa menontonnya dengan nyaman.

Towelhead bercerita tentang Jazira, anak berumur 13 tahun keturunan Lebanon, dia disuruh tinggal di rumah ayahnya, seorang pegawai NASA, oleh ibunya yang sudah punya pacar baru. Di rumah ayahnya yang keras itu, dia bertetangga dengan keluarga Vuoso, seorang tentara cadangan, dengan seorang istri dan anak laki2. Di sekolah dia berteman dengan seorang cowo kulit hitam dan menjalin hubungan dengannya.

Banyak hal yang dilakukan Summer Bishil, yang memerankan Jasira – sekali lagi – gadis berumur 13 tahun!, mulai dari dicukurnya rambut kelaminnya oleh pacar ibunya, membayangkan diri sebagai model majalah porno, berhubungan seks dengan pacar kulit hitamnya (damn aku lupa namanya..haha), dan dengan Vuoso, dan begitu gampangnya dia menggoda Vuoso di restoran itu…dan semua hal itu adalah sangat tidak membuat nyaman. it’s very irritating.

Aku mengerti film ini mgkn maksudnya memberikan semacam gambaran bagaimana sexual abuse itu adalah sebuah tragedi, bagaimana orang2 tua diluar sana perlu lebih memperhatikan anak mereka dengan memberika pendidikan seks yang cukup kepada mereka. Tapi aku merasa sepertinya film ini bukanlah film yg cocok buat itu.

Atau mgkn ini film (juga) memfokuskan tentang isu rasial, bagaimana teman sekolahnya selalu memanggilnya towelhead, sand nigger dan julukan lainnya, bagaimana ayah Jasira marah didiskriminasikan oleh Vuoso, dan bagaimana Jasira dilarang berhubungan dgn teman cowonya hanya karna dia kulit hitam. Tapi hal itu semua tertutup oleh pengalaman seksual Jasira.

Tapi harus diakui, cast film ini sangat bagus, Summer Bishil sangat bagus memerankan seorang anak polos sehingga gampang dibodoh-bodohi, Aaron Eckhart juga bagus menjadi seorang yang suka ama Jasira. Yang lainnya macam ibu Jasira dan tetangga yang hamil itu (diperankan oleh Toni Collette) sangat baik menyampaikan emosi masing2. cool.

Film yang lumayan sebenarnya, dan bakal jadi film bagus apabila rasa penasaran akan seks-nya si Jasira tidak lantas merubahnya menjadi cewek gampangan.

Oh ya…katanya judulnya diganti Nothing Is Private atas desakan sebuah kelompok islam timur tengah karna tema utama film yang lebih memfokuskan tentang seks, bukannya tentang rasisme yang ternyata hanyalah semata-mata untuk memberikan sedikit latar belakang film.

sekian


7/10

Category: Movies
Genre: Drama

Starring: Brad Pitt, Cate Blanchett, Taraji P. Henson, Tilda Swinton, Jason Flemyng, Elias Koteas, Julia Ormond, Peter Badalamenti

Director: David Fincher

Sewaktu saya membaca resensi film ini di sebuah majalah film, saya masih bingung apa sebenarnya tema yang diangkat dari film ini, kecuali – hanyalah – kisah seorang yang secara fisik menjadi semakin muda. Sampai akhirnya menonton saya masih tidak mendapatkan sesuatu hal yang penting, yang krusial, yang tematis kecuali kisah seorang manusia biasa yang cuman semakin muda tapi secara psikis tetap mejadi tua.

Sehingga, film yang berdurasi 166 menit ini menjadi sangatlah panjang, jikalau saja beberapa chapter dibuang ato juga ditambahkan, tidak akan terlalu berpengaruh terhadap tema dangkal tersebut diatas. Hanya sepertiga bagian terakhirlah film ini menunjukkan dramatis yang berharga, ketika anak Benjamin dan Daisy lahir dan Benjamin tentu saja ga mau menjadi sekedar teman bermain bagi anaknya karna fisiknya yang akan semakin muda, sehingga ia memutuskan meninggalkan istri dan anaknya. Hanya bagian inilah yang menarik.

Dan Benjamin, adalah seorang karakter yang hampir seperti zombie, sering terdiam, berbicara sedikit, menatap kosong seperti minta dikasihani, tidak punya ambisi, tidak menunjukkan emosi, tidak mempunyai ketertarikan akan hal apapun kecuali terhadap Daisy, sungguh karakter yang tidak menarik. Entah apa yang ada di pikiran Eric Roth menciptakan karakter seperti ini, secara track recordnya adalah peraih oscar dari film Forrest Gump dan nominasi di Munich dan The Insider. Dan Brad Pitt…cukup berhasil memerankan karakter ga menarik ini.

Satu hal yang paling saya kagumi adalah make-up artistnya. Mereka berhasil membuat wajah Brad Pitt seperti berusia 60, 40 bahkan usia belasan tahun..!! begitu juga dengan make up Cate Blanchett, mengagumkan.

Kesimpulannya, setelah hampir 3 jam dibikin mengantuk, tidak banyak hal yang bisa didapat dari film ini kecuali bahwa waktu itu kejam kematian itu menyakitkan, hal2 yang sudah semestinya kita tahu.

not bad.

7/10