Blue is The Warmest Colour

December 19, 2013

Abdullatif Kechiche dengan kuasa yang dipunyainya sebagai sutradara, mengarahkan DOP untuk mengikuti keseharian Adele sampai hal-hal yang sedemikian tidak pentingnya. Tidur dengan mulut mangap, sarapan yang belepotan, hingga berkali naikin celana jinsnya yang sepertinya kegedean. Paras muka Adele pun berkali-kali di close-up, rambutnya yang berantakan, wajahnya yang tak bermake-up menjadi sasaran sorotan kamera sepanjang awal film. gerak gerik, tatapan mata, ekspresi muka Adele selalu jadi fokus utama film ini sekitar setengah jam awal (dan seterusnya). Membosankan? tenang, ini adalah cara sang sutradara memperkenalkan karakter utamanya, membuat penonton untuk mendalami lebih jauh tentang Adele, dan dengan semena-mena membuat penonton secara tidak sadar, menjadi Adele.

Sulit bagi saya untuk menghindari perasaan yang sama yang dirasakan Adele, perasaan bingung, meledak-ledak, ala abege terasa begitu nyata. Perasaan ditolak, dikucilkan, dihina yang dirasakan Adele ketika teman-temannya mengoloknya dengan kata lesbo turut membuat saya naik pitam. Saya ikut merasa deg-degan ketika pertama kali Adele melihat Emma, saya bisa merasakan jatuh cinta pada pandangan pertama-nya Adele terhadap Emma, rasanya persis ketika saya merasakan ada benih-benih cinta terhadap istri saya dahulu kala hahaha. Felt so real, so fuckn real. This movie delivers the feelings so magnificently, is magnificently really a word? i guess yeah.

And i dare to say this movie is not (just) about lesbian, this movie is all about love, passion, and lust. Kisah cinta Adele dan Emma sungguh berliku. Adele yang tadinya adalah heteroseksual biasa menyadari ada yang aneh yang terjadi di dirinya seketika dia bertatap mata dengan Emma di sebuah penyebrangan jalan. Pencariannya akan preferensi seksualnya menjadi jelas ketika dia bertemu kedua kalinya dengan Emma di sebuah bar lesbian. Walaupun dia tahu dia lesbian, tidak segampang itu mengakuinya. Keluarga dan teman-teman adalah hal-hal yang musti ia pertaruhkan. Setelah ia jadian ama Emma pun, tak serta merta semuanya menjadi mudah. Culture clash antara Emma yang seniman dan Adele yang guru TK terlihat sangat jomplang, terlihat dengan begitu jelas ketika adegan makan malam dengan keluarga dan kolega-kolega Emma. Naik turun hubungan mereka menjadi topik utama film ini.

Adele Exarchopoulus dan Lea Seydoux are very extraordinary, brave and convincing. Both are deliciously delivers the characters. Lihat adegan ketika mereka mau putus, anying itu emotional galore banget, amati adegan yang di restoran, ugh…perihnya menyayat, bok!. Walaupun Seydoux sudah bersumpah tidak akan pernah lagi mau maen di film-filmnya Kechiche, tak dapat dipungkiri ini adalah salah satu pencapaian tertingginya dalam hal akting. Pun halnya dengan Adele, walaupun dia aktris yang terbilang baru, keberaniannya sungguh jawara di film ini.

Banyak yang menjadikan “brutal and surgical display of so-called lesbian sex” sebagai alasan utama untuk menonton film ini, dan kekisruhan yang terjadi antara aktris dan sutradaranya juga disebut-sebut sebagai usaha membuat film ini populer. Namun semua itu tertutup dengan sempurna oleh pencapaian film ini, Palme d’or tidak akan diberikan secara serampangan, dan their believable intense love story and emotionally draining performance by both actress adalah alasan yang cukup kuat kenapa film ini sangat layak memenanginya, begitu juga memenangi hati anda.

5/5.

Advertisements

Ini film terakhir saga terpanjang abad ini, sayang aja kalau ndak ditulis reviewnya haha. Jadilah kita menemui sebuah film tanpa basa-basi lagi langsung aja memulai ceritanya tanpa repot2 lagi ngenalin cast di opening scene. Voldemort dah riang gembira hampir nyium Dumbledore eh ternyata cuman mo ngambil tongkat sihirnya, Elder Wand. Harry Potter termangu di depan makam Dobby trus masuk rumah Bill, ketemu kawan karib trus nodong Griphook buat masuk ke dalam Gringotts. Lolos dari Gringotts pake naga, balik deh ke Hogwarts buat nyari Horcrux trus perang terakhir. Tak banyak lagi yang bisa diceritakan film ini, sehingga sebelum film ini tayang saya sudah membayangkan David Yates benar-benar ingin habis-habisan di film ini, perang besar nan kolosal lagi epik serta digdaya dijanjikannya.

Percaya ama ucapan David Yates tentu saja, syirik.

Masih segar di ingatan saya ketika ini buku rilis tengah tahun 2007 lalu, saya tergopoh-gopoh ke Gramedia untuk melihat bukunya, gak beli sih, ga punya duit haha. Sebulan kemudian setelah punya duit baru beli, hihi. Membacanya cukup sulit, karna kali itulah pertama kali saya membeli novel berbahasa inggris dan berniat menamatkannya. Akhirnya tamat juga, membaca bab terakhir muka saya penuh kepuasan yang ganteng, cerita panjang nan melelahkan serta bertwist keren itu happy ending, suka saya. Sayangnya, scene terakhir film ini membuat jidat saya berkerut, tak puas, “errr” tak sengaja terucap, muka saya tetep…ganteng. Itulah perbedaan nyata apa yang saya rasakan, saya tak puas dengan adaptasinya, wabil khusus, film ini. Read the rest of this entry »

Guzaarish

November 27, 2010

First of all, untuk anda yang rewel dan hobi mengeneralisasikan sesuatu sehingga apabila melihat judul film india yang terlintas di pikiran hanyalah pertanyaan “ada nyanyi-nyanyi sambil joget-joget norak diiringi puluhan penari ala musikal Onrop gak di film ini” maka saya akan langsung menjawabnya di paragraf pertama ini khusus buat anda. Jawabannya adalah tidak ada. Memang disini juga ada nyanyian, tapi itu bukan nyanyian norak (ada yg bilang lagu Smile norak, gw gaplok!) dan What a Wonderful World jelaslah bukan lagu yg pantas disepelekan.

Lihat deh poster filmnya yang dipampang di Blitzmegaplex, kalau itu kejauhan untuk anda kalau musti kesana dulu, liat aja poster yang saya pasang di review ini. Walaupun dibintangi oleh mantan Miss World yang juga menantu Amitabh Bhatchan, Aishwarya Rai dan lawan main yang gak kalah terkenalnya, heartrob dunia perfilman India yang bernama Hritrik Roshan, Film ini justru tidak memasang nama mereka di posternya, tapi nama Sanjay Leela Banshali-lah yang dipasang persis diatas judul filmnya. Sang sutradara memang memliki nama yang harum di Bollywood, kesuksesannya menggarap adaptasi ketiga dari novela Devdas yang menjadi film termahal di India waktu itu, dan film sang pemecah rekor penghargaan filmfare (oscar-nya india) berjudul Black, menjadikan Bhansali menjadi seorang sutradara yang sangat disegani.

Mirip dengan Black, kecacatan menjadi premis yang diangkat oleh Bhansali di film ini, bedanya kalau di Black yang merupakan adaptasi A Miracle Worker itu karakternya tidak menyerah atas kekurangan yang ia miliki, di Guzaarish ini justru Ethan, karakter utamanya mengajukan permintaan Euthanasia kepada pengadilan India karna sudah tidak tahan dengan kelumpuhan yang ia alami selama 14 tahun terakhir. Euthanasia adalah permintaan untuk mengakhiri hidup diri sendiri a.k.a ijin bunuh diri. Pengadilan India yang selama ini sangat menolak hal itu terpaksa jadi sibuk karna yang meminta adalah mantan pesulap nomer satu negara itu yang segera menjadi perhatian media massa ketika permintaannya itu dilontarkan. Apalagi Ethan, melalui radio yang ia jalankan bersama Sofia, perawat setianya, berhasil meyakinkan para pendengarnya untuk mendukung permintaannya itu. belum lagi kemunculan ibu Ethan yang ternyata juga mendukungnya.

Melodrama yang sangat potensial menguras emosi, dengan scene-scene yang cukup berhasil menyampaikan dengan baik kegetiran yang dirasakan Ethan, serta pace yang boleh dibilang cukup cepat. Namun sayang hal itu banyak dirusak oleh humor komikal dan subplot yang sekedar lalu sahaja. Kemunculan awal Omar, anak muda yang ingin belajar sulap ama Ethan benar-benar membuat saya gelisah, guyonan yang disampaikan terasa sangat janggal dengan scene-scene muram sebelum2nya. Subplot yang mengungkapkan penyebab kecacatan yang dialami Ethan tidak terlalu berhasil menjadi sebuah twist menurut saya, bahkan bagian tersebut selain hanya lewat gitu doang tanpa ada pengembangan lebih lanjut, ia juga tak berpengaruh kepada keputusan Ethan yang menjadi fokus utama film ini. Dan kemunculan emak Ethan itu kok ya raasanya kurang wah ya.

Hritrik Roshan bermain sangat meyakinkan, tubuhnya yang selalu berisi dan berotot kekar di film2nya yang lain menjadi kurus disini, dan tampangnya yang berewokan itu semakin meyakinkan kalau ia adalah seorang pesakitan. ekspresinya juga juara, senyum semangat namun penuh kegetiran yang sesuai dengan tema film ini berhasil dia sampaikan lewat mimik mukanya. Aishwarya Rai kebanyakan pake tetes mata, hobi banget matanya merah dan menangis.

Jelas, menurut saya ini bukan pencapaian terbaik Bhansali, Black masih menduduki peringkat pertama film Bhansali yang paling keren menurut saya. tapi juga ini bukan yang terburuk, saya tentu saja lebih suka ini dibanding Saawariya.

6/10

Unstoppable

November 26, 2010

Film aksi yang berhasil menurut saya adalah film yang bisa membuat saya duduk dengan tegak, sesekali memajukan badan ke depan, membuat saya menahan nafas serta membuat pasangan brisik di samping juga terdiam. Unstoppable berhasil melakukan itu semua pada setengah bagian terakhirnya. Menegangkan dan menimbulkan perasaan was-was yang hebat. Perhatian saya benar-benar tertuju ke layar dan sejenak membuat saya melupakan sakit kepala yang saya alami sedari pagi tadi. Saya memang sangat suka film-film yang menegangkan begini, jauh lebih suka dibanding ketegangan yang diakibatkan oleh Emma Watson jika ia melakukan lap dance kepada saya. Dan yak, kalimat terakhir ini unsur bohongnya sungguh kentara.

Sesuai dengan apa yang saya bilang tadi, setengah terakhirlah yang membuat saya tegang (no ambiguity here!!), sedangkan setengah awalnya..yeah well, boring stuff kalau tak mau saya gunakan kata “tipikal”. Frank yang diperankan oleh Denzel Washington adalah masinis veteran yang hampir pensiun, dan Will yang dimainkan oleh Chris Pine adalah konduktor newbie yang ditugaskan barengan ama si Frank. Ini formula basi. Frank punya masalah dengan anak cewenya, karna lupa ulang tahun si cewe sehingga anaknya agak2 bete gitu deh ama dia. Will pun punya masalah dengan istrinya, temperamennya yang tinggi membuat ia diharuskan menjarak dari istri dan anaknya. Oh drama para tokoh utama ini juga adalah formula yang kuno untuk menarik simpati penonton. Jangan lupakan pemilik perusahaan kereta api yang egois, penduduk yang bandel, polisi yang selalu tanpo guno bla bla bla boring basi dan tipikal. Dan untunglah..setengah film terakhir, Tony Scott mengeluarkan kemampuan terbaiknya untuk membungkus ketegangan penyelamatan kereta api tanpa awak yang melaju kencang menuju kota penuh penduduk ini menjadi sebuah ajang penyelamatan yang memacu adrenalin.

Pengambilan kamera khas Scott yang cepat, aksi yang kotor, aerial view yang menarik dan tone warna yang segar membuat ketegangan film ini terasa lebih baru. Ples penempatan joke khas film-film yang dibintang Denzel selalu mengena di hati saya. Denzel adalah salah satu aktor yang penampilannya selalu membuat saya nyengir setiap dia mengeluarkan kesinisannya. Walaupun giginya yang rapi putih bersih terasa sangat aneh diantara teman2 masinisnya yang sepertinya kotor, Denzel lagi-lagi memberikan penampilan yang sangat baik. Dia terlihat begitu meyakinkan sebagai seorang masinis yang sudah mempunyai pengalaman 28 tahun. Pun dengan Chris Pine, wlo dia terlalu ganteng kyknya buat jadi penugas kondektur kereta api, dia bermain aman. Yang sangat tak meyakinkan paling si Rosario Dawson, walaupun dia sudah berusaha keras untuk panik namun tetap aja dia Rosario Dawson, tak cocok jadi kepala stasiun kereta api haha.

Film ini memang sangat tipikal, dua orang yang sama sekali bukan super human berusaha menyelamatkan sebuah kota dari kecelakaan hebat kereta api yang mungkin akan membakar habis manusia-manusia di sana. Tapi karna ia digarap oleh Tony Scott, suhu daripada film-film aksi, Unstoppable jadi sebuah film penyelamatan yang cukup bikin adrenalin terpacu. Apalagi ia dibintangi oleh Denzel Washington, film kelima ia bersama Tony Scott, tentunya ia bisa membawakan peran yang diinginkan Scott dengan sangat baik. Scene demi scene tersusun dengan rapi, pace-nya perlahan-lahan naik, dan aksinya setahap-demi setahap semakin intens. Its purely classic thriler motion picture about motion.

love it.

 

7/10

Director : Remy Belvaux;
Producer : Remy Belvaux, Andre Bonzel, Benoit Poelvoorde;
Screenplay : Remy Belvaux, Andre Bonzel, Benoit Poelvoorde, Vincent Tavier; Camera : Andre Bonzel

Cast : Benoit Poelvoorde, Remy Belvaux, Andre Bonzel, Jean-Marc Chenut, Alain Oppexxi, Vincent Tavier

“how can you design low cost housing project in total disregard for aestetics? i cant accept that i’m sorry, they thought of planting japanese cherry trees along the lanes in the style of english beach resorts, a truly grand idea but they didn’t follow through, thats the shame of it, it was purely cosmetic, just to dazzle them and people feel for it.”

Bukan, komentar diatas bukanlah diucapkan oleh mantan mahasiswa arsitektur seperti saya, bukan juga arsitek terkenal, tapi itu adalah komentar Benoit, yang akrab dipanggil Ben, seorang pria Belgia. Pria yang lucu, pintar, jago maen piano. Pria ini adalah kesayangan keluarga, perilakunya selalu menyenangkan keluarganya. Dia juga bisa bikin puisi, tentang sepasang merpati, dia juga suka menyanyi, suka mentraktir teman-temannya, dan pengetahuannya tentang banyak bidang sungguh membuat dia menjadi sosok yang sangat menyenangkan.

But he is a mass murderer

Disutradarai oleh Remy Belvaux, Andre Bonzel dan Benoit Poelvoorde, yang juga berposisi sebagai penulis, kameraman, produser sekaligus pemain dalam film ini. Diambil dengan handheld camera karena memang dimaksudkan sebagai film dokumenter, gambar hitam putih serta tanpa musik latar sama sekali – selain pas Ben bermain piano itu -, menjadikan dokumenter bohong-bohongan ini terasa sungguh nyata. Bercerita tentang 3 orang crew film yang mengikuti kegiatan sehari-hari serang pembunuh berantai yang bernama Ben (yang dimainkan oleh Benoit). Mereka mengikuti Ben berkunjung ke toko orang tua Ben, mewawancarai keluar Ben, diperlihatkan betaba Ben adalah seorang yang sangat disayangi keluarganya….dan kita, sebagai penonton, pun mulai menyukai karakter Ben ini.

Walaupun adegan pertama film ini sudah diperlihatkan adalah seorang pembunuh, seorang penumpang kereta api tak bersalah, dicekeknya ampe mati. Tapi bagaimana Ben bercerita bagaimana metode ia membuang mayat-mayat yang telah dibunuhnya kedalam sungai (penjelasan tentang perbandingan berat batu yang digunakan sebagai pemberat dengan usia korban) terasa cukup membuat kita mengagumi karakter Ben. Narsis, sangat percaya diri, talkactive, pintar dan punya banyak keahlian semakin membuat penonton sedikit mengacuhkan, kalau Ben ini adalah seorang pembunuh, bahkan secara tidak sadar, kita (well…saya mksdnya haha) “menikmati” pembunuhan2 yang dilakukan oleh Ben. Dari anak kecil hingga orang-orang biasa, tapi korban favoritnya adalah tukang pos.”I usually start the month with a postman,” katanya.

Lihat aja adegan setelah Ben berkomentar terhadap perumahan di paragraph atas, dia mendatangi sebuah rumah di rumah susun ini, disambut oleh seorang nenek, Ben berpura-pura ingin mewawancarainya dan voila..!!Nenek itu dibunuh dengan cara berteriak ke telinganya. Jujur, penjelasan Ben kenapa dia bisa membunuh hanya dengan berteriak sehingga bisa menghemat peluru, berhasil membuat saya kagum akan kepintarannya, sekaligus membuat perasaan benci kenapa dia tega membunuh nenek yang tidak bersalah, hilang begitu saja.

Tapi tentu saja kegiatan “menikmati” ini harus dihentikan, dan film ini memberikannya pada sebuah adegan dimana, Ben memperkosa dan membunuh secara sadis seorang wanita sekaligus suami wanita itu, bersama-sama dengan kru film yang mengikutinya..!!. Bagian ini tidak lucu lagi, Ben sudah sangat keterlaluan kali ini, ini terlampau jauh, sama halnya dengan kru film yang mengikuti Ben, mereka terlibat terlalu jauh kedalam kegiatan-kegiatan Ben. Scene ini benar-benar menjadi titik balik, saya menganggap itu keterlaluan, lah trus bagaimana dengan pembunuhan-pembunuhan sebelumnya..?mengapa saya tidak menganggapnya keterlaluan, padahal efeknya sama, nyawa seseorang dihilangkan disini.

Poin inilah yang sangat saya sukai dari film ini, berbeda dari film bunuh-membunuh lainnya yang kadang hanya memberikan pononton adegan-adegan membunuh yang “menyenangkan” tapi nilai lebihnya malah di bagian lain (storyline ato twist ato efek). Tapi film ini justru memperlihatkan kepada kita, betapa kejamnya sesuatu hal yang dianggap “menyenangkan” untuk dilihat itu. brilliant.

Selain itu, pada bagian cerita dimana Remy dan Andre, kru (fiksional) yang mengikuti kegiatan Ben mengakui kalau mereka dalam keadaan kekurangan dana untuk melanjutkan dokumenter ini, Ben pun dengan bermurah hati membantu memberikan sumbangan kepada kru film ini, dan semenjak itu, merekapun menjadi semacam kaki tangan Ben, dan yup…adegan pemerkosaan itu terjadi. Sungguh sebuah ironi, “mereka” yang seharusnya cuman merekam dan melaporkan kepada penonton apa yang yang sebenarnya terjadi, sekarang malah ikut campur terlalu dalam dalam sebuah kejahatan. Sounds familiar huh?hahahhaa

overall.
one of my favorite cult movie…all time!

9/10

Garuda di Dadaku

June 22, 2009

Setelah sempat keabisan tiket di dua bioskop sebelumnya (pejaten dan megaria) akhirnya saya bisa juga menonton ini film di KC. Pas beli tiket, sempat juga shock dan lemah syahwat sesaat ketika melihat sebuah poster film yang naga2nya adalah film komedi selangkangan, berjudul “mau dong ah” klo ga salah…dan pas liat creditnya, ternyata benar dugaan saya..k k dheeraj, makhluk satu ini sudah siap bikin manusia indonesia semakin tambah bodoh…lagi. Pengen rasanya memberikan kutukan Lamia kepada benda bernama Dheeraj dan kroni2nya itu. Untungnya disekitaran saya malam itu penuh ama abg-abg muda nan ranum dan menggiurkan…jadinya itu yg tadi sempat lemah, jadi kuat lagi huhahahaha saru ah stop.

ok kembali ke film.
Secara kebetulan, 2 film indonesia terakhir yang saya tonton bercerita tentang sepakbola, sebelumnya yang saya tonton adalah Romeo dan Juliet. Kalo RoJul lebih bercerita tentang kisah cinta yang terjebak fanatisme sepakbola, maka Garuda di Dadaku lebih kepada rasa nasionalisme dan mewujudkan mimpi yang ditunjukkan dengan sepakbola. Dan dengan menggunakan tokoh utama anak berumur 12 tahun, maka film ini menjadi semacam kampanye penanaman rasa nasionalisme sejak dini buat anak-anak. Dan ini sangat hebat…anak-anak butuh film kyk gini, mereka butuh diberikan nutrisi nasionalisme kyk ini, mewujudkan mimpi dan cita-cita sembari menunjukkan kecintaan kepada negara. So, buat teman-teman, ibu-ibu bapak-bapak siapa yang punya anak tolong akyuuu…argghh damn!! mksdnya tolong anaknya diajak nonton ini film.

Bayu, seorang anak yatim berambut hitam tebal yang sepertinya dibiarin panjang demi placement product laipboi, adalah anak yang tergila2 ama sepakbola. Dia tinggal bersama ibunya yang baru kena phk dan sedang ikut program mlm, dan seorang kakek yang merupakan pensiunan pertamina (ini termasuk iklan apa ttg nasionalisme juga ya?). 2 orang ini sangatlah sayang kepada Bayu, terutama sang kakek, saking sayangnya, dia merasa lebih tau apa yang terbaik buat Bayu dan rela menarik semua uang pensiunnya hanya untuk membayar uang les lukis untuk bayu di sanggar lukis ternama. Akan tetapi…dikeranakan kenangan masa lalu tentang ayah Bayu yang hidupnya ga terjamin gara-gara jadi pemain bola, si Kakek sangat menentang impian Bayu untuk maen sepakbola, bahkan menonton acara tentang bola aja tidak boleh. Jadilah si Bayu musti selalu sembunyi-sembunyi kalau lagi pengen maen bola, memanjat jendela dan selalu berbohong kepada kakeknya kalau ditanya.

Beruntung Bayu punya teman seperti Heri, anak yang sepertinya kelebihan semangat ini sangat mendukung impian Bayu untuk jadi pesepakbola, karna dia sendiri adalah seorang maniak bola yang tidak kalah dari Bayu, dia menyukai klub paling cool sedunia (Go Gunner!!!no offence…tabok ntar..haha), kamarnya dipenuhi poster Arsenal berukuran raksasa, njrit bikin iri aja. Dan dari si Heri inilah Bayu mendapat informasi tentang bakal adanya seleksi timnas U-13. Bayu yang memang sedari dulu sangat mencintai klub nasional (mengoleksi foto2 timnas, menggambar lambang garuda di kaosnya) langsung mempunyai ambisi untuk menjadi bagian dari timnas U-13. dan untuk mewujudkan hal itu dia musti masuk sekolah sepakbola (SSI Arsenal dong!!huahha), dan kebetulan bakat Bayu sudah terdeteksi oleh salah seorang pelatih SSI, dan lgsg mengundang Bayu untuk masuk ke sekolah itu. Semua kelihatan begitu lancar tapi ada halangan terbesar yang musti ia lewati ; Kakeknya sendiri.

Dan dimulailah Bayu musti mempersiapkan segalanya, maen akal2an ama kakeknya, mencuri waktu untuk latihan bola, mencari lapangan kosong untuk latihan, pada poin ini saya kira filmnya akan begitu2 aja…tapi pertemuan Bayu dan Heri dengan karakter Zahra, anak penunggu areal kuburan tempat Bayu berlatih, menjadikan film ini semakin menarik, bagaimana pertemanan ketiga anak itu ditambah bang Dullah, supir pribadi Heri, menjadikan film ini menjadi lebih segar dan lucu tapi tak berlebihan serta tidak kehilangan pesan moralnya.

Para pemain dengan sangat baik memerankan tokoh masing2, Bayu yang sangat mencintai sepakbola tapi juga sangat manyayangi kakeknya hampir saja membuat saya menangis ketika jantung kakeknya kumat waktu tau Bayu ternyata diam2 masuk sekolah bola dan akhirnya musti masuk rumah sakit, bagaimana Bayu menangis memanggil kakeknya trus memeluk ibunya….sungguh adegan yang menyentuh. great job. Si kakek yang diperankan oleh Ikranegara yang dulu bermain apik di Laskar Pelangi, sekarang juga bermain dengan hebat, sosok kakek yang sangat sayang ama cucunya tapi benci ama sepakbola sehingga membuat dia sedikit bersikap otoriter terhadap masa depan cucunya itu dibawakan dengan sangat pas. Heri juga…anak bersemangat ini dengan baik bisa menjadi semacam pelatih dan manager serta motivator buat Bayu, tapi begitu kejadian kolapsnya kakek Bayu, Heri berhasil menunjukkan rasa sangat bersalah, sekaligus menjadi takut kehilangan “pemain”nya…terutama, kehilangan temannya. “aku ini cuman punya semangat” katanya…quote yang cukup menohok.

Sungguh, film ini mempunyai banyak pesan moral yang bagus buat anak-anak seusia saya (hihi), tentang nasionalisme, tentang menggapai mimpi, tentang sikap jujur, tentang persahabatan, semua disampaikan dengan cukup kalem, tidak menceramahi, apalagi sampai baca puisi kyk film dari negara bagian Utara benua Afrika nun jauh di sana. Pekerjaan sangat hebat telah dilakukan Ifa, si sutradara yang katanya abis nuntut ilmu film di korea (asik bgt pasti…ketemu ama artis2 cewe korea nan lucu dan imutnya naudzubilla hahaha). Film-film seperti inilah yang musti diperbanyak oleh sineas indonesia, bukannya komedi esek2 menjijikkan ato hantu lucu yang tiada mutu.

Dan melodi gitar nan mantap dari Coki, dentuman drum khas Eno serta cabikan bas Bagus menutup film ini dengan sempurna, ga bisa saya beranjak dari tempat duduk sebelum ini lagu berakhir…damn i love Netral!.

salah satu summer movie nan sangat berkesan
7/10

Star Trek

June 10, 2009

Starring: Chris Pine, Zachary Quinto, Eric Bana, Bruce Greenwood, Karl Urban, Zoe Saldana, Simon Pegg, John Cho, Anton Yelchin, Ben Cross, Winona Ryder, Leonard Nimoy, Chris Hemsworth
Director: J.J. Abrams
Screenwriter: Alex Kurtzman, Roberto Orci

Wants to be a Trekker

Begitu tulis seorang teman di status fesbuknya sekitar sebulan yang lalu, segera setelah ia menyaksikan ini film yang kebetulan ditayangkan lebih awal di negara tetangga tempat ia berdomisili, Malaysia. Negara kita tercinta, tentu saja, terlambat menayangkannya (terkutuklah siapapun penyebab ini semua). Well…dari status teman saya itu dapat saya tangkap betapa sukanya teman saya ama film ini, hal ini dapat dimaklumi karna dia adalah maniak film fiksi ilmiah macam ini, pokoknya yang ada alien2nya dia hobi dah…haha, nah klo saya…Indiana Jones yg terakhir aja saya agak geli ngeliatnya..haha. So…saya yang pada awalnya ga terlalu berharap banyak ama cerita fiksi ilmiah di film ini, yang saya tunggu hanyalah aksi, dan penampilan para aktor, dan musik dan kapal angkasa nan besar, justru dibikin terpesona oleh cerita tentang makhluk asing dari beragam dunia di film ini.

Bahkan kalau boleh dibilang, inilah cerita yang menyinggung masalah luar angkasa, alien dsb..yang paling masuk akal buat saya. Teori2nya dijabarkan lebih sederhana dan akhirnya bisa diterima otak berkarat milik saya, “alien2″nya juga tidak terlalu bombastis sperti film2 lain. Dan yang paling penting, struktur ceritanya lebih sederhana namun tetap kuat, hanya terdiri dari 3 segmen utama…pengenalan tokoh, yang diteruskan oleh first encounter with Nero dan selanjutnya adalah final battle, dan semuanya itu diceritakan dengan kompleks dan baik dengan plot utama yang kokoh, yakni tentang balas dendam.

James T Kirk (Chris Pine), anak muda nan cerdas namun berandalan, memutuskan bergabung dengan Starfleet setelah ditantang oleh Captain Pike untuk mengikuti jejak ayahnya. 3 tahun berlalu, sebuah sinyal bahaya datang dari planet Vulcan, planet kelahiran dari Spock (Zachary Quinto), kru terbaik Starship Enterprise yang dikepalai oleh Captain Pike. Namun setelah mendekati planet Vulcan, ternyata telah menunggu sebuah kapal angkasa milik Nero, orang yang telah membunuh ayah Kirk, Nero sedang dalam proses menghancurkan Vulkan, untuk membalas dendam karna dia menganggap Federasi telah membiarkan planet kelahirannya, Romulus, hancur. Dan dalam usaha untuk menghentikan Nero menghancurkan planet selanjutnya yaitu Bumi, Kirk dan Spock harus segera memenuhi “takdir” mereka masing2 yaitu sebagai pemimpin di Enterprise, dan sebagai teman sejati.

Yep…Kirk dan Spock adalah karakter utama dari film ini, dua orang yang mempunyai sifat sangat bertolak belakang, yang satu emosional yang satu logis, yang satu percaya insting yang satu sangat rasional, yang satu bertindak karna merasa benar yang satu karna merasa layak. Diantara perbedaan yang kontras inilah hubungan pertemanan mereka dibangun, yang tentu saja tidak gampang karna kedua2nya sama2 keras kepala, dan tidak mau mencari jalan tengah.

Dan thx god Chris Pine tidak menghancurkan film ini, sebagai seorang lulusan film drama remaja remeh temeh macam Blind Dating, dia boleh dibilang sangat berhasil membawakan karakter klise anak muda bermasalah dengan takdir besar menantinya tanpa harus menjadi karakter kacangan. Bagaimana ia membawakan sikap sombong dan congkak serta banyak omong menurut saya sangat baik, ga berlebihan dan menyenangkan. Dan Zachary Quinto juga…brilliant..!!, dia membawakan karakter tanpa emosi, yang disembunyikannya dibalik dinginnya penampilannya, dibalik ekspresi mukanya yang kaku, tapi tanpa musti menjadi seperti seorang robot!!. Begitu juga dengan pemain lain macam Anton Yelchin sebagai anak rusia yang cerdas tapi ga bisa menghilangkan logat rusianya, atau juga Karl Urban, bahkan Eric Bana sebagai Nero pun sangat meyakinkan. Bahkan Leonard Nimoy, si pemeran Spock di startrek jadul, tampil disini bukanlah hanya sekedar pemanis, ato cameo ga fungsi…tapi justru sebagai salah satu karakter paling penting di film ini.

Dan Simon Pegg dan John Cho yang dulunya saya pikir akan merusak film drama fiksi ilmiah ini mengingat mereka adalah komedian, justru malah membuat “rame” film ini, terutama Simon Pegg, yang dengan dialek khas inggrisnya, dia sangat sangat pantas menjadi Scotty yang dalam skenarionya adalah seorang Scotland, coba saja bayangkan kalau pemeran Scotty adalah Vinnie Jones, bayangkan ia yang berteriak “i love this ship…this is exciting” dengan mata membulat dan nyengir kesenengan, sungguh akan membuat adegan itu menjadi sangat konyol dan tidak nyambung.

Drama aksi yang berat, dicampur dengan kelucuan serta klise-klise tapi dengan porsi yang sangat tepat dan tidak berlebihan, menjadikan film ini hampir sempurna. yap hampir…karna menurut saya masih ada hal2 kecil yang membuat saya agak kesal ama script film ini seperti ketika kenapa malah menteleportasi Kirk dan Scotty ke deretan pipa2 besar yang sempit ketimbang langsung ke deck tempat ruang kendali utama??…oh saya tau, itu agar mereka ditangkap dan memberikan kesempatan si gendut itu untuk ngmg “cupcakes”, jujur ini maksa menurutku..hahaha. Tapi tentunya hal2 kecil macam itu bisa segera saya lupakan karna adegan selanjutnya menurut saya sangat mantap. Kirk memprovokasi Spock, cool scene.

Dengan tema luar angkasa seperti ini, segera saja film ini bisa menjadi sebuah film besar dengan ribuan efek grafis nan dahsyat namun dengan karakter dan cerita yang bodoh, tapi J.J. Abrams dengan hebat memberikan cerita yang sungguh meyakinkan dengan pengembangan karakter yang bagus. Penggambaran lansekap bumi yang masih indah dan hijau, serta jembatan Golden Gate yang masih utuh, sungguh membuat hati tentram, karna kebanyakan film dgn tema masa depan seperti ini, bumi digambarin ancur2an mulu…haha.

akhir kata, saya agak ga setuju ama status teman saya diatas…
saya ga mau jadi sekedar Trekker my dear kribo friend…
saya mau jadi kru Enterprise..!!!
huahaha

9,5/10