Terpaksa bengong selama hampir 2 jam, mengutuk tante-tante disamping kanan yang datang bersama brondongnya karna sok tau mencoba menganalaisa hubungan gede stage dengan kualitas sound, mensinisi dalam hati beberapa mbak yang make bando devil nyala-nyala yang mungkin menurut mereka berhasil membuat mereka jadi imut padahal jadi amit salah konser lo woi najis, atau ingin menampar ibu 3 anak di depan saya yang dengan entengnya kipas-kipas hingga bau parfumnya yang tajam langsung bikin saya mual adalah beberapa hal tentang nonton sendirian yang tidak saya suka, ditambah lagi sinyal di GBK yang sangat tidak bersahabat sempat membuat saya ingin rasanya pulang saja tadi itu yang untungnya tidaklah jadi saya lakukan.

Karena sebuah video tentang para fans LP diputarkan, para personil LP mulai menampakkan diri, stadion mulai gelap, dan intro sebuah lagu ditampilkan.

Tepat dugaan dan harapan saya beberapa jam sebelum konser dimulai, Papercut adalah pilihan mereka untuk dijadikan lagu pembuka (Fallout ga saya itung, karna instrumetal gitu doang :D). Lagu yang sangat tepat untuk dijadikan pembuka, intro yang catchy dan beat yang asik seketika berhasil memuat saya melupakan kegalauan karna nonton konser ini sendirian. Tak peduli saya sudah dengan sekitar, saya loncat dengan girang dan bernyanyi dengan senang. Namun belum all out tentu saja, saya menyimpan tenaga dan suara untuk beberapa lagu favorit saya lainnya.

Read the rest of this entry »

Cold Fish

August 12, 2011

Tuan Murata adalah orang yang sangat ramah, ia seorang pedagang ikan air tawar yang sukses di kotanya. Pada suatu malam ia menyelamatkan seorang gadis perempuan yang ketauan ngutil di supermarket terdekat. Dengan pengaruh nama baiknya, ia membantu membebaskan gadis itu, dan bersama orang tua gadis itu, Murata mengundang mereka untuk berkunjung ke toko ikannya, kebetulan…ayah sang gadis yang bernama Shamoto adalah juga seorang pedagang ikan. Murata sangatlah baik, ia mau memperkerjakan si gadis bengal tersebut di tokonya. Pun kepada ayah gadis tersebut ia mengajarkan pelajaran yang sangat berharga, yaitu cara menghilangkan orang. Pertama tentu saja setelah memotong-motong bagian tubuh orang yang sudah dibunuh, pisahkan daging dari belulangnya. Tulang dibakar dan abunya buang di tengah hutan, sedangkan daging dicincang kecil (jangan sampai lebih besar daripada nugget kata Murata) untuk kemudian dijadingan pangan ikan di sebuah sungai.

Bahkan saking baiknya, Murata membolehkan bahkan memaksa Shamoto untuk bercinta dengan istrinya yang bernama Aiko, di mobilnya.

Sion Sono kembali dengan tema yang menjadi andalannya dalam bercerita, keluarga, sex dan kekuatan pemberontakan yang terpendam. Kita dikenalkan dengan karakter Shamoto yang pemalu, pengecut, cengeng, pendiam dan gugupan. Dia tidak bisa mengendalikan anaknya yang lebih memilih pergi dengan pacarnya daripada makan malam bersama keluarga. Dia juga tidak bisa berbuat apa-apa ketika istrinya menolaknya ketika ia ingin bercinta. Kepengecutan ini semakin menjadi-jadi sehingga akhirnya menjebaknya untuk bekerja sama dan membantu Murata melakukan kejahatan. Bekerja sama dengan manusia bertabiat setan tentu saja ada harga yang harus dibayar. Read the rest of this entry »

HipHopDiningrat

December 2, 2010

Ini adalah film pertama di gelaran Jiffest 2010 yang saya tonton, dan melihat perkembangan terakhir, mungkin ini juga jadi yang terakhir. Padahal banyak banget yg ingin saya tonton, tapi diskriminasi penjualan tiket membuat saya kehabisan tiket. Ya sudahlah, walau Jiffest sudah tidak begitu ramah terhadap saya, setidaknya saya masih berkesempatan menonton satu film yang benar-benar membuat saya penasaran, film yang harusnya invitation only ini bisa saya tonton gegara menang kuis @bicarafilm di twitter, lewat cara apalagi coba orang biasa seperti saya bisa menonton film di gelaran festival film eksklusif ini selain ikut kuis, haha.

Menghabiskan masa kuliah selama 5 tahun di jogja benar-benar membuat saya jatuh cinta akan banyak hal disana, terutama bidang seni. Acara teater, tari, musik adalah acara-acara yang paling banyak saya datangin selama di jogja. Mendatangi acara-acara begitulah saya berkenalan dengan grup rap bernama Rotra, Jahanam, Kill The DJ, dll. Dan pas gelaran Jagongan Wagen 2008-lah saya jadi benar-benar melihat mereka dari dekat dan menjadi suka atas apa yang mereka suguhkan. Mereka semua tergabung dalam Jogja Hip Hop Foundation, dan film ini adalah tentang mereka. Read the rest of this entry »

Star Trek

June 10, 2009

Starring: Chris Pine, Zachary Quinto, Eric Bana, Bruce Greenwood, Karl Urban, Zoe Saldana, Simon Pegg, John Cho, Anton Yelchin, Ben Cross, Winona Ryder, Leonard Nimoy, Chris Hemsworth
Director: J.J. Abrams
Screenwriter: Alex Kurtzman, Roberto Orci

Wants to be a Trekker

Begitu tulis seorang teman di status fesbuknya sekitar sebulan yang lalu, segera setelah ia menyaksikan ini film yang kebetulan ditayangkan lebih awal di negara tetangga tempat ia berdomisili, Malaysia. Negara kita tercinta, tentu saja, terlambat menayangkannya (terkutuklah siapapun penyebab ini semua). Well…dari status teman saya itu dapat saya tangkap betapa sukanya teman saya ama film ini, hal ini dapat dimaklumi karna dia adalah maniak film fiksi ilmiah macam ini, pokoknya yang ada alien2nya dia hobi dah…haha, nah klo saya…Indiana Jones yg terakhir aja saya agak geli ngeliatnya..haha. So…saya yang pada awalnya ga terlalu berharap banyak ama cerita fiksi ilmiah di film ini, yang saya tunggu hanyalah aksi, dan penampilan para aktor, dan musik dan kapal angkasa nan besar, justru dibikin terpesona oleh cerita tentang makhluk asing dari beragam dunia di film ini.

Bahkan kalau boleh dibilang, inilah cerita yang menyinggung masalah luar angkasa, alien dsb..yang paling masuk akal buat saya. Teori2nya dijabarkan lebih sederhana dan akhirnya bisa diterima otak berkarat milik saya, “alien2″nya juga tidak terlalu bombastis sperti film2 lain. Dan yang paling penting, struktur ceritanya lebih sederhana namun tetap kuat, hanya terdiri dari 3 segmen utama…pengenalan tokoh, yang diteruskan oleh first encounter with Nero dan selanjutnya adalah final battle, dan semuanya itu diceritakan dengan kompleks dan baik dengan plot utama yang kokoh, yakni tentang balas dendam.

James T Kirk (Chris Pine), anak muda nan cerdas namun berandalan, memutuskan bergabung dengan Starfleet setelah ditantang oleh Captain Pike untuk mengikuti jejak ayahnya. 3 tahun berlalu, sebuah sinyal bahaya datang dari planet Vulcan, planet kelahiran dari Spock (Zachary Quinto), kru terbaik Starship Enterprise yang dikepalai oleh Captain Pike. Namun setelah mendekati planet Vulcan, ternyata telah menunggu sebuah kapal angkasa milik Nero, orang yang telah membunuh ayah Kirk, Nero sedang dalam proses menghancurkan Vulkan, untuk membalas dendam karna dia menganggap Federasi telah membiarkan planet kelahirannya, Romulus, hancur. Dan dalam usaha untuk menghentikan Nero menghancurkan planet selanjutnya yaitu Bumi, Kirk dan Spock harus segera memenuhi “takdir” mereka masing2 yaitu sebagai pemimpin di Enterprise, dan sebagai teman sejati.

Yep…Kirk dan Spock adalah karakter utama dari film ini, dua orang yang mempunyai sifat sangat bertolak belakang, yang satu emosional yang satu logis, yang satu percaya insting yang satu sangat rasional, yang satu bertindak karna merasa benar yang satu karna merasa layak. Diantara perbedaan yang kontras inilah hubungan pertemanan mereka dibangun, yang tentu saja tidak gampang karna kedua2nya sama2 keras kepala, dan tidak mau mencari jalan tengah.

Dan thx god Chris Pine tidak menghancurkan film ini, sebagai seorang lulusan film drama remaja remeh temeh macam Blind Dating, dia boleh dibilang sangat berhasil membawakan karakter klise anak muda bermasalah dengan takdir besar menantinya tanpa harus menjadi karakter kacangan. Bagaimana ia membawakan sikap sombong dan congkak serta banyak omong menurut saya sangat baik, ga berlebihan dan menyenangkan. Dan Zachary Quinto juga…brilliant..!!, dia membawakan karakter tanpa emosi, yang disembunyikannya dibalik dinginnya penampilannya, dibalik ekspresi mukanya yang kaku, tapi tanpa musti menjadi seperti seorang robot!!. Begitu juga dengan pemain lain macam Anton Yelchin sebagai anak rusia yang cerdas tapi ga bisa menghilangkan logat rusianya, atau juga Karl Urban, bahkan Eric Bana sebagai Nero pun sangat meyakinkan. Bahkan Leonard Nimoy, si pemeran Spock di startrek jadul, tampil disini bukanlah hanya sekedar pemanis, ato cameo ga fungsi…tapi justru sebagai salah satu karakter paling penting di film ini.

Dan Simon Pegg dan John Cho yang dulunya saya pikir akan merusak film drama fiksi ilmiah ini mengingat mereka adalah komedian, justru malah membuat “rame” film ini, terutama Simon Pegg, yang dengan dialek khas inggrisnya, dia sangat sangat pantas menjadi Scotty yang dalam skenarionya adalah seorang Scotland, coba saja bayangkan kalau pemeran Scotty adalah Vinnie Jones, bayangkan ia yang berteriak “i love this ship…this is exciting” dengan mata membulat dan nyengir kesenengan, sungguh akan membuat adegan itu menjadi sangat konyol dan tidak nyambung.

Drama aksi yang berat, dicampur dengan kelucuan serta klise-klise tapi dengan porsi yang sangat tepat dan tidak berlebihan, menjadikan film ini hampir sempurna. yap hampir…karna menurut saya masih ada hal2 kecil yang membuat saya agak kesal ama script film ini seperti ketika kenapa malah menteleportasi Kirk dan Scotty ke deretan pipa2 besar yang sempit ketimbang langsung ke deck tempat ruang kendali utama??…oh saya tau, itu agar mereka ditangkap dan memberikan kesempatan si gendut itu untuk ngmg “cupcakes”, jujur ini maksa menurutku..hahaha. Tapi tentunya hal2 kecil macam itu bisa segera saya lupakan karna adegan selanjutnya menurut saya sangat mantap. Kirk memprovokasi Spock, cool scene.

Dengan tema luar angkasa seperti ini, segera saja film ini bisa menjadi sebuah film besar dengan ribuan efek grafis nan dahsyat namun dengan karakter dan cerita yang bodoh, tapi J.J. Abrams dengan hebat memberikan cerita yang sungguh meyakinkan dengan pengembangan karakter yang bagus. Penggambaran lansekap bumi yang masih indah dan hijau, serta jembatan Golden Gate yang masih utuh, sungguh membuat hati tentram, karna kebanyakan film dgn tema masa depan seperti ini, bumi digambarin ancur2an mulu…haha.

akhir kata, saya agak ga setuju ama status teman saya diatas…
saya ga mau jadi sekedar Trekker my dear kribo friend…
saya mau jadi kru Enterprise..!!!
huahaha

9,5/10

Okuribito (Departures)

May 26, 2009

Director: Yojiro Takita
Cast: Masahiro Motoki, Tsutomu Yamazaki, Ryoko Hirosue, Kazuko Yoshiyuki

Cukup terbakar emosi rasanya ketika teman saya bbrp hari yg lalu bercerita kalau dalam perjalanan pulangnya dari Paris, dia menonton banyak film di pesawat, dan salah satunya adalah film ini. Dia yang selama ini selalu bertanya kepada saya apa aja film2 yang bagus dan layak ditonton, sekarang malah mendahului saya menonton film yang sejak beberapa bulan lalu saya incar ini. Sungguh tidak sopan. hahahaha. So, karna para pembajak dvd andalan saya sepertinya juga masih belum bergerak sebagaimana mustinya, hari kemaren saya fokuskan untuk mendonlot ini film, men-set bittorrent di kecepatan maksimal, men-stop donlotan film lain (yg ternyata ada 20an lebih..haha) agar bandwidth terkonsentrasi ke donlotan film ini. Bisa saya dengar makian dan keluhan orang2 di ruang belakang tentang betapa lemotnya wifi sore kmrn, saya tentu diam saja karna saya tau, bittorent saya menyedot bandwidth satu kantor ini…hahahahaha.*maapkan aku teman-teman 🙂

Okeh kembali ke film, alasan kenapa saya sangat penasaran ama ini film tidak lain adalah karena dengan secara mengejutkan, film ini berhasil meraih penghargaan Best Foreign Language Film di pegelaran Oscar kmrn, mengalahkan favorit banyak umat (dan saya juga) yakni The Class dan Waltz With Bashir (dua2nya saya kasih ponten 9,5), dan nominasi lain seperti Revanche (8,5/10) yg dari Austria maupun The Baader Meinhof Complex (belum saya tonton) dari Jerman. Film yang sebelumnya tidak dikenal siapa2 ini (okeh ini hiperbol) tiba2 muncul sebagai pemenang…musti ada sesuatu di film ini.

Dan saya tontonlah.

Kematian, hal yang sangat saya benci sekaligus paling saya tunggu ini adalah tema utama film asal jepang ini. Hubungkan saja, film asia,kematian, mayat, peti mati..pasti yang pertama kali terlintas adalah film hantu khas asia. Tapi ini tidak. Ini adalah film drama serius, drama yang bercerita tentang emosi, drama yang kaya akan metaphor2 tentang hidup dan kematian, ditambah dengan akting yang bagus dan visual nan mantap, klop sudah jadi pilihan terbaik buat para juri Oscar.

Diceritakan dari sudut pandang seorang pria bernama Daigo, pemain cello sebuah orchestra di Tokyo, yang menjadi pengangguran ketika kelompok orkestranya dibubarkan oleh pemilik karna sudah tidak laku lagi. Daigo dan istrinya Mika memutuskan untuk kembali ke kota asal Daigo, dan menempati rumah peninggalan ibunya yang sudah meninggal 2 tahun lalu. Disana Daigo bernostalgia dengan masa lalunya, tentang bagaimana ibunya membesarkan dirinya sendirian dengan membuka cafe karna ayahnya sudah meninggalkan mereka, lari dengan wanita lain, kenangan yang pahit buat dia. Di kota ini Daigo mencari pekerjaan, dari sebuah surat kabar dia melihat sebuah iklan dari NK Agency, yang pada awalnya dia kira adalah perusahaan travel.

Tapi ternyata NK adalah singkatan dari Nokan, ato encoffinment atau diterjemahin dalam bahasa indonesia adalah sebuah proses penyelenggaraan mayat, mulai dari membersihkan mayatnya, mengeluarkan kotoran2 di lubang2, memasang baju yang terbaik sampai mendandaninya, hal ini bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada keluarga yang ditinggalkan untuk menyampaikan salam terakhir kepada si mayat dan mereka bisa melihat penampilan tercantik dari orang yg mereka cintai itu. Dan karna gajinya yang besar, mulailah Daigo bekera di kantor ini.

Saya sendiri kurang paham budaya jepang, tapi sepertinya budaya ini sudah sangat wajar di jepang. Dan karna saya kurang paham juga, saya jadi heran kenapa profesi yang dijalanin Daigo dan bosnya, dipandang rendah ama kebanyakan orang, seperti halnya teman masa kecilnya, yang bahkan tidak mau menegur sapa Daigo hanya karna mengetahui profesi Daigo, dan yang paling parah adalah ketika Mika, istrinya sendiri memutuskan untuk meninggalkannya karna hal itu. Dilema dihadapi oleh Daigo.

Penampilan full orchestra chorus Ode to Joy dari Symphony no 9-nya Beethoven pada awal film sangat menyenangkan, tapi proses penyelanggaraan mayat yang dilakukan Daigo jauh lebih keren. Anggun, sederhana, rapi, dan cepat tapi hasilnya mantap, ditambah dengan tiadanya musik latar, membuat saya menahan nafas menonton scene itu, sungguh hebat. sungguh sangat hebat. Mungkin kalau semua adegan di film sehening ini, sedalam ini, semenyentuh ketika keluarga si mayat melihat hasil pekerjaan si Daigo (2 kali saya sukses mengeluarkan air mata..i hate death/funeral scene with deep emotions!!), film ini bakal saya setujui sebagai film terbaik diantara nominasi yang lain. Tapi guyonan jayus yang aneh, ekspresi lebay, terutama pas kaget, daripada para pemeran film ini (hal yg sepertinya selalu ada di film jepang), cukup mengurangi penilaian saya. Jadi kesimpulannya, ini film yang hebat, sangat hebat, tapi kalau boleh milih, cerita tentang sebuah kelas smp di prancis lebih berkelas dibanding ini. saya tetap lebih suka The Class.(liat review saya sebelumnya)

dan Ryoko Hirosue
omg Ryoko Hirosue, yang berperan sebagai Mika, aktris yang pada jaman saya kuliah dulu mendominasi wallpaper komputer saya (bersaing dengan Mika Nakashima dan foto saya) masih aja terlihat cakep di film ini, padahal sudah melewati masa2 emas aktris jepang, senyumnya yg manis, lucu, ples gigi gingsul dan rambut yang pendek itu omg cakep dan imut. Andaikan saja ia mau menjadi istri kedua saya…hahahahha.

8/10

baik itu nyari dvdnya
ato pun donlot…hahaha

Palme d’Or, 2009
DAS WEISSE BAND (THE WHITE RIBBON)
Director : Michael Haneke


A village in Protestant northern Germany.
1913-1914. On the eve of World War I.
The story of the children and teenagers of a choir run by the village schoolteacher, and their families: the baron, the steward, the pastor, the doctor, the midwife, the tenant farmers.
Strange accidents occur and gradually take on the character of a punishment ritual.
Who is behind it all?

Grand Prix, 2009
UN PROPHETE (A PROPHET)
Director : Jacques Audiard

Condemned to six years in prison, Malik El Djebena cannot read nor write. Arriving at the jail entirely alone, he appears younger and more fragile than the other convicts. He is 19 years old. Cornered by the leader of the Corsican gang who rules the prison, he is given a number of “missions” to carry out, toughening him up and gaining the gang leader’s confidence in the process.
But Malik is brave and a fast learner, daring to secretly develop his own plans…

Jury Prize Ex-aequo, 2009
FISH TANK
Director : Andrea Arnold

Fifteen year old Mia’s life is turned on its head when her Mum brings home a new boyfriend.

Jury Prize Ex-aequo, 2009
BAK-JWI (THIRST)
Director : Park Chan-wook

Sang-hyun is a beloved and admired priest in a small town, who devotedly serves at a local hospital.
He goes to Africa to volunteer as a test subject in an experiment to find a vaccine to the new deadly infectious disease
caused by Emmanuel Virus (E.V.). During the experiment, he is infected by the E.V. and dies.
But transfusion of some unidentified blood miraculously brings him back to life, and unbeknownst to him, it has also turned him into a vampire.
After his return home, news of Sang-hyun’s recovery from E.V. spreads and people start believing he has the gift of healing and flock to receive his prayers.
From those who come to him, Sang-hyun meets a childhood friend named Kang-woo and his wife Tae-ju. Sang-hyun is immediately drawn to Tae-ju.
Tae-ju gets attracted to Sang-hyun, who now realizes he has turned into a vampire, and they begin a secret love affair.
Sang-hyun asks Tae-ju to run away with him but she turns him down. Instead, she tries to involve Sang-hyun in a plot to kill Kang-woo…

Starring: François Begaudeau, Nassim Amrabt, Laura Baquela, Cherif Bounaidja Rachedi, Juliette Demaille, Dalla Doucoure, Arthur Fogel, Vincent Caire, Olivier Dupeyron, Patrick Dureuil
Director: Laurent Cantet
Screenwriter: Laurent Cantet, François Begaudeau, Robin Campillo

Saat ini sampai hari minggu ntar di Cannes, Prancis, sedang berlangsung Festival Film Cannes, saya..karna sesuatu hal, berhalangan menghadirinya (huahahha). Oleh karenanya saya merayakan festival ini dengan cara saya sendiri, menonton film yang menang Palme d’Or tahun lalu di kamar, sendirian, ditemani segelas coklat panas, sebungkus chitato besar dan hanya memakai kolor, sungguh nikmat.

Laurent Cantet, si sutradara dan Robin Champillo si penulis naskah, mengadaptasi novel semi-autobiography yang sedang laris2nya di prancis tahun kemaren karya Francois Begaudeau. Francois sendiri adalah seorang novelis yang juga bekerja sebagai guru di sebuah SMP di prancis, dan novelnya ini adalah kisah pribadinya sebagai guru di sekolah itu. Pekerjaan (ato pertaruhan) hebat dilakukan oleh sutradara, yakni tidak memakai aktor lain untuk memerankan si guru dan para murid di film ini, tapi justru Francois-lah yang berperan sebagai Francois (brarti ia skrg jadi novelis/guru/aktor..haha), dan para muridnya adalah murid2 Francois itu sendiri, begitu juga para guru lainnya. Shootingnya sendiri menghabiskan waktu hampir setahun sesuai dengan durasi sekolah disana, walo karna alasan logistik, shooting tidak dilakukan di sekolah asli Francois, tapi di sekolah lain. Dan hasilnya…ini film menjadi seperti sebuah dokumenter, yaa…gampangnya mirip2 Rachel Getting Married-lah…hehe.

Prancis, seperti kita ketahui, adalah sebuah negara multiras, begitu juga halnya dengan kelas yang diasuh oleh Francois. Pada awal film kita diperlihatkan bagaimana kesibukan dan harapan para guru menyambut tahun ajaran baru, begiru juga dengan Francois, dia mengharapkan kelasnya berisi anak2 yang cerdas. Dan memang begitulah ternyata, kelasnya diisi oleh anak2 yang cerdas, aktif, dan tidak malu2 untuk mengemukakan pendapat (impian para guru banget kyknya punya murid yg begini..hehe). Francois tentu saja senang dengan keadaan ini, sering terjadi dialog-dialog yang aktif antara dia dan murid2nya. Saya sendiri kagum dengan Francois, dia dengan begitu baik dan sabar men-handle segala pertanyaan dan sanggahan yang diberikan para muridnya, yang kadang malah berbarengan, bersahut2an satu dengan yang lain. Sebagai contoh bagaimana Esmeralda dan Khoumba, dua orang murid perempuannya, memprotes guru mereka hanya karna si guru menggunakan nama Bill untuk membuat kalimat, dan bukannya nama yang lebih prancis, karna pelajaran yang diajarkan Francois adalah bahasa prancis. Scene ini (dan scene2 lainnya) digarap begitu hidup, lucu, menarik dan kadang memancing emosi. Brillian.

Walo kemudian pergesekan antar ras, kebosanan para murid, dan pertentangan tentang suatu hal yang awalnya remeh tapi kemudian menjadi besar, tidak dapat dihindari. Karna tentu saja, suatu hal yang tidak buruk bagi seorang guru, belum tentu para muridnya menyetujuinya. Hal ini menyebabkan terjadinya hubungan yang dinamis antar guru dan murid, pada awalnya mereka bisa berteman, saling bercanda, tapi kemudian terjadi ketegangan yang mengganggu hubungan tersebut, kadang tidak bertegur sapa, tapi seiring berjalannya waktu, perselisihan itu akhirnya juga reda dan keadaan menjadi baik. Dan Laurent Cantet dengan hebat menceritakan itu semua dengan objektif, sesuai dengan etika dan perilaku sosial masing2 karakter, tanpa justru terjebak untuk menilai secara langsung mana yang benar mana yang salah diantara guru dan murid tersebut.

Che (Steven Soderbergh) sebenarnya lebih diunggulkan untuk menang tahun lalu, tapi setelah menonton ini, saya sangat setuju dengan pilihan para juri, ini film hebat, dan sangat pantas untuk menang.
Simak komentar teman saya, Sean Penn, President of the Jury Festival De Cannes 2008
“All the performances : Magic. All of the writing : Magic. All the provocation dan all of the generosity : Magic. It’s simply everything that you want film to give you”