Blue is The Warmest Colour

December 19, 2013

Abdullatif Kechiche dengan kuasa yang dipunyainya sebagai sutradara, mengarahkan DOP untuk mengikuti keseharian Adele sampai hal-hal yang sedemikian tidak pentingnya. Tidur dengan mulut mangap, sarapan yang belepotan, hingga berkali naikin celana jinsnya yang sepertinya kegedean. Paras muka Adele pun berkali-kali di close-up, rambutnya yang berantakan, wajahnya yang tak bermake-up menjadi sasaran sorotan kamera sepanjang awal film. gerak gerik, tatapan mata, ekspresi muka Adele selalu jadi fokus utama film ini sekitar setengah jam awal (dan seterusnya). Membosankan? tenang, ini adalah cara sang sutradara memperkenalkan karakter utamanya, membuat penonton untuk mendalami lebih jauh tentang Adele, dan dengan semena-mena membuat penonton secara tidak sadar, menjadi Adele.

Sulit bagi saya untuk menghindari perasaan yang sama yang dirasakan Adele, perasaan bingung, meledak-ledak, ala abege terasa begitu nyata. Perasaan ditolak, dikucilkan, dihina yang dirasakan Adele ketika teman-temannya mengoloknya dengan kata lesbo turut membuat saya naik pitam. Saya ikut merasa deg-degan ketika pertama kali Adele melihat Emma, saya bisa merasakan jatuh cinta pada pandangan pertama-nya Adele terhadap Emma, rasanya persis ketika saya merasakan ada benih-benih cinta terhadap istri saya dahulu kala hahaha. Felt so real, so fuckn real. This movie delivers the feelings so magnificently, is magnificently really a word? i guess yeah.

And i dare to say this movie is not (just) about lesbian, this movie is all about love, passion, and lust. Kisah cinta Adele dan Emma sungguh berliku. Adele yang tadinya adalah heteroseksual biasa menyadari ada yang aneh yang terjadi di dirinya seketika dia bertatap mata dengan Emma di sebuah penyebrangan jalan. Pencariannya akan preferensi seksualnya menjadi jelas ketika dia bertemu kedua kalinya dengan Emma di sebuah bar lesbian. Walaupun dia tahu dia lesbian, tidak segampang itu mengakuinya. Keluarga dan teman-teman adalah hal-hal yang musti ia pertaruhkan. Setelah ia jadian ama Emma pun, tak serta merta semuanya menjadi mudah. Culture clash antara Emma yang seniman dan Adele yang guru TK terlihat sangat jomplang, terlihat dengan begitu jelas ketika adegan makan malam dengan keluarga dan kolega-kolega Emma. Naik turun hubungan mereka menjadi topik utama film ini.

Adele Exarchopoulus dan Lea Seydoux are very extraordinary, brave and convincing. Both are deliciously delivers the characters. Lihat adegan ketika mereka mau putus, anying itu emotional galore banget, amati adegan yang di restoran, ugh…perihnya menyayat, bok!. Walaupun Seydoux sudah bersumpah tidak akan pernah lagi mau maen di film-filmnya Kechiche, tak dapat dipungkiri ini adalah salah satu pencapaian tertingginya dalam hal akting. Pun halnya dengan Adele, walaupun dia aktris yang terbilang baru, keberaniannya sungguh jawara di film ini.

Banyak yang menjadikan “brutal and surgical display of so-called lesbian sex” sebagai alasan utama untuk menonton film ini, dan kekisruhan yang terjadi antara aktris dan sutradaranya juga disebut-sebut sebagai usaha membuat film ini populer. Namun semua itu tertutup dengan sempurna oleh pencapaian film ini, Palme d’or tidak akan diberikan secara serampangan, dan their believable intense love story and emotionally draining performance by both actress adalah alasan yang cukup kuat kenapa film ini sangat layak memenanginya, begitu juga memenangi hati anda.

5/5.

Garuda di Dadaku

June 22, 2009

Setelah sempat keabisan tiket di dua bioskop sebelumnya (pejaten dan megaria) akhirnya saya bisa juga menonton ini film di KC. Pas beli tiket, sempat juga shock dan lemah syahwat sesaat ketika melihat sebuah poster film yang naga2nya adalah film komedi selangkangan, berjudul “mau dong ah” klo ga salah…dan pas liat creditnya, ternyata benar dugaan saya..k k dheeraj, makhluk satu ini sudah siap bikin manusia indonesia semakin tambah bodoh…lagi. Pengen rasanya memberikan kutukan Lamia kepada benda bernama Dheeraj dan kroni2nya itu. Untungnya disekitaran saya malam itu penuh ama abg-abg muda nan ranum dan menggiurkan…jadinya itu yg tadi sempat lemah, jadi kuat lagi huhahahaha saru ah stop.

ok kembali ke film.
Secara kebetulan, 2 film indonesia terakhir yang saya tonton bercerita tentang sepakbola, sebelumnya yang saya tonton adalah Romeo dan Juliet. Kalo RoJul lebih bercerita tentang kisah cinta yang terjebak fanatisme sepakbola, maka Garuda di Dadaku lebih kepada rasa nasionalisme dan mewujudkan mimpi yang ditunjukkan dengan sepakbola. Dan dengan menggunakan tokoh utama anak berumur 12 tahun, maka film ini menjadi semacam kampanye penanaman rasa nasionalisme sejak dini buat anak-anak. Dan ini sangat hebat…anak-anak butuh film kyk gini, mereka butuh diberikan nutrisi nasionalisme kyk ini, mewujudkan mimpi dan cita-cita sembari menunjukkan kecintaan kepada negara. So, buat teman-teman, ibu-ibu bapak-bapak siapa yang punya anak tolong akyuuu…argghh damn!! mksdnya tolong anaknya diajak nonton ini film.

Bayu, seorang anak yatim berambut hitam tebal yang sepertinya dibiarin panjang demi placement product laipboi, adalah anak yang tergila2 ama sepakbola. Dia tinggal bersama ibunya yang baru kena phk dan sedang ikut program mlm, dan seorang kakek yang merupakan pensiunan pertamina (ini termasuk iklan apa ttg nasionalisme juga ya?). 2 orang ini sangatlah sayang kepada Bayu, terutama sang kakek, saking sayangnya, dia merasa lebih tau apa yang terbaik buat Bayu dan rela menarik semua uang pensiunnya hanya untuk membayar uang les lukis untuk bayu di sanggar lukis ternama. Akan tetapi…dikeranakan kenangan masa lalu tentang ayah Bayu yang hidupnya ga terjamin gara-gara jadi pemain bola, si Kakek sangat menentang impian Bayu untuk maen sepakbola, bahkan menonton acara tentang bola aja tidak boleh. Jadilah si Bayu musti selalu sembunyi-sembunyi kalau lagi pengen maen bola, memanjat jendela dan selalu berbohong kepada kakeknya kalau ditanya.

Beruntung Bayu punya teman seperti Heri, anak yang sepertinya kelebihan semangat ini sangat mendukung impian Bayu untuk jadi pesepakbola, karna dia sendiri adalah seorang maniak bola yang tidak kalah dari Bayu, dia menyukai klub paling cool sedunia (Go Gunner!!!no offence…tabok ntar..haha), kamarnya dipenuhi poster Arsenal berukuran raksasa, njrit bikin iri aja. Dan dari si Heri inilah Bayu mendapat informasi tentang bakal adanya seleksi timnas U-13. Bayu yang memang sedari dulu sangat mencintai klub nasional (mengoleksi foto2 timnas, menggambar lambang garuda di kaosnya) langsung mempunyai ambisi untuk menjadi bagian dari timnas U-13. dan untuk mewujudkan hal itu dia musti masuk sekolah sepakbola (SSI Arsenal dong!!huahha), dan kebetulan bakat Bayu sudah terdeteksi oleh salah seorang pelatih SSI, dan lgsg mengundang Bayu untuk masuk ke sekolah itu. Semua kelihatan begitu lancar tapi ada halangan terbesar yang musti ia lewati ; Kakeknya sendiri.

Dan dimulailah Bayu musti mempersiapkan segalanya, maen akal2an ama kakeknya, mencuri waktu untuk latihan bola, mencari lapangan kosong untuk latihan, pada poin ini saya kira filmnya akan begitu2 aja…tapi pertemuan Bayu dan Heri dengan karakter Zahra, anak penunggu areal kuburan tempat Bayu berlatih, menjadikan film ini semakin menarik, bagaimana pertemanan ketiga anak itu ditambah bang Dullah, supir pribadi Heri, menjadikan film ini menjadi lebih segar dan lucu tapi tak berlebihan serta tidak kehilangan pesan moralnya.

Para pemain dengan sangat baik memerankan tokoh masing2, Bayu yang sangat mencintai sepakbola tapi juga sangat manyayangi kakeknya hampir saja membuat saya menangis ketika jantung kakeknya kumat waktu tau Bayu ternyata diam2 masuk sekolah bola dan akhirnya musti masuk rumah sakit, bagaimana Bayu menangis memanggil kakeknya trus memeluk ibunya….sungguh adegan yang menyentuh. great job. Si kakek yang diperankan oleh Ikranegara yang dulu bermain apik di Laskar Pelangi, sekarang juga bermain dengan hebat, sosok kakek yang sangat sayang ama cucunya tapi benci ama sepakbola sehingga membuat dia sedikit bersikap otoriter terhadap masa depan cucunya itu dibawakan dengan sangat pas. Heri juga…anak bersemangat ini dengan baik bisa menjadi semacam pelatih dan manager serta motivator buat Bayu, tapi begitu kejadian kolapsnya kakek Bayu, Heri berhasil menunjukkan rasa sangat bersalah, sekaligus menjadi takut kehilangan “pemain”nya…terutama, kehilangan temannya. “aku ini cuman punya semangat” katanya…quote yang cukup menohok.

Sungguh, film ini mempunyai banyak pesan moral yang bagus buat anak-anak seusia saya (hihi), tentang nasionalisme, tentang menggapai mimpi, tentang sikap jujur, tentang persahabatan, semua disampaikan dengan cukup kalem, tidak menceramahi, apalagi sampai baca puisi kyk film dari negara bagian Utara benua Afrika nun jauh di sana. Pekerjaan sangat hebat telah dilakukan Ifa, si sutradara yang katanya abis nuntut ilmu film di korea (asik bgt pasti…ketemu ama artis2 cewe korea nan lucu dan imutnya naudzubilla hahaha). Film-film seperti inilah yang musti diperbanyak oleh sineas indonesia, bukannya komedi esek2 menjijikkan ato hantu lucu yang tiada mutu.

Dan melodi gitar nan mantap dari Coki, dentuman drum khas Eno serta cabikan bas Bagus menutup film ini dengan sempurna, ga bisa saya beranjak dari tempat duduk sebelum ini lagu berakhir…damn i love Netral!.

salah satu summer movie nan sangat berkesan
7/10

It Happened One Night

May 31, 2009

Directed by: Frank Capra
Staring: Clark Gable, Claudette Colbert, Walter Connolly

Diantara ratusan film yang mendapat penghargaan di Oscar, hanya ada 3 film yang pernah mendapat penghargaan di 5 kategori utama sekaligus (best picture, actor, actress, director, screenplay). yang terakhir mendapatkannya adalah film The Silence of the Lambs (1991), sebelumnya ada One Flew Over the Cuckoo Nest. Dan film pertama yang mendapatkannya adalah film tahun 1934 ini. It Happened One Night.

Ini komedi romantis, suatu genre yang mungkin mempunyai banyak klise2 yang menyebalkan, tapi tidak salah lagi, ini adalah salah satu komedi romantis yang paling mantap yang saya tonton. Dialog2nya keren, lucu, dan penuh scene2 yg komikal dan menyenangkan. Bercerita tentang Ellen, gadis manja anak orang kaya yang memutuskan kabur dari ayahnya karna ayahnya tidak menyetujui pernikahannya, di pun berencana pergi ke new york, ke tempat kekasihnya, King Weasley (nama yg lucu, selucu tampangnya). Di dalam bus malam menuju New York itu, Ellen bertemu dengan Peter, seorang wartawan yang akhirnya mengetahui identitas Ellen karena sang ayah, telah mengumumkan di koran-koran berita tentang anaknya yang kabur dan akan memberikan hadiah 10rb dolar bagi siapa yang berhasil menemukannya. Peter pun jadinya sedikit memaksa Ellen untuk ikut dengannya setelah bus yg mereka tumpang mengalami kecelakaan, hal ini dia lakukan karna ingin menjadikan Ellen sebagai bahan tulisannya, berhubung karirnya sebagai wartawan dalam bahaya. Dan 4 hari 4 malam yang merka habiskan bersama inilah yang dipenuhi kejadian2 lucu dan memorable..hehe.

Contohnya ketika Peter menakut-nakuti salah seorang penumpang yang berniat melaporkan telah melihat Ellen, dengan cara berpura2 menjadi gangster, penumpang yang sebelumnya banyak omong ini jadi lari terbirit2. Ato ketika Ellen berhasil mendpaatkan tumpangan mobil hanya dengan menunjukkan kakinya. Ato ketika Peter memaksa Ellen untuk makan wortel untuk mengisi perut (adegan memakan wortel inilah yang mengispirasi karakter bugs bunny yg suka makan wortel..haha). Dan walapun ceritanya sangat sederhana, detail2 kecil yang disampaikan oleh Frank Capra sungguh menyenangkan, penumpang bus menyanyikan lagu bersama-sama, penjual makanan di tempat pemberhentian yang menawarkan makanan, atau ketika Peter membentangkan “walls of jericho” ketika mereka terpaksa satu kamar di penginapan. Atau juga adegan ketika peter menyuruh Ellen untuk mandi pagi, ato pas bagaimana mereka terpaka berakting ketika detektif suruhan ayah Ellen memergoki mereka…dll..dst…sungguh rentetan adegan yang berhasil membuat saya tersenyum.

Clark Gable sangat baik membawakan karakter seorang wartawan yang sinis ama orang kaya, pintar ngomong tapi punya prinsip. Begitu juga Claudette Colbert, jadi anak orang kaya yang manja, mempunyai ego tinggi, tapi ceroboh. yang hanya memakai 4 buah baju sepanjang film. Sekedar trivia, scene the wall of jericho terjadi karna ternyata Colbert menolak mengganti baju di depan kamera. Bahkan untuk sekedar menunjukkan kakinya saja pada adegan nyari tumpangan dia pada awalnya ogah, wlo setelah melihat kaki pemeran penggantinya dia merasa tidak sreg dan akhirnya mau menunjukkan kakinya…sungguh aktris yg sopan.

sangat direkomendasikan
hehe

Okuribito (Departures)

May 26, 2009

Director: Yojiro Takita
Cast: Masahiro Motoki, Tsutomu Yamazaki, Ryoko Hirosue, Kazuko Yoshiyuki

Cukup terbakar emosi rasanya ketika teman saya bbrp hari yg lalu bercerita kalau dalam perjalanan pulangnya dari Paris, dia menonton banyak film di pesawat, dan salah satunya adalah film ini. Dia yang selama ini selalu bertanya kepada saya apa aja film2 yang bagus dan layak ditonton, sekarang malah mendahului saya menonton film yang sejak beberapa bulan lalu saya incar ini. Sungguh tidak sopan. hahahaha. So, karna para pembajak dvd andalan saya sepertinya juga masih belum bergerak sebagaimana mustinya, hari kemaren saya fokuskan untuk mendonlot ini film, men-set bittorrent di kecepatan maksimal, men-stop donlotan film lain (yg ternyata ada 20an lebih..haha) agar bandwidth terkonsentrasi ke donlotan film ini. Bisa saya dengar makian dan keluhan orang2 di ruang belakang tentang betapa lemotnya wifi sore kmrn, saya tentu diam saja karna saya tau, bittorent saya menyedot bandwidth satu kantor ini…hahahahaha.*maapkan aku teman-teman 🙂

Okeh kembali ke film, alasan kenapa saya sangat penasaran ama ini film tidak lain adalah karena dengan secara mengejutkan, film ini berhasil meraih penghargaan Best Foreign Language Film di pegelaran Oscar kmrn, mengalahkan favorit banyak umat (dan saya juga) yakni The Class dan Waltz With Bashir (dua2nya saya kasih ponten 9,5), dan nominasi lain seperti Revanche (8,5/10) yg dari Austria maupun The Baader Meinhof Complex (belum saya tonton) dari Jerman. Film yang sebelumnya tidak dikenal siapa2 ini (okeh ini hiperbol) tiba2 muncul sebagai pemenang…musti ada sesuatu di film ini.

Dan saya tontonlah.

Kematian, hal yang sangat saya benci sekaligus paling saya tunggu ini adalah tema utama film asal jepang ini. Hubungkan saja, film asia,kematian, mayat, peti mati..pasti yang pertama kali terlintas adalah film hantu khas asia. Tapi ini tidak. Ini adalah film drama serius, drama yang bercerita tentang emosi, drama yang kaya akan metaphor2 tentang hidup dan kematian, ditambah dengan akting yang bagus dan visual nan mantap, klop sudah jadi pilihan terbaik buat para juri Oscar.

Diceritakan dari sudut pandang seorang pria bernama Daigo, pemain cello sebuah orchestra di Tokyo, yang menjadi pengangguran ketika kelompok orkestranya dibubarkan oleh pemilik karna sudah tidak laku lagi. Daigo dan istrinya Mika memutuskan untuk kembali ke kota asal Daigo, dan menempati rumah peninggalan ibunya yang sudah meninggal 2 tahun lalu. Disana Daigo bernostalgia dengan masa lalunya, tentang bagaimana ibunya membesarkan dirinya sendirian dengan membuka cafe karna ayahnya sudah meninggalkan mereka, lari dengan wanita lain, kenangan yang pahit buat dia. Di kota ini Daigo mencari pekerjaan, dari sebuah surat kabar dia melihat sebuah iklan dari NK Agency, yang pada awalnya dia kira adalah perusahaan travel.

Tapi ternyata NK adalah singkatan dari Nokan, ato encoffinment atau diterjemahin dalam bahasa indonesia adalah sebuah proses penyelenggaraan mayat, mulai dari membersihkan mayatnya, mengeluarkan kotoran2 di lubang2, memasang baju yang terbaik sampai mendandaninya, hal ini bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada keluarga yang ditinggalkan untuk menyampaikan salam terakhir kepada si mayat dan mereka bisa melihat penampilan tercantik dari orang yg mereka cintai itu. Dan karna gajinya yang besar, mulailah Daigo bekera di kantor ini.

Saya sendiri kurang paham budaya jepang, tapi sepertinya budaya ini sudah sangat wajar di jepang. Dan karna saya kurang paham juga, saya jadi heran kenapa profesi yang dijalanin Daigo dan bosnya, dipandang rendah ama kebanyakan orang, seperti halnya teman masa kecilnya, yang bahkan tidak mau menegur sapa Daigo hanya karna mengetahui profesi Daigo, dan yang paling parah adalah ketika Mika, istrinya sendiri memutuskan untuk meninggalkannya karna hal itu. Dilema dihadapi oleh Daigo.

Penampilan full orchestra chorus Ode to Joy dari Symphony no 9-nya Beethoven pada awal film sangat menyenangkan, tapi proses penyelanggaraan mayat yang dilakukan Daigo jauh lebih keren. Anggun, sederhana, rapi, dan cepat tapi hasilnya mantap, ditambah dengan tiadanya musik latar, membuat saya menahan nafas menonton scene itu, sungguh hebat. sungguh sangat hebat. Mungkin kalau semua adegan di film sehening ini, sedalam ini, semenyentuh ketika keluarga si mayat melihat hasil pekerjaan si Daigo (2 kali saya sukses mengeluarkan air mata..i hate death/funeral scene with deep emotions!!), film ini bakal saya setujui sebagai film terbaik diantara nominasi yang lain. Tapi guyonan jayus yang aneh, ekspresi lebay, terutama pas kaget, daripada para pemeran film ini (hal yg sepertinya selalu ada di film jepang), cukup mengurangi penilaian saya. Jadi kesimpulannya, ini film yang hebat, sangat hebat, tapi kalau boleh milih, cerita tentang sebuah kelas smp di prancis lebih berkelas dibanding ini. saya tetap lebih suka The Class.(liat review saya sebelumnya)

dan Ryoko Hirosue
omg Ryoko Hirosue, yang berperan sebagai Mika, aktris yang pada jaman saya kuliah dulu mendominasi wallpaper komputer saya (bersaing dengan Mika Nakashima dan foto saya) masih aja terlihat cakep di film ini, padahal sudah melewati masa2 emas aktris jepang, senyumnya yg manis, lucu, ples gigi gingsul dan rambut yang pendek itu omg cakep dan imut. Andaikan saja ia mau menjadi istri kedua saya…hahahahha.

8/10

Starring: François Begaudeau, Nassim Amrabt, Laura Baquela, Cherif Bounaidja Rachedi, Juliette Demaille, Dalla Doucoure, Arthur Fogel, Vincent Caire, Olivier Dupeyron, Patrick Dureuil
Director: Laurent Cantet
Screenwriter: Laurent Cantet, François Begaudeau, Robin Campillo

Saat ini sampai hari minggu ntar di Cannes, Prancis, sedang berlangsung Festival Film Cannes, saya..karna sesuatu hal, berhalangan menghadirinya (huahahha). Oleh karenanya saya merayakan festival ini dengan cara saya sendiri, menonton film yang menang Palme d’Or tahun lalu di kamar, sendirian, ditemani segelas coklat panas, sebungkus chitato besar dan hanya memakai kolor, sungguh nikmat.

Laurent Cantet, si sutradara dan Robin Champillo si penulis naskah, mengadaptasi novel semi-autobiography yang sedang laris2nya di prancis tahun kemaren karya Francois Begaudeau. Francois sendiri adalah seorang novelis yang juga bekerja sebagai guru di sebuah SMP di prancis, dan novelnya ini adalah kisah pribadinya sebagai guru di sekolah itu. Pekerjaan (ato pertaruhan) hebat dilakukan oleh sutradara, yakni tidak memakai aktor lain untuk memerankan si guru dan para murid di film ini, tapi justru Francois-lah yang berperan sebagai Francois (brarti ia skrg jadi novelis/guru/aktor..haha), dan para muridnya adalah murid2 Francois itu sendiri, begitu juga para guru lainnya. Shootingnya sendiri menghabiskan waktu hampir setahun sesuai dengan durasi sekolah disana, walo karna alasan logistik, shooting tidak dilakukan di sekolah asli Francois, tapi di sekolah lain. Dan hasilnya…ini film menjadi seperti sebuah dokumenter, yaa…gampangnya mirip2 Rachel Getting Married-lah…hehe.

Prancis, seperti kita ketahui, adalah sebuah negara multiras, begitu juga halnya dengan kelas yang diasuh oleh Francois. Pada awal film kita diperlihatkan bagaimana kesibukan dan harapan para guru menyambut tahun ajaran baru, begiru juga dengan Francois, dia mengharapkan kelasnya berisi anak2 yang cerdas. Dan memang begitulah ternyata, kelasnya diisi oleh anak2 yang cerdas, aktif, dan tidak malu2 untuk mengemukakan pendapat (impian para guru banget kyknya punya murid yg begini..hehe). Francois tentu saja senang dengan keadaan ini, sering terjadi dialog-dialog yang aktif antara dia dan murid2nya. Saya sendiri kagum dengan Francois, dia dengan begitu baik dan sabar men-handle segala pertanyaan dan sanggahan yang diberikan para muridnya, yang kadang malah berbarengan, bersahut2an satu dengan yang lain. Sebagai contoh bagaimana Esmeralda dan Khoumba, dua orang murid perempuannya, memprotes guru mereka hanya karna si guru menggunakan nama Bill untuk membuat kalimat, dan bukannya nama yang lebih prancis, karna pelajaran yang diajarkan Francois adalah bahasa prancis. Scene ini (dan scene2 lainnya) digarap begitu hidup, lucu, menarik dan kadang memancing emosi. Brillian.

Walo kemudian pergesekan antar ras, kebosanan para murid, dan pertentangan tentang suatu hal yang awalnya remeh tapi kemudian menjadi besar, tidak dapat dihindari. Karna tentu saja, suatu hal yang tidak buruk bagi seorang guru, belum tentu para muridnya menyetujuinya. Hal ini menyebabkan terjadinya hubungan yang dinamis antar guru dan murid, pada awalnya mereka bisa berteman, saling bercanda, tapi kemudian terjadi ketegangan yang mengganggu hubungan tersebut, kadang tidak bertegur sapa, tapi seiring berjalannya waktu, perselisihan itu akhirnya juga reda dan keadaan menjadi baik. Dan Laurent Cantet dengan hebat menceritakan itu semua dengan objektif, sesuai dengan etika dan perilaku sosial masing2 karakter, tanpa justru terjebak untuk menilai secara langsung mana yang benar mana yang salah diantara guru dan murid tersebut.

Che (Steven Soderbergh) sebenarnya lebih diunggulkan untuk menang tahun lalu, tapi setelah menonton ini, saya sangat setuju dengan pilihan para juri, ini film hebat, dan sangat pantas untuk menang.
Simak komentar teman saya, Sean Penn, President of the Jury Festival De Cannes 2008
“All the performances : Magic. All of the writing : Magic. All the provocation dan all of the generosity : Magic. It’s simply everything that you want film to give you”

Tokyo!

May 17, 2009

“Interior Design” directed by Michel Gondry; screenplay by Gondry and Gabrielle Bell, based on Bell’s graphic novel “Cecil and Jordan in New York.” Cast: Akayko Fujitani, Ayumi Ito, Ryo Kase, nao Omori. “Merde” written and directed by Leos Carax. Cast: Jean_Francois Balmer, Denis Lavant. “Shaking Tokyo” written and directed by Bong Joon-ho. Cast: Teruyuki Kagawa, Yui Aoi, Naoto Takenaka.

Pertama kali membaca di internet akan kehadiran film ini, saya sungguh merasa gembira, melihat trailernya, saya tambah penasaran, Michel Gondry, sutradara yang selalu berhasil memukau saya dengan film2nya yang surealis dan penuh properti aneh itu itu berkolaborasi dengan dua sutradara lainnya, yang satu adalah Bong Joon-Ho, sutradara korea yang membuat film fenomenal The Host, film drama keluarga nan hebat (oh iya…ada monsternya), salah satu film korea yang paling mantap menurut saya. Dan satu lagi adalah Leos Carax, nah ini dia yg saya lum pernah melihat karyanya, tapi klo dia bisa berteman dgn Gondry, tentunya ni orang bukan sutradara sembarangan…haahaha.

3 Sutradara ini membuat film yang menggambarkan bagaimana pandangan mereka tentang sebuah kota tokyo. dimulai dengan “Interior Design” karya Gondry. Film ini bercerita tentang Akira dan pacarnya Hiroko yang datang ke Tokyo untuk pertama kalinya. Di tokyo, untuk sementara mereka menumpang di apartemen sempit teman mereka yang bernama Akemi. Akira sendiri mempunya tujuan datang ke Tokyo adalah untuk mempromosikan film buatannya, film yg sangat absurb dan aneh bahkan diputarnya adalah di sebuah bioskop khusus dewasa. Hiroko sendiri tidaklah mempunyai tujuan khusus, boleh dibilang tujuan hidupnya pun ga jelas, tidak punya pekerjaan, bahkan ia sampai ribut dengan pacarnya gara2 hal ini, dan Akemi, temannya sendiripun mulai tidak senang pada pasangan ini karna merasa sudah sangat merepotkan. dan keanehan pun mulai terjadi, dada akemi bolong dan kakinya perlahan2 berubah menjadi kayu. Perubahan yang membuat Hiroko merasa sedikit lebih berguna karna ia akhirnya menjadi bangku bagi seorang musisi. Kejadian ini semustinya menyedihkan, tapi digambarkan dengan lucu. Pembuka yang manis dari Gondry.

Film kedua berjudul “Merde” karya Carax. Bercerita tentang seorang pria yang tiba2 muncul dari terowongan bawah tanah Tokyo, dia muncul ke jalanan dan mulai meneron penduduk. mencuri bungan dan memakannya bahkan melempar cerutu ke kereta bayi. sampai akhirnya dia menemukan granat bekas perang dunia dan melemparkannya ke tengah2 penduduk. tentu saja, hal ini langsung membuatnya menjadi penjahat yang paling diburu. 1/4 awal film ini hampir tanpa dialog, yang dilihatkan hanyalah bagaimana pria yang akhirnya diketahui bernama Merde (yg artinya adalah shit) melakukan teror dimana2. Setelah akhirnya ia tertangkap, tidak ada yang mengerti bahasa yang ia gunakan, sampai akhirnya seorang pengacara dari prancis muncul dan mengaku bisa menerjemahkan bahasa yang dipakainya. Scene bagaimana persidangan dan penerjemahan yang dilakukan pengacara ini adalah hal yang membosankan menurut saya, yang mereka lakukan hanyalah berbicara selayaknya monyet dan memukul2 pipi, entah apa maksudnya. Kalau Carax bermaksud menjadikan ini adalah sebuah black comedy, menurut saya sedikit berhasil. tapi sepertinya carax juga bermaksud memberikan sesuatu yang lebih, bagaimana cerita ini diakhiri menimbulkan kejanggalan di mata saya. terlalu ngambang.

Yang ketiga berjudul “Shaking Tokyo”. merupakan film terbaik menurut saya di kompilasi ini. Tentang seorang pria hikikomori (seorang yang tidak pernah keluar rumah untuk menghindari kontak dengan manusia), dia sudah mengurung diri di rumahnya selama hampir 11 tahun, bertahan hidup dengan mengandalkan duit yang selalu dikirim oleh orang tuanya. dan agendanya setiap hari sabtu adalah memesan pizza. Dia yang selama ini tidak pernah melihat mata manusia yang mengantar pizza-nya, suatu hari malah melihat ke arah wanita muda pengantar pizza tersebut (dan cewek ini sungguh manis..haha). dan tiba2 gempa terjadi, dan wanita itu pingsan di pintu rumahnya. setelah menekan tombol “coma” yang ada pada tubuhnya, wanita itu bangun. Dan untuk beberapa hari setelahnya, pria ini tidak bisa melupakan wanita tersebut dan akhirnya memutuskan untuk keluar rumah untuk bertemu mencari wanita itu. yang ternyata, wanita tersebut sudah menjadi hihikomori juga.

Walaupun tidak dijelaskan dengan baik kenapa pria tersebut menjadi hikikomori, tapi Teruyuki Kagawa, pemeran pria tersebut berhasil membawakan karakter kebingungan, dan usaha yang sangat keras dari seorang hikikomori untuk keluar rumah setelah bertahun2 tidak pernah melihat dunia luar. Dan Bong sendiri berhasil memperlihatkan tokyo yang selama ini kita lihat di film2 sebagai sebuah kota yang ekstra padat, menjadi kota yang sangat sepi karna perkembangan teknologi, bisa jadi membuat kita menjadi hikikomori seperti pria itu.

Lain halnya dengan film2 yang berseting kota tokyo yang kita lihat sebelum2nya, yang mungkin berhasil membuat kita tambah penasaran dengan kota ini, membuat kita menjadikannya kota yang sangat ingin kita kunjungi dan tinggal disana, film ini malah memperlihatkan kota Tokyo sebagai kota yang menakutkan. Hiroko menggambarkan bagaimana sulitnya menyesuaikan diri dan membuat diri sendiri berguna di kota ini, Merde yang penuh cacian dan kemarahan dan kriminal, dan hikikomori yang tidak bisa dan tidak mau berhubungan dan menyesuaikan diri dengan dunia luar. Setiap bagian di Tokyo! merupakan pengalaman visual yang akan memuaskan jika penonton adalah penggemar film dengan gaya2 seperti ini. sedikit surealis dan aneh. dengan durasi yang tidak terlalu panjang setiap filmnya dan penampilan pemainnya yang sempurna. film ini sangat layak ditonton.

*tadinya mo ngereview visitor q karya takashi miike, tapi kyknya hanya bakal menjerumuskan namaku, palagi setelah adanya review sebelum ini…hahaha

Jika saja, ini film masuk indonesia, yang hanya bisa kalian tonton hanyalah sekitaran 15 menit…maksimal 20 menit, dari durasi yang sekitar 108 menit. karena 4/5 dari bagian film ini akan menjadi santapan lezat bagi para pemotong film indonesia akibat adegan2 lucah tingkat tinggi.

Diangkat dari kisah nyata, bercerita tentang Sada, seorang pelayan di sebuah penginapan, dia jatuh cinta pada majikannya yang sudah beristri, yang rutinitas pada pagi hari sebelum bekerja adalah bercinta dengan istrinya.

Majikannya yang bernama Kichizo juga ternyata jatuh hati pada Sada, dan memutuskan untuk pergi dari penginapan itu dan tinggal di sebuah hotel, disana mereka melakukan pernikahan.

Dan dimulailah kisah gila, tentang 2 orang yang sangat terobsesi pada tubuh masing2 pasangannya, mereka melakukan-nya 24/7…!!everysinglefuckintime!, bahkan untuk sekedar ke toilet Sada menganggap hal itu terlalu lama, dan menyarankan Kichi untuk pipis di-dalam-nya, gila gila gila

dan kegilaan2 ini makin memuncak ketika mereka mengubah cara menikmati hubungannya
sungguh gila

film ini diklaim sebagai film pertama yang memperlihatkan intercourse tanpa dimaksudkan sebagai sebuah film porno. layak emang masuk dalam buku 1001 movies you must see before die.

parah.

too much sex(scene) will kill you!