Blue is The Warmest Colour

December 19, 2013

Abdullatif Kechiche dengan kuasa yang dipunyainya sebagai sutradara, mengarahkan DOP untuk mengikuti keseharian Adele sampai hal-hal yang sedemikian tidak pentingnya. Tidur dengan mulut mangap, sarapan yang belepotan, hingga berkali naikin celana jinsnya yang sepertinya kegedean. Paras muka Adele pun berkali-kali di close-up, rambutnya yang berantakan, wajahnya yang tak bermake-up menjadi sasaran sorotan kamera sepanjang awal film. gerak gerik, tatapan mata, ekspresi muka Adele selalu jadi fokus utama film ini sekitar setengah jam awal (dan seterusnya). Membosankan? tenang, ini adalah cara sang sutradara memperkenalkan karakter utamanya, membuat penonton untuk mendalami lebih jauh tentang Adele, dan dengan semena-mena membuat penonton secara tidak sadar, menjadi Adele.

Sulit bagi saya untuk menghindari perasaan yang sama yang dirasakan Adele, perasaan bingung, meledak-ledak, ala abege terasa begitu nyata. Perasaan ditolak, dikucilkan, dihina yang dirasakan Adele ketika teman-temannya mengoloknya dengan kata lesbo turut membuat saya naik pitam. Saya ikut merasa deg-degan ketika pertama kali Adele melihat Emma, saya bisa merasakan jatuh cinta pada pandangan pertama-nya Adele terhadap Emma, rasanya persis ketika saya merasakan ada benih-benih cinta terhadap istri saya dahulu kala hahaha. Felt so real, so fuckn real. This movie delivers the feelings so magnificently, is magnificently really a word? i guess yeah.

And i dare to say this movie is not (just) about lesbian, this movie is all about love, passion, and lust. Kisah cinta Adele dan Emma sungguh berliku. Adele yang tadinya adalah heteroseksual biasa menyadari ada yang aneh yang terjadi di dirinya seketika dia bertatap mata dengan Emma di sebuah penyebrangan jalan. Pencariannya akan preferensi seksualnya menjadi jelas ketika dia bertemu kedua kalinya dengan Emma di sebuah bar lesbian. Walaupun dia tahu dia lesbian, tidak segampang itu mengakuinya. Keluarga dan teman-teman adalah hal-hal yang musti ia pertaruhkan. Setelah ia jadian ama Emma pun, tak serta merta semuanya menjadi mudah. Culture clash antara Emma yang seniman dan Adele yang guru TK terlihat sangat jomplang, terlihat dengan begitu jelas ketika adegan makan malam dengan keluarga dan kolega-kolega Emma. Naik turun hubungan mereka menjadi topik utama film ini.

Adele Exarchopoulus dan Lea Seydoux are very extraordinary, brave and convincing. Both are deliciously delivers the characters. Lihat adegan ketika mereka mau putus, anying itu emotional galore banget, amati adegan yang di restoran, ugh…perihnya menyayat, bok!. Walaupun Seydoux sudah bersumpah tidak akan pernah lagi mau maen di film-filmnya Kechiche, tak dapat dipungkiri ini adalah salah satu pencapaian tertingginya dalam hal akting. Pun halnya dengan Adele, walaupun dia aktris yang terbilang baru, keberaniannya sungguh jawara di film ini.

Banyak yang menjadikan “brutal and surgical display of so-called lesbian sex” sebagai alasan utama untuk menonton film ini, dan kekisruhan yang terjadi antara aktris dan sutradaranya juga disebut-sebut sebagai usaha membuat film ini populer. Namun semua itu tertutup dengan sempurna oleh pencapaian film ini, Palme d’or tidak akan diberikan secara serampangan, dan their believable intense love story and emotionally draining performance by both actress adalah alasan yang cukup kuat kenapa film ini sangat layak memenanginya, begitu juga memenangi hati anda.

5/5.

Advertisements

Cold Fish

August 12, 2011

Tuan Murata adalah orang yang sangat ramah, ia seorang pedagang ikan air tawar yang sukses di kotanya. Pada suatu malam ia menyelamatkan seorang gadis perempuan yang ketauan ngutil di supermarket terdekat. Dengan pengaruh nama baiknya, ia membantu membebaskan gadis itu, dan bersama orang tua gadis itu, Murata mengundang mereka untuk berkunjung ke toko ikannya, kebetulan…ayah sang gadis yang bernama Shamoto adalah juga seorang pedagang ikan. Murata sangatlah baik, ia mau memperkerjakan si gadis bengal tersebut di tokonya. Pun kepada ayah gadis tersebut ia mengajarkan pelajaran yang sangat berharga, yaitu cara menghilangkan orang. Pertama tentu saja setelah memotong-motong bagian tubuh orang yang sudah dibunuh, pisahkan daging dari belulangnya. Tulang dibakar dan abunya buang di tengah hutan, sedangkan daging dicincang kecil (jangan sampai lebih besar daripada nugget kata Murata) untuk kemudian dijadingan pangan ikan di sebuah sungai.

Bahkan saking baiknya, Murata membolehkan bahkan memaksa Shamoto untuk bercinta dengan istrinya yang bernama Aiko, di mobilnya.

Sion Sono kembali dengan tema yang menjadi andalannya dalam bercerita, keluarga, sex dan kekuatan pemberontakan yang terpendam. Kita dikenalkan dengan karakter Shamoto yang pemalu, pengecut, cengeng, pendiam dan gugupan. Dia tidak bisa mengendalikan anaknya yang lebih memilih pergi dengan pacarnya daripada makan malam bersama keluarga. Dia juga tidak bisa berbuat apa-apa ketika istrinya menolaknya ketika ia ingin bercinta. Kepengecutan ini semakin menjadi-jadi sehingga akhirnya menjebaknya untuk bekerja sama dan membantu Murata melakukan kejahatan. Bekerja sama dengan manusia bertabiat setan tentu saja ada harga yang harus dibayar. Read the rest of this entry »

Star Trek

June 10, 2009

Starring: Chris Pine, Zachary Quinto, Eric Bana, Bruce Greenwood, Karl Urban, Zoe Saldana, Simon Pegg, John Cho, Anton Yelchin, Ben Cross, Winona Ryder, Leonard Nimoy, Chris Hemsworth
Director: J.J. Abrams
Screenwriter: Alex Kurtzman, Roberto Orci

Wants to be a Trekker

Begitu tulis seorang teman di status fesbuknya sekitar sebulan yang lalu, segera setelah ia menyaksikan ini film yang kebetulan ditayangkan lebih awal di negara tetangga tempat ia berdomisili, Malaysia. Negara kita tercinta, tentu saja, terlambat menayangkannya (terkutuklah siapapun penyebab ini semua). Well…dari status teman saya itu dapat saya tangkap betapa sukanya teman saya ama film ini, hal ini dapat dimaklumi karna dia adalah maniak film fiksi ilmiah macam ini, pokoknya yang ada alien2nya dia hobi dah…haha, nah klo saya…Indiana Jones yg terakhir aja saya agak geli ngeliatnya..haha. So…saya yang pada awalnya ga terlalu berharap banyak ama cerita fiksi ilmiah di film ini, yang saya tunggu hanyalah aksi, dan penampilan para aktor, dan musik dan kapal angkasa nan besar, justru dibikin terpesona oleh cerita tentang makhluk asing dari beragam dunia di film ini.

Bahkan kalau boleh dibilang, inilah cerita yang menyinggung masalah luar angkasa, alien dsb..yang paling masuk akal buat saya. Teori2nya dijabarkan lebih sederhana dan akhirnya bisa diterima otak berkarat milik saya, “alien2″nya juga tidak terlalu bombastis sperti film2 lain. Dan yang paling penting, struktur ceritanya lebih sederhana namun tetap kuat, hanya terdiri dari 3 segmen utama…pengenalan tokoh, yang diteruskan oleh first encounter with Nero dan selanjutnya adalah final battle, dan semuanya itu diceritakan dengan kompleks dan baik dengan plot utama yang kokoh, yakni tentang balas dendam.

James T Kirk (Chris Pine), anak muda nan cerdas namun berandalan, memutuskan bergabung dengan Starfleet setelah ditantang oleh Captain Pike untuk mengikuti jejak ayahnya. 3 tahun berlalu, sebuah sinyal bahaya datang dari planet Vulcan, planet kelahiran dari Spock (Zachary Quinto), kru terbaik Starship Enterprise yang dikepalai oleh Captain Pike. Namun setelah mendekati planet Vulcan, ternyata telah menunggu sebuah kapal angkasa milik Nero, orang yang telah membunuh ayah Kirk, Nero sedang dalam proses menghancurkan Vulkan, untuk membalas dendam karna dia menganggap Federasi telah membiarkan planet kelahirannya, Romulus, hancur. Dan dalam usaha untuk menghentikan Nero menghancurkan planet selanjutnya yaitu Bumi, Kirk dan Spock harus segera memenuhi “takdir” mereka masing2 yaitu sebagai pemimpin di Enterprise, dan sebagai teman sejati.

Yep…Kirk dan Spock adalah karakter utama dari film ini, dua orang yang mempunyai sifat sangat bertolak belakang, yang satu emosional yang satu logis, yang satu percaya insting yang satu sangat rasional, yang satu bertindak karna merasa benar yang satu karna merasa layak. Diantara perbedaan yang kontras inilah hubungan pertemanan mereka dibangun, yang tentu saja tidak gampang karna kedua2nya sama2 keras kepala, dan tidak mau mencari jalan tengah.

Dan thx god Chris Pine tidak menghancurkan film ini, sebagai seorang lulusan film drama remaja remeh temeh macam Blind Dating, dia boleh dibilang sangat berhasil membawakan karakter klise anak muda bermasalah dengan takdir besar menantinya tanpa harus menjadi karakter kacangan. Bagaimana ia membawakan sikap sombong dan congkak serta banyak omong menurut saya sangat baik, ga berlebihan dan menyenangkan. Dan Zachary Quinto juga…brilliant..!!, dia membawakan karakter tanpa emosi, yang disembunyikannya dibalik dinginnya penampilannya, dibalik ekspresi mukanya yang kaku, tapi tanpa musti menjadi seperti seorang robot!!. Begitu juga dengan pemain lain macam Anton Yelchin sebagai anak rusia yang cerdas tapi ga bisa menghilangkan logat rusianya, atau juga Karl Urban, bahkan Eric Bana sebagai Nero pun sangat meyakinkan. Bahkan Leonard Nimoy, si pemeran Spock di startrek jadul, tampil disini bukanlah hanya sekedar pemanis, ato cameo ga fungsi…tapi justru sebagai salah satu karakter paling penting di film ini.

Dan Simon Pegg dan John Cho yang dulunya saya pikir akan merusak film drama fiksi ilmiah ini mengingat mereka adalah komedian, justru malah membuat “rame” film ini, terutama Simon Pegg, yang dengan dialek khas inggrisnya, dia sangat sangat pantas menjadi Scotty yang dalam skenarionya adalah seorang Scotland, coba saja bayangkan kalau pemeran Scotty adalah Vinnie Jones, bayangkan ia yang berteriak “i love this ship…this is exciting” dengan mata membulat dan nyengir kesenengan, sungguh akan membuat adegan itu menjadi sangat konyol dan tidak nyambung.

Drama aksi yang berat, dicampur dengan kelucuan serta klise-klise tapi dengan porsi yang sangat tepat dan tidak berlebihan, menjadikan film ini hampir sempurna. yap hampir…karna menurut saya masih ada hal2 kecil yang membuat saya agak kesal ama script film ini seperti ketika kenapa malah menteleportasi Kirk dan Scotty ke deretan pipa2 besar yang sempit ketimbang langsung ke deck tempat ruang kendali utama??…oh saya tau, itu agar mereka ditangkap dan memberikan kesempatan si gendut itu untuk ngmg “cupcakes”, jujur ini maksa menurutku..hahaha. Tapi tentunya hal2 kecil macam itu bisa segera saya lupakan karna adegan selanjutnya menurut saya sangat mantap. Kirk memprovokasi Spock, cool scene.

Dengan tema luar angkasa seperti ini, segera saja film ini bisa menjadi sebuah film besar dengan ribuan efek grafis nan dahsyat namun dengan karakter dan cerita yang bodoh, tapi J.J. Abrams dengan hebat memberikan cerita yang sungguh meyakinkan dengan pengembangan karakter yang bagus. Penggambaran lansekap bumi yang masih indah dan hijau, serta jembatan Golden Gate yang masih utuh, sungguh membuat hati tentram, karna kebanyakan film dgn tema masa depan seperti ini, bumi digambarin ancur2an mulu…haha.

akhir kata, saya agak ga setuju ama status teman saya diatas…
saya ga mau jadi sekedar Trekker my dear kribo friend…
saya mau jadi kru Enterprise..!!!
huahaha

9,5/10

Starring: Fran├žois Begaudeau, Nassim Amrabt, Laura Baquela, Cherif Bounaidja Rachedi, Juliette Demaille, Dalla Doucoure, Arthur Fogel, Vincent Caire, Olivier Dupeyron, Patrick Dureuil
Director: Laurent Cantet
Screenwriter: Laurent Cantet, Fran├žois Begaudeau, Robin Campillo

Saat ini sampai hari minggu ntar di Cannes, Prancis, sedang berlangsung Festival Film Cannes, saya..karna sesuatu hal, berhalangan menghadirinya (huahahha). Oleh karenanya saya merayakan festival ini dengan cara saya sendiri, menonton film yang menang Palme d’Or tahun lalu di kamar, sendirian, ditemani segelas coklat panas, sebungkus chitato besar dan hanya memakai kolor, sungguh nikmat.

Laurent Cantet, si sutradara dan Robin Champillo si penulis naskah, mengadaptasi novel semi-autobiography yang sedang laris2nya di prancis tahun kemaren karya Francois Begaudeau. Francois sendiri adalah seorang novelis yang juga bekerja sebagai guru di sebuah SMP di prancis, dan novelnya ini adalah kisah pribadinya sebagai guru di sekolah itu. Pekerjaan (ato pertaruhan) hebat dilakukan oleh sutradara, yakni tidak memakai aktor lain untuk memerankan si guru dan para murid di film ini, tapi justru Francois-lah yang berperan sebagai Francois (brarti ia skrg jadi novelis/guru/aktor..haha), dan para muridnya adalah murid2 Francois itu sendiri, begitu juga para guru lainnya. Shootingnya sendiri menghabiskan waktu hampir setahun sesuai dengan durasi sekolah disana, walo karna alasan logistik, shooting tidak dilakukan di sekolah asli Francois, tapi di sekolah lain. Dan hasilnya…ini film menjadi seperti sebuah dokumenter, yaa…gampangnya mirip2 Rachel Getting Married-lah…hehe.

Prancis, seperti kita ketahui, adalah sebuah negara multiras, begitu juga halnya dengan kelas yang diasuh oleh Francois. Pada awal film kita diperlihatkan bagaimana kesibukan dan harapan para guru menyambut tahun ajaran baru, begiru juga dengan Francois, dia mengharapkan kelasnya berisi anak2 yang cerdas. Dan memang begitulah ternyata, kelasnya diisi oleh anak2 yang cerdas, aktif, dan tidak malu2 untuk mengemukakan pendapat (impian para guru banget kyknya punya murid yg begini..hehe). Francois tentu saja senang dengan keadaan ini, sering terjadi dialog-dialog yang aktif antara dia dan murid2nya. Saya sendiri kagum dengan Francois, dia dengan begitu baik dan sabar men-handle segala pertanyaan dan sanggahan yang diberikan para muridnya, yang kadang malah berbarengan, bersahut2an satu dengan yang lain. Sebagai contoh bagaimana Esmeralda dan Khoumba, dua orang murid perempuannya, memprotes guru mereka hanya karna si guru menggunakan nama Bill untuk membuat kalimat, dan bukannya nama yang lebih prancis, karna pelajaran yang diajarkan Francois adalah bahasa prancis. Scene ini (dan scene2 lainnya) digarap begitu hidup, lucu, menarik dan kadang memancing emosi. Brillian.

Walo kemudian pergesekan antar ras, kebosanan para murid, dan pertentangan tentang suatu hal yang awalnya remeh tapi kemudian menjadi besar, tidak dapat dihindari. Karna tentu saja, suatu hal yang tidak buruk bagi seorang guru, belum tentu para muridnya menyetujuinya. Hal ini menyebabkan terjadinya hubungan yang dinamis antar guru dan murid, pada awalnya mereka bisa berteman, saling bercanda, tapi kemudian terjadi ketegangan yang mengganggu hubungan tersebut, kadang tidak bertegur sapa, tapi seiring berjalannya waktu, perselisihan itu akhirnya juga reda dan keadaan menjadi baik. Dan Laurent Cantet dengan hebat menceritakan itu semua dengan objektif, sesuai dengan etika dan perilaku sosial masing2 karakter, tanpa justru terjebak untuk menilai secara langsung mana yang benar mana yang salah diantara guru dan murid tersebut.

Che (Steven Soderbergh) sebenarnya lebih diunggulkan untuk menang tahun lalu, tapi setelah menonton ini, saya sangat setuju dengan pilihan para juri, ini film hebat, dan sangat pantas untuk menang.
Simak komentar teman saya, Sean Penn, President of the Jury Festival De Cannes 2008
“All the performances : Magic. All of the writing : Magic. All the provocation dan all of the generosity : Magic. It’s simply everything that you want film to give you”

Watchmen

April 23, 2009

Starring: Malin Akerman, Billy Crudup, Matthew Goode, Jackie Earle Haley, Jeffrey Dean Morgan, Patrick Wilson, Carla Gugino, Stephen McHattie

Director: Zack Snyder

Alan Moore pernah memperingatkan, bahwa novel grafisnya ini tidak akan bisa difilmkan, dia menjauhkan diri dari proyek ini. Dan tentu saja ia tidak akan pernah menonton film ini. Yang membuat novel ini dirasakan tidak bisa diadaptasi adalah ceritanya yang multi layer, yang penuh dengan ironi dan parodi, yang seakan menertawakan ide pembaca tantang sebuah fantasi. Nama Alan Moore pun akhirnya tidak akan kita temukan di credit title. (ga tau ya klo muncul terakhir2, karna pas pertengahan credit title di bioskop blok m tadi malam, petugasnya sudah mematikan layarnya, sungguh terkutuk, semoga tititnya bengkok, zigzag sekalian!!!!)

Tapi Snyder melakukan sebuah pekerjaan hebat, ketimbang memberikan sebuah bentuk sinematis dari novel ini (seperti yang dia lakukan di 300), ia lebih memilih memindahkan dan membangun secara langsung dunia Watchmen di media baru ini (film). Menjadikannya penuh dengan flashback dan plot yang paralel, ide-ide dahsyat dan besar dari novelnya, bisa lebih diminimalisir sehingga kita tidak terlalu terjebak kedalamnya, yang mungkin membuat kita mengatakannya sebuah hal yang aneh dan membosankan. Zack Snyder sama sekali tidak berusaha menggoyang kamera seperti sutradara lain untuk menjadikan sebuah adegan jadi menarik, dia malah memberikan sebuah koreografi yang sangat teliti dan memberikan sensasi tersendiri kepada penonton dengan keindahan yang disajikan. Lihat saja opening title sepanjang 5 menit itu (yang sudah beredar di internet dari jauh hari), sungguh memberikan kenikmatan visual yang hebat. Walaupun scene2 selanjutnya tidak seindah opening itu, tapi tambahan-tambahan visual yang simbolik pada adegan2 tersebut menjadikannya sesuatu yang beda, aneh tapi sangat nikmat. 163 menit, tidak bakal terasa.

Keputus-asaan adalah mood yang cukup terasa sepanjang film. Bersetting di tahun 1985, Richard Nixon terpilih menjadi presiden untuk kelima kalinya. Amerika telah memenangkan perang Vietnam. Dunia sedang berada di situasi krisis, ancaman bom nuklir dari Soviet membuat Amerika siaga akan meletusnya perang dunia ketiga. Dan ketika film dimulai, seorang pensiunan superhero bernama Comedian, dibunuh secara brutal (great fighting scene!). Comedian adalah salah satu anggota Watchmen, grup superhero yang sudah lama membubarkan diri. dan anggotanya sudah menjalani hidup seperti manusia biasa.

Rorschach, yang mukanya ditutup dengan potongan kain berpola tinta hitam yang bisa menyesuaikan dengan mood-nya, yang merupakan salah satu mantan Watchmen juga, menyelidiki kasus ini dan mencium adanya sebuah konspirasi besar, dia pun mulai mengingatkan teman2nya bahwa hidup mereka ada dalam bahaya. Ada Nite Owl/Dan Dreiberg, seorang pria kikuk yang mengingatkan kita akan Clark Kent. Ozymandias/Ardiyan Veidt, seorang yang disebut manusia terpintar di dunia yang sudah menjadi multimillioner. Silk Spectre/Laurie Jupiter yang menjadi superhero berpakaian ketat hanya untuk meneruskan peran ibunya. Dan terakhir adalah Dr. Manhattan, seorang yang tubuhnya berwarna biru, dan telanjang, yang merupakan seorang superhero beneran dibandingkan teman-temannya. Dia bisa berpindah kemanapun yang dia mau, dia bisa memisahkan diri menjadi tiga, dia bisa meledakkan orang, dan mengubah apapun menjadi apapun. Akan tetapi dia adalah tipe orang yang lebih suka menghabiskan waktu di kristal buatannya di mars, daripada berurusan dengan masalah manusia. Dan disinilah hebatnya Moore, i mean..Snyder..dengan narasi yang mantap, mempertanyakan sikap kepahlawanan dan tanggung jawab dari masing2 karakter, sehingga label hero kadang tidak pantas diberikan kepada mereka.

Dengan aktor2 yang tidak begitu terkenal, penampilan para pemain bisa dibilang sangatlah bagus, terutama Rorschach. Jackie Earle Haley, si pemeran penjahat pedofil di film Little Children, dengan suaranya yang berat dan dalam, berhasil memerankan karakter sosiopath Rorschach dengan brilliant. Patrick Wilson sebagai Dan Dreiberg juga bagus.

Dengan ending yang mengejutkan, (walau tidak semengejutkan ketika membaca novelnya) yang jauh dari happy ending standar film2 hollywood, film ini menceritakan kepada kita tentang sebuah dunia, yang sudah kehilangan harapan, yang semuanya diakibatkan ulah manusia, yang kemudian kita menyadari suatu hal. Kita sudah hidup di dunia seperti itu.

Oh iya, tidak seperti film aksi ato drama biasa, film ini diiringi lagu-lagu dari Bob Dylan (The Times They Are A-Changin, luv this one), Simon and Garfunkel, Nat King Cole dll..yang kalau didengar pertama kali kurang cocok dengan adegan, tapi kalau diliat liriknya, terasalah ironinya…parodi terhadap kehidupan. Lagu berjudul Hallelujah pada adegan sex??this must be something.

Great one.
berhasil membuat saya berambisi membeli dvd originalnya ntar…hahaha

True Blood (Season 1)

April 19, 2009

Jikalau sahaja, para cewek cantik yang rela turun ke jalan, tepatnya bunderan sudirman beberapa bulan lalu, sambil membawa spanduk yang bertulis “telah terbit, Breaking Dawn” itu, rela meluangkan sedikit waktunya menonton serial ini, maka kaos item seksi yang meraka pakai, tidaklah lagi bertuliskan “Bite Me”..pasti segera meraka ganti dengan “Fuck Me!”.

Begitulah sedikit gambaran, betapa vampir di serial True Blood, jauh lebih seksi, lebih hebat, lebih laki-laki dibanding si kulen, dan Sookie, karakter utama film ini, jauh jauh lebih seksi, daripada bintang twilight itu shit saya lupa namanya.
Dari segi cerita??wah wah…True Blood jauh meninggalkan Twilight, membuat Twilight jadi hanya semacam cerita buat bocah-bocah.

Tapi bukan itu kelebihan utama dari serial ini, serial ini membuat mitos vampir kembali ke asalnya, setelah dirusak oleh Twilight. Ya, Vampir itu kulitnya akan terbakar secara perlahan2 kalau kena cahaya matahari, bukannya malah bersinar kayak baju para penyanyi dangdut. Memang prosesnya berat, tapi semua vampir bisa membuat seorang manusia menjadi vampir juga, bukan kyk Twilight, yang cuman si bapak itu yg bisa bikin, ah itu film emg terlalu mendramatisir..haha. Dan tentu saja, vampir kalo membawa manusa biasa mah biasa2 aja…bukan lantas jadi ojek gendong kyk si kulen. Sungguh merendahkan mertabat vampir..haha. Dan hal2 kecil macam vampir tidak takut salib dan bawang putih.

Serial ini hebat, bahkan ketika opening yang memperlihatkan potongan2 video tantang aktivitas gereja dan sebuah klub striptease sambil diiringi musik yang sangat keren, serila ini sudah menunjukkan potensinya sebagai serial mantap. Sexy and scary, part comedy, part mystery, part fantasy adalah kata2 yang bisa mewakili ini serial, dan semuanya diramu dengan sangat apik. Alan Ball…kau emg jago.

Bercerita tentang Sookie, seorang wanita pelayan bar (yg begitu kelihatan nerd ketika bekerja, tapi sangat seksi ketika berjemur di belakang rumahnya) yang bisa membaca pikiran orang lain. Sampai suatu ketika datang seorang tamu di cafe-nya, tamu yang tidak bisa ia baca pikirannya. karna ia adalah seorang vampir. dan kita tentunya lgsg dapat menebak, Sookie jatuh cinta. Yap…disini vampir tidak perlu lagi menyembunyikan identitasnya, semenjak ditemukannya formula Trublood, darah sintetis yang menjadi konsumsi para vampir, sehingga vampir tidak perlu lagi menyerang manusia.

Cerita cinta ini terus berkembang, diantara cerita lain diseputaran dua karakter utama ini. Tentang kota kecil tempat Sookie tinggal terjadi pembunuhan berantai, bagaimana Bill Compton bercerita tentang masa lalunya dihadapan penduduk kota, sampai bagaimana Bill, musti mendapat hukuman dari komunitasnya karna melakukan hal yang fatal.

Paquin sangat hebat, dia layak mendapatkan pemeran terbaik di ajang Emmy kemaren, ga salah dia pernah mendapatkan oscar pada saat masih berusia 11 tahun, dia sekarang sudah dewasa.

oh iya.
ini serial dewasa.
haha

Dimulai dengan narasi panjang seorang tukang pos (diperankan oleh Whani Darmawan) di negara Hongaria, ia bercerita tentang bagaimana sudah sedikitnya orang yang bisa dipercayai di dunia ini, sudah sedikit orang yang jujur dan bisa mengemban amanat yang diberikan orang lain kepadanya, sampai akhirnya dia mengaku, dialah salah satu orang yang masih bisa dipercaya. Akan tetapi, sesaat kemudian dia malah membuka amplop surat yang berada di tas nya, dengan alasan dia ga mau orang yang akan menerima surat tersebut bisa stress, kaget ato bahkan shock berat ketika menerima surat yang ternyata isinya kabar buruk, jadi dengan alasan demi kebaikan sang penerima surat, surat tersebut ia musnahkan. Ya, pembenaran, dan pemaksaan masyarakat untuk menerima sesuatu belum tentu disukainya, dipaksa menerima sebuah “kebenaran” meskipun ia membencinya, adalah tagline utama lakon Keluarga Tot ini.

Dan tagline tersebut makin jelas tersampaikan ketika cerita utama bergulir. Keluarga Tot menerima kabar dari anaknya yang berada di medan perang, bahwa komandannya yang seorang mayor akan mengambil cuti dan memutuskan untuk beristirahat di rumah mereka. Mau ga mau, keluarga Tot menerima hal tersebut, terutama Mariska Tot, sang ibu yang berharap si Mayor akan betah selama masa istirahatnya sehingga ia akan mau memuluskan karier anaknya di dunia kemiliteran.

Para tetangga diberitahu, dan diminta untuk menerima dengan baik kedatangan sang Mayor, dan diharap bisa bekerjasama untuk memberikan ketenangan kepada sang Mayor, ketenangan yang dalam artian, tidak ada bunyi2an, tidak ada bau2an yang tidak menyenangkan, tidak boleh ada warna yang ga disukai sang mayor, singkatnya semua warga musti menyesuaikan kebiasaannya dengan sang mayor. Akan tetatpi yang kondisinya paling parah tentu saja Keluarga Tot, mereka harus menyesuaikan segala halnya dengan sang Mayor, jam tidur, cara berdiri, kegiatan di malam hari, bahkan lokasi jendela rumah harus mengikuti kemauan Mayor. Lajos Tot, Sang ayah dan keluarganya dengan terpaksa mengikuti itu semua, menerima kenyataan tersebut, karna sang Mayor adalah atasan anak mereka, dan nasib posisi anaknya di masa mendatang ada di tangan Mayor.

Mungkin begitulah nasib dan kondisi kita sekarang, kita dipaksa menerima lingkungan kita kotor oleh poster dan baliho para caleg yang sangat norak itu. Kita dipaksa untuk memperhatikan dan menghormati mereka padahal mereka sama sekali ga menghormati kita. Kita diperdengarkan janji-janji busuk yang cuman daur ulang dari tahun ke tahun. Kita dipaksa menerima itu semua tanpa bisa menolaknya, karna suka atau tidak, nasib bangsa di masa mendatang ada di tangan mereka. hidup golput..!!Lho???hahaha

Ketika pertama kali melihat poster acara ini di pinggir jalan dekat pasar Rawasari, saya merasa sangat tertarik untuk menontonnya, bukan saja karna ini lakon eropa (dalam hal ini Hongaria) akan diperankan oleh kelompok teater dari indonesia, tapi lebih kepada kelompok yang akan membawakannya. Teater Gandrik, sebuah kelompok teater asal Jogjakarta yang sepertinya menghapus kesan serius pada sebuah pertunjukan teater. Ketika kelompok teater lain dalam proses berteater musti serius total, suntuk, sehingga ga sempat mengurus rambut gondrongnya, Gandrik malah melakukannya proses pementasan sambil berbalas guyonan, seperti main-main, lebih rileks. Sehingga di pertunjukan kali ini kita akan melihat bagaimana para anggota Teater Gandrik musti bisa bolak balik atau bahkan mencampurkan antara “dunia Hongaria” dan “dunia Gandrik”.

Susilo Nugroho berperan sangat baik sebagai Lajos Tot. Ia terakhir saya lihat penampilannya adalah ketika Jagongan Wagen tahun lalu di Yogyakarta. Pada saat itu dia berhasil membuat saya tertawa sepanjang pertunjukan, dan begitu juga kali ini. Ngenyek dan ngembosinya yang kadang diucapkan dalam bahasa jawa berhasil membuat penonton yang datang malam itu bisa melupakan beban pekerjaan selama seminggu sebelumnya (jah..curcol….hahaha). Pemeran pria lain (sperti hanya Mayor yang diperankan Heru Kesawa Murti) menurut saya juga cukup berhasil dalam “bermain-main” dengan karakter yang dibawakan. Yap, bermain2 yang emg ciri khas Gandrik. Tapi tidak demikian halnya dengan yang wanita, sepertinya mereka terlalu serius dalam membawakan karakternya, tidak terlihat ciri khas Gandrik dalam penampilan mereka, sehingga jadi sedikit membosankan. Bahkan pada pertengahan pertunjukan saya sempat mengantuk (ini karna kebosanan lhoo..bukan karna baru pulang kantor ato malam sebelumnya bgadang karna ntn film..hehe). akan tetapi untung diselamatkan oleh penampilan Butet Kartaredjasa, monolognya yang penuh sindiran terhadap pemerintah berhasil membuat saya semangat kembali menonton pertujukan ini.

Overall saya puas, saya bisa menyaksikan kembali penampilan Teater Gandrik setelah sekian lama, dan kata pengantar Butet pada buklet yang dibagikan sebelum pertunjukan, membuat saya sama sekali tidak menyesal mengeluarkan duit 50rb untuk menonton pertunjukan ini (wlo itu artinya tak ada duit lagi buat ntn Watchmen..hiks). Jaya dunia teater indonesia..!!hurrahh..!!
haha