Tamparan yang cukup keras saya dapatkan malam ini, tamparan yang harusnya bisa menyadarkan saya kalaulah janganlah lagi percaya apa yang diteriakkan euforia, apa yang tertulis di timeline twitter atau mungkin review di multiply. Transformers…Michael Bay..jelas tidak akan menjanjikan apa-apa, pikiran ini sudah saya tanamkan dalam-dalam. Ekspektasi sudah saya rendahkan, bahkan mungkin sudah saya hilangkan. “Satu jam terakhir yang keren”, kalimat yang muncul berbagai versi susunan kata ini banyak terdengar oleh saya blakangan ini, jadi hanya berdasar kalimat itulah saya menonton film ini. Bagian yang katanya aksi abis-abisan penuh ledakan dan menggetarkan isi bioskop. Blah, tepu.

Apollo 13 ternyata membawa misi tersembunyi ke bulan sana, menyelidiki jatuhnya benda asing di sana yang ternyata adalah kapal daripada pengungsi Cybertronian yang bernama Ark. Rahasia ini tersimpan rapi sampai akhirnya musti dibuka lagi karna Decepticon diketahui mengincar reruntuhan kapal itu yang ternyata berisi Sentinel Prime dan 5 pilar yang katanya bisa menjadi alat teleportasi bla bla bla bla… Megatron masih idup ternyata, sedikit demi sedikit mengumpulkan kekuatan perang.

Sam Witwicky pengangguran, tak bisa pamer kalau dia pernah nyelamatin bumi, namun bisa pamer punya pacar seamboy Carly, pantatnya mantap pas naik tangga itu, bohay. Ini cewe kerja di galeri mobil kepunyaan Dylan, bos perlente yang menang segala-galanya dibanding Sam, cemburulah dia, merasa tak guna. Read the rest of this entry »

Onrop! Musikal

November 19, 2010

 

Siapapun yang pernah menonton film Vampire Suck sepertinya akan setuju kalau film itu sah-sah saja untuk didaulat sebagai salah satu film paling jelek tahun ini. Apa pasal?? banyak alasan yang bisa dikemukakan, namun satu yang pasti adalah, film ini melanggar hukum utama komedi. Sebuah komedi akan berhasil apabila audience tidak tau akan dibawa kemana guyonan itu, sedangkan Vampire Suck malah memberikan semua yang penonton bisa pikirkan untuk menyindir Twilight. Vampir berbedak,vampir yang mengganggap manusia sebagai pangan, vampire bling2, werewolf penuh bulu..semua ada dan ditampilkan dengan begitu nista tanpa ada kejutan humor apa-apa, basi jayus dangkal dan banal. Dan apa hubungannya dengan ONROP yang baru saya tonton beberapa jam lalu?. ONROP juga melakukan kesalahan yang sama, yang untuk kemudian melipatgandakannya.

Bram adalah penulis novel yang ditangkap polisi moral karna tak sengaja mencantumkan kata telanjang di dalam novel terbarunya, ini melanggar hukum anti onropgrapi yang berlaku dan sebagai hukumannya dibuanglah ia ke pulau Onrop. Sari yang pacarnya Bram juga demikian, senang memakai pakaian minim membuat dia juga ditangkap oleh polisi moral, namun nasibnya tak “senaas” Bram, dia dilepaskan dan tak jadi dikirim ke pulau Onrop.

Tidak perlu seorang jenius untuk menyadari kalau yang akan diangkat oleh lakon ini adalah sindiran terhadap keadaan negara akhir-akhir ini, sensor dimana-mana serta polisi moral tak resmi yang merajalela. Namun sayangnya apa-apa poin yang disindir dan kearah mana guyonnya sudah tidak ada hal baru disana. Komedinya tidak lagi menjadi satir nan cerdas karna hal-hal tersebut bahkan sudah sering dibicarakan oleh alay2 berambut ala Pete Weinz bercelak mata dan bercelana pensil. Guyonannya tidak lagi menjadi sarkastis malah kemudian menjurus kearah mengolok-ngolok, persis kyk anak sd yang abis diejek2 trus bales nyindir-nyindir. Dan kemudian guyonan basi dangkal itu semakin dibuat menjadi-jadi yang kemudian berhasil membuat saya merinding sambil berkata “oh…come on!”. Ini terjadi ketika penari jaipong diringkus dan pria yang memakai koteka itu berusaha melawak, hanya sebegitu kemampuan lakon ini untuk melucu??. Tsk.

Eko Suprianto yang berhasil membuat saya merinding disko ketika penampilan dan tarinya nan magis menyihir saya lewat film Opera Jawa, kali ini dia berhasil memberikan sentuhan modern nan apik dalam tarinya. Tarinya yang rancak dan kompak merupakan sebuah pertunjukan menarik tersendiri buat saya. Namun sangat disayangkan, tariannya itu akan tetap keren walaupun terpisah dari lakon Onrop. Loh bukannya bagus? menurut saya tidak…tariannya seakan-akan tidak memiliki kekhasan tersendiri per-scenenya. Tidak engaging pada lakonlah istilahnya. (istilah opo iki -___-)

Penampilan para pemain menurut saya bagus mengingat kabarnya mereka bukannya pelakon thater profesional, namun yang jadi juaranya adalah Ario Bayu. Berperan sebagai Amir, asisten Bram, Ario Bayu berhasil memberikan kesegaran tersendiri diantara kejayusan yang berserakan di lakon ini. Penampilannya yang gemulai dan celetukannya yang segar berhasil memberikan saya beberapa cengiran diantara puluhan nguap yang dilakukan mulut saya. Standing ovation saya khusus untuk dia tadi.

Overall, sebagai pertunjukan theater paling mahal yang pernah saya jabanin, Onrop resmi menjadi theater paling ngebosenin yang pernah saya tonton. Sehingga sangat disayangkan, tata panggung nan megah serta musik yang meriah, seakan2 mubazir hanya dipakaikan ke dalam sebuah lakon yang seegini dangkalnya.

Ini cuma opini, kamu takut apa?

🙂

 

3/10

3D yang digarap dengan benar, maksud saya dengan jujur menggunakan kamera 3D, selama ini belum pernah membuat saya terganggu, saya selalu menyukainya. Avatar tentu saja brilliant, How To Train Your Dragon surprisingly fun..bahkan film buruk macam Resident Evil mempunyai 3D yang sangat dahsyat. Namun Legend of The Guardians in mempunyai masalah terbesar dengan penggunaan 3D. No no no…saya tak bermaksud bilang 3Dnya jelek, 3Dnya tetap kueren ampun-ampunan. Hujan badai angin api dan udara (ini pelajaran eleman ya -___-) digambarkan dengan sangat detil. Bebuluan itu burung hantu digambarkan dengan sangat indah dan realistis. Nah, realistis inilah yang mengganggu saya, apa pasal?.

Cobalah perhatikan burung hantu, ga bisa nemu ya googling brarti dul. Perhatikan apa yang paling khas dari mereka, yak betul…muka datar mereka, muka tanpa ekpresi itu. Dan karna betapa realistisnya ini film, ekspresi datar para karakter membuat film ini terasa tanpa emosi. Belum lagi kalau membahas betapa miripnya bentuk mereka, dengan banyaknya karakter di film ini menjadikan film untuk anak-anak ini pastinya akan membuat anak-anak akan bertanya pada orangtuanya itu siapa ini siapa yg jahan yang mana yang baik yang mana, karna mereka mirip semua!. Pas battle scene terakhir contohnya, anda tak akan bisa membedakan mana yg baik mana yang jahat karna semuanya sama-sama pakai armor, yg bedain paling matanya yg merah itu yg jahat, namun itu juga jarang kliatan. Yg difokusin Snyder adalah sabet-sabetan senjata, slow motion (300 bangeett) dan itu sama sekali tak membantu. Dan ujung-ujungnya, tenimbang saya menyemangati jagoan untuk menang dan mengucapkan die die die pada penjahat, saya akhirnya duduk manis dan bosen menunggu kapan ini film berakhir. Saya sudah ga peduli dengan karakter-karakter di film ini, karna mereka sama sekali tak bisa menyentuh sanubari saya yg terdalam (omg).

Dan karna realistis ini jugalah adegan burung hantu menempa armor dan pisau tajam buat kuku terasa begitu konyol, oh iya..maen harpa juga konyol. Lain halnya jika gaya film ini tidak realistis mgkn lebih bisa diterima akal. Ini adalah bukti 3D melecehkan mata dan otak kita untuk bisa lebih berimajinasi.

Saya sama sekali blank tentang novel yg jadi cikal bakal film ini. Namun setelah mengetahui kalau ini diangkat dari 3 novel awal dari 15 novel, pantes aja ada beberapa hal yang sangat mengganggu karna tak terjelaskan dengan baik. Bagaimana bisa burung hantu kecil itu bisa terhipnotis hanya karna liat bulan?? entah. Bagaimana bisa fleck (bijih logam entah apa) bisa sebegitu powerfull sehingga membuat owl jahat ingin begitu menguasainya?? mbuh. Bagaimana bisa para Guardian semacam langsung lemah syahwat ketika sulur-sulur magis fleck menyentuh mereka?? ma tau wak. Trus itu landak di pinggir jurang apa maksudnya sih?? dia ngomong tentang ramalan apa tepatnya??plak!!.

Oh my god, i look like a genuine hater in here, sungguh saya tak mau sebenarnya menjelek-jelekkan film yang mendapat nilai sempurna dari beberapa teman saya, mereka pada ngasih 10/10. Dan hal itulah sebenarnya yang membuat saya semakin penasaran tentang film ini, namun ternyata yang saya lihat ya begini. Cerita dua bersaudara yang satunya menyeberang ke pihak jahat dan akhirnya bertempur adalah terlalu biasa. Cukup menarik awalnya melihat simbolisasi fasis di film ini namun ternyata berujung biasa-biasa saja. Dan bukannya terlihat seperti menghadapi sebuah dilema tingkat tinggi, Soren, karakter utama film ini malah terlihat begitu naif polos bin bodoh ketika dihadapkan pada kenyataan harus menghadapi saudaranya sendiri.

3D movie is still movie, ga musti selalu tentang kecanggihan teknologi.

 

4/10

Sepuluh (2009)

February 8, 2009

Pemain : Ari Wibowo, Rachel Maryam, August Melasz, Keke Harun, Yofana
Sutradara : Henry Riady
Penulis : Henry Riady, Doddy Soeriapoetra

Sebenarnya minggu ini bukanlah film Sepuluh yang rencananya saya tonton, tapi antara Underworld, ato Valkrie dan Defiance di midnight show, tapi dikeranakan td malam saya tepar, Valkrie dan Defiance gagal, tinggal Underworld yang menjadi tujuan saya. Tapi tadi pagi saya teringat obrolan saya dengan seorang teman mp bernama dapit the great, dia bertanya apakah saya bakal ntn film Sepuluh ato gak, karna dia sendiri penasaran ama film ini, soalnya katanya  film ini disutradarai ama sutradara yg baru berumur 19 tahun, dan film ini film ketiga didunia yang memakai teknologi red camera digital terbaik, pas saya tanya kok bisa seorang anak berusia 19 dah diberi kepercayaan membesut film big budjet dgn kamera mahal, si dapit menjawab, “dia cucunya yg punya lippo group”. ok, make sense…make sense juga ketika saya melihat credir titlenya yang ternyata didukung nama2 beken macam Addie MS di composer, Didi Petet di pelatih akting…dan nama2 tenar lainnya di bagian castnya… jadilah saya hari ini ingin membuktikan sebagus apa bikinan dia.

Satu hal yang paling saya waspadai dari film indonesia terutama yg bergenre macam ini adalah ceritanya, temanya adalah perjuangan anak jalanan, seorang wanita yang tegar menghadapi cobaan, dan seorang pria yang mempunyai anak yang penyakitan. dan ketiganya yang ternyata punya hubungan di masa lalu bakal bertemu karna sesuatu hal.
sangat biasa.

Dan bagaimana si sutradara meramunya?
Wanita tersebut bernama Yanti (diperankan oleh Rachel Maryam), suatu hari putrinya tiba2 hilang, tidak hanya itu, dia ternyata sudah dijebak oleh suaminya sendiri, masuk penjaralah ia, 10 tahun kemudian barulah dia bebas. dia kemudian kembali ke rumah suaminya untuk menanyakan anaknya yang hilang tapi dia diusir ama mertuanya. Akhirnya suatu hari ia bertemu dengan Mongki (Yofana), seorang anak jalanan dan kemudian malah berteman dengannya, Yanti menjadikan Mongki semacam pengganti anaknya. Mongki sendiri bekerja dibawah seorang preman bernama Dargo, seorang penjahat kelas kakap. Nah selain itu ada pulak cerita Thomas (Ari wibowo) seorang duda beranak satu. anaknya sendiri penyakitan dan segera membutuhkan donor ginjal, terdesak oleh waktu, Thomas memutuskan untuk membeli ginjal secara ilegal dari Dargo…dst dst dst.

Ah sungguh sinetron sekali, twistnya kurang menggigit, alurnya yang sangat lurus hampir membuat saya mati kebosanan. saya bukannya membenci film yg alurnya lurus, tapi dengan cerita yang sangat biasa ini, menggunakan alur yang sangat aman ini adalah cara yang sedikit kurang bijak menurut saya, mbok ya gunakan cara yang sedikit beda, berani, biar kekurangan di segi cerita bisa sedikit tertutup.

Tapi penggunaan kamera mahal itu emg menghasilkan gambar yang bagus menurut saya, gambarnya jernih dan teknik si sutradara mengambil gambar juga lumayan, lumayan lho…bukan keren atopun jelek..haha.

Aktingnya yaaa….lumayan juga, ga terlalu istimewa, adegan Yanti tereak2 minta anaknya dikembalikan juga ga bikin saya bergidik (note : adegan tereak2 marah artis kan biasanya jadi acuan aktingnya bagus apa gak..hahahhaha). oh iya…si Yofana manis euy…ada anak jalanan semanis dia mau dah saya angkat jadi pembantu..hahahhaa

ya yaaa…begitulah…sebuah kampanye untuk melihat kenyataan anak jalanan dan peduli kepada mereka yang menurut saya….yaa…lumayan basi.

nontonlah kalo mau…haha

4/10