HipHopDiningrat

December 2, 2010

Ini adalah film pertama di gelaran Jiffest 2010 yang saya tonton, dan melihat perkembangan terakhir, mungkin ini juga jadi yang terakhir. Padahal banyak banget yg ingin saya tonton, tapi diskriminasi penjualan tiket membuat saya kehabisan tiket. Ya sudahlah, walau Jiffest sudah tidak begitu ramah terhadap saya, setidaknya saya masih berkesempatan menonton satu film yang benar-benar membuat saya penasaran, film yang harusnya invitation only ini bisa saya tonton gegara menang kuis @bicarafilm di twitter, lewat cara apalagi coba orang biasa seperti saya bisa menonton film di gelaran festival film eksklusif ini selain ikut kuis, haha.

Menghabiskan masa kuliah selama 5 tahun di jogja benar-benar membuat saya jatuh cinta akan banyak hal disana, terutama bidang seni. Acara teater, tari, musik adalah acara-acara yang paling banyak saya datangin selama di jogja. Mendatangi acara-acara begitulah saya berkenalan dengan grup rap bernama Rotra, Jahanam, Kill The DJ, dll. Dan pas gelaran Jagongan Wagen 2008-lah saya jadi benar-benar melihat mereka dari dekat dan menjadi suka atas apa yang mereka suguhkan. Mereka semua tergabung dalam Jogja Hip Hop Foundation, dan film ini adalah tentang mereka. Read the rest of this entry »

Mungkin alasan yang dipublish ke umum tentang kenapa Deathly Hallows dibagi menjadi 2 bagian adalah untuk memuaskan die hard fans serial ini, ingin menceritakan semua yang ada di buku ratusan halaman itu sehingga tak ada yg terlewatkan yang kemudian bisa membuat fans beratnya marah. Namun setelah menonton part 1 ini, saya yakin seyakin-yakinnya, ini hanya akal-akalan semata produser yang ingin mengeruk untung dobel dari seri terakhir franchise ini, terlalu banyak flashback, terlalu banyak cerita yang bertumpuk, terlalu lambat dan bertele-tele, dan yang paling utama, terlalu banyak waktu saya yang terbuang. 2 setengah jam dan yang saya dapat hanyalah cerita yang datar dan membosankan.

Keputusan yang salah menurut saya yang dilakukan oleh screenwriter Steve Kloves, menulis ulang apa yang terdapat di buku dan menampilkannya di layar bioskop. Kita mengikuti pencarian sisa Horcrux 3 sahabat ini melintasi Inggris untuk menghancurkannya. Kita mengikuti pelarian mereka dari acara pernikahan itu, kita melihat mereka mulai bertengkar, berdiskusi, berkemah, menari bla bla bla. what you read is what you get, dan itulah kenapa part 1 ini membosankan. Karna ketika membaca imajinasi kita bermain dan itu jadi kesenangan tersendiri. Rincian  tambahan, sifat karakter, detail setting adalah suatu kekayaan tersendiri sebuah sastra. Sedangkan ketika saya menonton film ini, imajinasi yg tadi saya bayangkan itu sudah tertuang di layar dan saya hanya menyaksikannya saja, tidak ada lagi yang bisa saya lakukan, sehingga ia menjadi membosankan. Maaf kalau score tidak terlalu berhasil membuat saya menganggap ini dark, maaf juga sinematografernya juga tidak begitu hebat menggambarkan suasana dramatis menurut saya, semua ini hanya karna saya sudah kadung kebosanan sepanjang film. Dan sungguh, adegan dansa itu ketika di buku terbayang sangat manis, namun di film kok ya canggung pisan.

David Yates mempertahankan gaya gothic yang dia bawa dari film sebelumnya, menyesuaikan dengan basic cerita yang mulai memasuki masa-masa kelam. Voledemort sudah menginfiltrasi kementrian dan mendirikan pemerintahan baru, memerangi muggle dan menduduki Hogwarts. Potter dan konco-konconya malah memasuki kantor kementrian untuk mencari horcrux. Dan mengapa juga ini saya nulis sinopsisnya padahal semua umat udah hapal luar dalam tentang ceritanya zzz.

Daniel Radcliffe tentu saja seperti biasa, selalu termenung dan dikit-dikit khawatir, entah emang karakternya yang ga berkembang selama 7 buku atau memang akting dia yang ga berkembang setelah hampir 10 tahun. Rupert Grint malah cukup bagus terlihat, karakternya sebagai Ron wesley yang memang jadi sangat pencemburu dan pemarah gegara pengaruh liontin itu berhasil dia bawakan dengan baik. walau ekspresi dibawah pengaruh liontin itu mau ga mau mengingatkan saya akan pengaruh The One Ring terhadap Frodo haha. Emma watson, aduh..nulis namanya aja saya dah deg-degan, dia yang sungguh sangat culun di Sorcorers Stone sekarang sudah menjadi cewe yang sangat..omg, speechless gw.. gorgeous!, splendid! magnificent! beautiful!!. Namun sayang, Bill Nighty, Helena Bonham carter, Ralph Fiennes yang seharusnya memberikan jaminan penampilan akting yang sempurna, hanya tampil sedikit disini. Scene stealer malah diambil oleh bukan manusia, tapi seorang peri rumah bernama Dobby. Penampilannya yang singkat berhasil menghilangkan rasa kebosanan saya barang sejenak.

And am pretty sure right now that Emma Watson is a goddess

4/10

Guzaarish

November 27, 2010

First of all, untuk anda yang rewel dan hobi mengeneralisasikan sesuatu sehingga apabila melihat judul film india yang terlintas di pikiran hanyalah pertanyaan “ada nyanyi-nyanyi sambil joget-joget norak diiringi puluhan penari ala musikal Onrop gak di film ini” maka saya akan langsung menjawabnya di paragraf pertama ini khusus buat anda. Jawabannya adalah tidak ada. Memang disini juga ada nyanyian, tapi itu bukan nyanyian norak (ada yg bilang lagu Smile norak, gw gaplok!) dan What a Wonderful World jelaslah bukan lagu yg pantas disepelekan.

Lihat deh poster filmnya yang dipampang di Blitzmegaplex, kalau itu kejauhan untuk anda kalau musti kesana dulu, liat aja poster yang saya pasang di review ini. Walaupun dibintangi oleh mantan Miss World yang juga menantu Amitabh Bhatchan, Aishwarya Rai dan lawan main yang gak kalah terkenalnya, heartrob dunia perfilman India yang bernama Hritrik Roshan, Film ini justru tidak memasang nama mereka di posternya, tapi nama Sanjay Leela Banshali-lah yang dipasang persis diatas judul filmnya. Sang sutradara memang memliki nama yang harum di Bollywood, kesuksesannya menggarap adaptasi ketiga dari novela Devdas yang menjadi film termahal di India waktu itu, dan film sang pemecah rekor penghargaan filmfare (oscar-nya india) berjudul Black, menjadikan Bhansali menjadi seorang sutradara yang sangat disegani.

Mirip dengan Black, kecacatan menjadi premis yang diangkat oleh Bhansali di film ini, bedanya kalau di Black yang merupakan adaptasi A Miracle Worker itu karakternya tidak menyerah atas kekurangan yang ia miliki, di Guzaarish ini justru Ethan, karakter utamanya mengajukan permintaan Euthanasia kepada pengadilan India karna sudah tidak tahan dengan kelumpuhan yang ia alami selama 14 tahun terakhir. Euthanasia adalah permintaan untuk mengakhiri hidup diri sendiri a.k.a ijin bunuh diri. Pengadilan India yang selama ini sangat menolak hal itu terpaksa jadi sibuk karna yang meminta adalah mantan pesulap nomer satu negara itu yang segera menjadi perhatian media massa ketika permintaannya itu dilontarkan. Apalagi Ethan, melalui radio yang ia jalankan bersama Sofia, perawat setianya, berhasil meyakinkan para pendengarnya untuk mendukung permintaannya itu. belum lagi kemunculan ibu Ethan yang ternyata juga mendukungnya.

Melodrama yang sangat potensial menguras emosi, dengan scene-scene yang cukup berhasil menyampaikan dengan baik kegetiran yang dirasakan Ethan, serta pace yang boleh dibilang cukup cepat. Namun sayang hal itu banyak dirusak oleh humor komikal dan subplot yang sekedar lalu sahaja. Kemunculan awal Omar, anak muda yang ingin belajar sulap ama Ethan benar-benar membuat saya gelisah, guyonan yang disampaikan terasa sangat janggal dengan scene-scene muram sebelum2nya. Subplot yang mengungkapkan penyebab kecacatan yang dialami Ethan tidak terlalu berhasil menjadi sebuah twist menurut saya, bahkan bagian tersebut selain hanya lewat gitu doang tanpa ada pengembangan lebih lanjut, ia juga tak berpengaruh kepada keputusan Ethan yang menjadi fokus utama film ini. Dan kemunculan emak Ethan itu kok ya raasanya kurang wah ya.

Hritrik Roshan bermain sangat meyakinkan, tubuhnya yang selalu berisi dan berotot kekar di film2nya yang lain menjadi kurus disini, dan tampangnya yang berewokan itu semakin meyakinkan kalau ia adalah seorang pesakitan. ekspresinya juga juara, senyum semangat namun penuh kegetiran yang sesuai dengan tema film ini berhasil dia sampaikan lewat mimik mukanya. Aishwarya Rai kebanyakan pake tetes mata, hobi banget matanya merah dan menangis.

Jelas, menurut saya ini bukan pencapaian terbaik Bhansali, Black masih menduduki peringkat pertama film Bhansali yang paling keren menurut saya. tapi juga ini bukan yang terburuk, saya tentu saja lebih suka ini dibanding Saawariya.

6/10

Unstoppable

November 26, 2010

Film aksi yang berhasil menurut saya adalah film yang bisa membuat saya duduk dengan tegak, sesekali memajukan badan ke depan, membuat saya menahan nafas serta membuat pasangan brisik di samping juga terdiam. Unstoppable berhasil melakukan itu semua pada setengah bagian terakhirnya. Menegangkan dan menimbulkan perasaan was-was yang hebat. Perhatian saya benar-benar tertuju ke layar dan sejenak membuat saya melupakan sakit kepala yang saya alami sedari pagi tadi. Saya memang sangat suka film-film yang menegangkan begini, jauh lebih suka dibanding ketegangan yang diakibatkan oleh Emma Watson jika ia melakukan lap dance kepada saya. Dan yak, kalimat terakhir ini unsur bohongnya sungguh kentara.

Sesuai dengan apa yang saya bilang tadi, setengah terakhirlah yang membuat saya tegang (no ambiguity here!!), sedangkan setengah awalnya..yeah well, boring stuff kalau tak mau saya gunakan kata “tipikal”. Frank yang diperankan oleh Denzel Washington adalah masinis veteran yang hampir pensiun, dan Will yang dimainkan oleh Chris Pine adalah konduktor newbie yang ditugaskan barengan ama si Frank. Ini formula basi. Frank punya masalah dengan anak cewenya, karna lupa ulang tahun si cewe sehingga anaknya agak2 bete gitu deh ama dia. Will pun punya masalah dengan istrinya, temperamennya yang tinggi membuat ia diharuskan menjarak dari istri dan anaknya. Oh drama para tokoh utama ini juga adalah formula yang kuno untuk menarik simpati penonton. Jangan lupakan pemilik perusahaan kereta api yang egois, penduduk yang bandel, polisi yang selalu tanpo guno bla bla bla boring basi dan tipikal. Dan untunglah..setengah film terakhir, Tony Scott mengeluarkan kemampuan terbaiknya untuk membungkus ketegangan penyelamatan kereta api tanpa awak yang melaju kencang menuju kota penuh penduduk ini menjadi sebuah ajang penyelamatan yang memacu adrenalin.

Pengambilan kamera khas Scott yang cepat, aksi yang kotor, aerial view yang menarik dan tone warna yang segar membuat ketegangan film ini terasa lebih baru. Ples penempatan joke khas film-film yang dibintang Denzel selalu mengena di hati saya. Denzel adalah salah satu aktor yang penampilannya selalu membuat saya nyengir setiap dia mengeluarkan kesinisannya. Walaupun giginya yang rapi putih bersih terasa sangat aneh diantara teman2 masinisnya yang sepertinya kotor, Denzel lagi-lagi memberikan penampilan yang sangat baik. Dia terlihat begitu meyakinkan sebagai seorang masinis yang sudah mempunyai pengalaman 28 tahun. Pun dengan Chris Pine, wlo dia terlalu ganteng kyknya buat jadi penugas kondektur kereta api, dia bermain aman. Yang sangat tak meyakinkan paling si Rosario Dawson, walaupun dia sudah berusaha keras untuk panik namun tetap aja dia Rosario Dawson, tak cocok jadi kepala stasiun kereta api haha.

Film ini memang sangat tipikal, dua orang yang sama sekali bukan super human berusaha menyelamatkan sebuah kota dari kecelakaan hebat kereta api yang mungkin akan membakar habis manusia-manusia di sana. Tapi karna ia digarap oleh Tony Scott, suhu daripada film-film aksi, Unstoppable jadi sebuah film penyelamatan yang cukup bikin adrenalin terpacu. Apalagi ia dibintangi oleh Denzel Washington, film kelima ia bersama Tony Scott, tentunya ia bisa membawakan peran yang diinginkan Scott dengan sangat baik. Scene demi scene tersusun dengan rapi, pace-nya perlahan-lahan naik, dan aksinya setahap-demi setahap semakin intens. Its purely classic thriler motion picture about motion.

love it.

 

7/10

Onrop! Musikal

November 19, 2010

 

Siapapun yang pernah menonton film Vampire Suck sepertinya akan setuju kalau film itu sah-sah saja untuk didaulat sebagai salah satu film paling jelek tahun ini. Apa pasal?? banyak alasan yang bisa dikemukakan, namun satu yang pasti adalah, film ini melanggar hukum utama komedi. Sebuah komedi akan berhasil apabila audience tidak tau akan dibawa kemana guyonan itu, sedangkan Vampire Suck malah memberikan semua yang penonton bisa pikirkan untuk menyindir Twilight. Vampir berbedak,vampir yang mengganggap manusia sebagai pangan, vampire bling2, werewolf penuh bulu..semua ada dan ditampilkan dengan begitu nista tanpa ada kejutan humor apa-apa, basi jayus dangkal dan banal. Dan apa hubungannya dengan ONROP yang baru saya tonton beberapa jam lalu?. ONROP juga melakukan kesalahan yang sama, yang untuk kemudian melipatgandakannya.

Bram adalah penulis novel yang ditangkap polisi moral karna tak sengaja mencantumkan kata telanjang di dalam novel terbarunya, ini melanggar hukum anti onropgrapi yang berlaku dan sebagai hukumannya dibuanglah ia ke pulau Onrop. Sari yang pacarnya Bram juga demikian, senang memakai pakaian minim membuat dia juga ditangkap oleh polisi moral, namun nasibnya tak “senaas” Bram, dia dilepaskan dan tak jadi dikirim ke pulau Onrop.

Tidak perlu seorang jenius untuk menyadari kalau yang akan diangkat oleh lakon ini adalah sindiran terhadap keadaan negara akhir-akhir ini, sensor dimana-mana serta polisi moral tak resmi yang merajalela. Namun sayangnya apa-apa poin yang disindir dan kearah mana guyonnya sudah tidak ada hal baru disana. Komedinya tidak lagi menjadi satir nan cerdas karna hal-hal tersebut bahkan sudah sering dibicarakan oleh alay2 berambut ala Pete Weinz bercelak mata dan bercelana pensil. Guyonannya tidak lagi menjadi sarkastis malah kemudian menjurus kearah mengolok-ngolok, persis kyk anak sd yang abis diejek2 trus bales nyindir-nyindir. Dan kemudian guyonan basi dangkal itu semakin dibuat menjadi-jadi yang kemudian berhasil membuat saya merinding sambil berkata “oh…come on!”. Ini terjadi ketika penari jaipong diringkus dan pria yang memakai koteka itu berusaha melawak, hanya sebegitu kemampuan lakon ini untuk melucu??. Tsk.

Eko Suprianto yang berhasil membuat saya merinding disko ketika penampilan dan tarinya nan magis menyihir saya lewat film Opera Jawa, kali ini dia berhasil memberikan sentuhan modern nan apik dalam tarinya. Tarinya yang rancak dan kompak merupakan sebuah pertunjukan menarik tersendiri buat saya. Namun sangat disayangkan, tariannya itu akan tetap keren walaupun terpisah dari lakon Onrop. Loh bukannya bagus? menurut saya tidak…tariannya seakan-akan tidak memiliki kekhasan tersendiri per-scenenya. Tidak engaging pada lakonlah istilahnya. (istilah opo iki -___-)

Penampilan para pemain menurut saya bagus mengingat kabarnya mereka bukannya pelakon thater profesional, namun yang jadi juaranya adalah Ario Bayu. Berperan sebagai Amir, asisten Bram, Ario Bayu berhasil memberikan kesegaran tersendiri diantara kejayusan yang berserakan di lakon ini. Penampilannya yang gemulai dan celetukannya yang segar berhasil memberikan saya beberapa cengiran diantara puluhan nguap yang dilakukan mulut saya. Standing ovation saya khusus untuk dia tadi.

Overall, sebagai pertunjukan theater paling mahal yang pernah saya jabanin, Onrop resmi menjadi theater paling ngebosenin yang pernah saya tonton. Sehingga sangat disayangkan, tata panggung nan megah serta musik yang meriah, seakan2 mubazir hanya dipakaikan ke dalam sebuah lakon yang seegini dangkalnya.

Ini cuma opini, kamu takut apa?

🙂

 

3/10

3D yang digarap dengan benar, maksud saya dengan jujur menggunakan kamera 3D, selama ini belum pernah membuat saya terganggu, saya selalu menyukainya. Avatar tentu saja brilliant, How To Train Your Dragon surprisingly fun..bahkan film buruk macam Resident Evil mempunyai 3D yang sangat dahsyat. Namun Legend of The Guardians in mempunyai masalah terbesar dengan penggunaan 3D. No no no…saya tak bermaksud bilang 3Dnya jelek, 3Dnya tetap kueren ampun-ampunan. Hujan badai angin api dan udara (ini pelajaran eleman ya -___-) digambarkan dengan sangat detil. Bebuluan itu burung hantu digambarkan dengan sangat indah dan realistis. Nah, realistis inilah yang mengganggu saya, apa pasal?.

Cobalah perhatikan burung hantu, ga bisa nemu ya googling brarti dul. Perhatikan apa yang paling khas dari mereka, yak betul…muka datar mereka, muka tanpa ekpresi itu. Dan karna betapa realistisnya ini film, ekspresi datar para karakter membuat film ini terasa tanpa emosi. Belum lagi kalau membahas betapa miripnya bentuk mereka, dengan banyaknya karakter di film ini menjadikan film untuk anak-anak ini pastinya akan membuat anak-anak akan bertanya pada orangtuanya itu siapa ini siapa yg jahan yang mana yang baik yang mana, karna mereka mirip semua!. Pas battle scene terakhir contohnya, anda tak akan bisa membedakan mana yg baik mana yang jahat karna semuanya sama-sama pakai armor, yg bedain paling matanya yg merah itu yg jahat, namun itu juga jarang kliatan. Yg difokusin Snyder adalah sabet-sabetan senjata, slow motion (300 bangeett) dan itu sama sekali tak membantu. Dan ujung-ujungnya, tenimbang saya menyemangati jagoan untuk menang dan mengucapkan die die die pada penjahat, saya akhirnya duduk manis dan bosen menunggu kapan ini film berakhir. Saya sudah ga peduli dengan karakter-karakter di film ini, karna mereka sama sekali tak bisa menyentuh sanubari saya yg terdalam (omg).

Dan karna realistis ini jugalah adegan burung hantu menempa armor dan pisau tajam buat kuku terasa begitu konyol, oh iya..maen harpa juga konyol. Lain halnya jika gaya film ini tidak realistis mgkn lebih bisa diterima akal. Ini adalah bukti 3D melecehkan mata dan otak kita untuk bisa lebih berimajinasi.

Saya sama sekali blank tentang novel yg jadi cikal bakal film ini. Namun setelah mengetahui kalau ini diangkat dari 3 novel awal dari 15 novel, pantes aja ada beberapa hal yang sangat mengganggu karna tak terjelaskan dengan baik. Bagaimana bisa burung hantu kecil itu bisa terhipnotis hanya karna liat bulan?? entah. Bagaimana bisa fleck (bijih logam entah apa) bisa sebegitu powerfull sehingga membuat owl jahat ingin begitu menguasainya?? mbuh. Bagaimana bisa para Guardian semacam langsung lemah syahwat ketika sulur-sulur magis fleck menyentuh mereka?? ma tau wak. Trus itu landak di pinggir jurang apa maksudnya sih?? dia ngomong tentang ramalan apa tepatnya??plak!!.

Oh my god, i look like a genuine hater in here, sungguh saya tak mau sebenarnya menjelek-jelekkan film yang mendapat nilai sempurna dari beberapa teman saya, mereka pada ngasih 10/10. Dan hal itulah sebenarnya yang membuat saya semakin penasaran tentang film ini, namun ternyata yang saya lihat ya begini. Cerita dua bersaudara yang satunya menyeberang ke pihak jahat dan akhirnya bertempur adalah terlalu biasa. Cukup menarik awalnya melihat simbolisasi fasis di film ini namun ternyata berujung biasa-biasa saja. Dan bukannya terlihat seperti menghadapi sebuah dilema tingkat tinggi, Soren, karakter utama film ini malah terlihat begitu naif polos bin bodoh ketika dihadapkan pada kenyataan harus menghadapi saudaranya sendiri.

3D movie is still movie, ga musti selalu tentang kecanggihan teknologi.

 

4/10

Director : Remy Belvaux;
Producer : Remy Belvaux, Andre Bonzel, Benoit Poelvoorde;
Screenplay : Remy Belvaux, Andre Bonzel, Benoit Poelvoorde, Vincent Tavier; Camera : Andre Bonzel

Cast : Benoit Poelvoorde, Remy Belvaux, Andre Bonzel, Jean-Marc Chenut, Alain Oppexxi, Vincent Tavier

“how can you design low cost housing project in total disregard for aestetics? i cant accept that i’m sorry, they thought of planting japanese cherry trees along the lanes in the style of english beach resorts, a truly grand idea but they didn’t follow through, thats the shame of it, it was purely cosmetic, just to dazzle them and people feel for it.”

Bukan, komentar diatas bukanlah diucapkan oleh mantan mahasiswa arsitektur seperti saya, bukan juga arsitek terkenal, tapi itu adalah komentar Benoit, yang akrab dipanggil Ben, seorang pria Belgia. Pria yang lucu, pintar, jago maen piano. Pria ini adalah kesayangan keluarga, perilakunya selalu menyenangkan keluarganya. Dia juga bisa bikin puisi, tentang sepasang merpati, dia juga suka menyanyi, suka mentraktir teman-temannya, dan pengetahuannya tentang banyak bidang sungguh membuat dia menjadi sosok yang sangat menyenangkan.

But he is a mass murderer

Disutradarai oleh Remy Belvaux, Andre Bonzel dan Benoit Poelvoorde, yang juga berposisi sebagai penulis, kameraman, produser sekaligus pemain dalam film ini. Diambil dengan handheld camera karena memang dimaksudkan sebagai film dokumenter, gambar hitam putih serta tanpa musik latar sama sekali – selain pas Ben bermain piano itu -, menjadikan dokumenter bohong-bohongan ini terasa sungguh nyata. Bercerita tentang 3 orang crew film yang mengikuti kegiatan sehari-hari serang pembunuh berantai yang bernama Ben (yang dimainkan oleh Benoit). Mereka mengikuti Ben berkunjung ke toko orang tua Ben, mewawancarai keluar Ben, diperlihatkan betaba Ben adalah seorang yang sangat disayangi keluarganya….dan kita, sebagai penonton, pun mulai menyukai karakter Ben ini.

Walaupun adegan pertama film ini sudah diperlihatkan adalah seorang pembunuh, seorang penumpang kereta api tak bersalah, dicekeknya ampe mati. Tapi bagaimana Ben bercerita bagaimana metode ia membuang mayat-mayat yang telah dibunuhnya kedalam sungai (penjelasan tentang perbandingan berat batu yang digunakan sebagai pemberat dengan usia korban) terasa cukup membuat kita mengagumi karakter Ben. Narsis, sangat percaya diri, talkactive, pintar dan punya banyak keahlian semakin membuat penonton sedikit mengacuhkan, kalau Ben ini adalah seorang pembunuh, bahkan secara tidak sadar, kita (well…saya mksdnya haha) “menikmati” pembunuhan2 yang dilakukan oleh Ben. Dari anak kecil hingga orang-orang biasa, tapi korban favoritnya adalah tukang pos.”I usually start the month with a postman,” katanya.

Lihat aja adegan setelah Ben berkomentar terhadap perumahan di paragraph atas, dia mendatangi sebuah rumah di rumah susun ini, disambut oleh seorang nenek, Ben berpura-pura ingin mewawancarainya dan voila..!!Nenek itu dibunuh dengan cara berteriak ke telinganya. Jujur, penjelasan Ben kenapa dia bisa membunuh hanya dengan berteriak sehingga bisa menghemat peluru, berhasil membuat saya kagum akan kepintarannya, sekaligus membuat perasaan benci kenapa dia tega membunuh nenek yang tidak bersalah, hilang begitu saja.

Tapi tentu saja kegiatan “menikmati” ini harus dihentikan, dan film ini memberikannya pada sebuah adegan dimana, Ben memperkosa dan membunuh secara sadis seorang wanita sekaligus suami wanita itu, bersama-sama dengan kru film yang mengikutinya..!!. Bagian ini tidak lucu lagi, Ben sudah sangat keterlaluan kali ini, ini terlampau jauh, sama halnya dengan kru film yang mengikuti Ben, mereka terlibat terlalu jauh kedalam kegiatan-kegiatan Ben. Scene ini benar-benar menjadi titik balik, saya menganggap itu keterlaluan, lah trus bagaimana dengan pembunuhan-pembunuhan sebelumnya..?mengapa saya tidak menganggapnya keterlaluan, padahal efeknya sama, nyawa seseorang dihilangkan disini.

Poin inilah yang sangat saya sukai dari film ini, berbeda dari film bunuh-membunuh lainnya yang kadang hanya memberikan pononton adegan-adegan membunuh yang “menyenangkan” tapi nilai lebihnya malah di bagian lain (storyline ato twist ato efek). Tapi film ini justru memperlihatkan kepada kita, betapa kejamnya sesuatu hal yang dianggap “menyenangkan” untuk dilihat itu. brilliant.

Selain itu, pada bagian cerita dimana Remy dan Andre, kru (fiksional) yang mengikuti kegiatan Ben mengakui kalau mereka dalam keadaan kekurangan dana untuk melanjutkan dokumenter ini, Ben pun dengan bermurah hati membantu memberikan sumbangan kepada kru film ini, dan semenjak itu, merekapun menjadi semacam kaki tangan Ben, dan yup…adegan pemerkosaan itu terjadi. Sungguh sebuah ironi, “mereka” yang seharusnya cuman merekam dan melaporkan kepada penonton apa yang yang sebenarnya terjadi, sekarang malah ikut campur terlalu dalam dalam sebuah kejahatan. Sounds familiar huh?hahahhaa

overall.
one of my favorite cult movie…all time!

9/10