Blue is The Warmest Colour

December 19, 2013

Abdullatif Kechiche dengan kuasa yang dipunyainya sebagai sutradara, mengarahkan DOP untuk mengikuti keseharian Adele sampai hal-hal yang sedemikian tidak pentingnya. Tidur dengan mulut mangap, sarapan yang belepotan, hingga berkali naikin celana jinsnya yang sepertinya kegedean. Paras muka Adele pun berkali-kali di close-up, rambutnya yang berantakan, wajahnya yang tak bermake-up menjadi sasaran sorotan kamera sepanjang awal film. gerak gerik, tatapan mata, ekspresi muka Adele selalu jadi fokus utama film ini sekitar setengah jam awal (dan seterusnya). Membosankan? tenang, ini adalah cara sang sutradara memperkenalkan karakter utamanya, membuat penonton untuk mendalami lebih jauh tentang Adele, dan dengan semena-mena membuat penonton secara tidak sadar, menjadi Adele.

Sulit bagi saya untuk menghindari perasaan yang sama yang dirasakan Adele, perasaan bingung, meledak-ledak, ala abege terasa begitu nyata. Perasaan ditolak, dikucilkan, dihina yang dirasakan Adele ketika teman-temannya mengoloknya dengan kata lesbo turut membuat saya naik pitam. Saya ikut merasa deg-degan ketika pertama kali Adele melihat Emma, saya bisa merasakan jatuh cinta pada pandangan pertama-nya Adele terhadap Emma, rasanya persis ketika saya merasakan ada benih-benih cinta terhadap istri saya dahulu kala hahaha. Felt so real, so fuckn real. This movie delivers the feelings so magnificently, is magnificently really a word? i guess yeah.

And i dare to say this movie is not (just) about lesbian, this movie is all about love, passion, and lust. Kisah cinta Adele dan Emma sungguh berliku. Adele yang tadinya adalah heteroseksual biasa menyadari ada yang aneh yang terjadi di dirinya seketika dia bertatap mata dengan Emma di sebuah penyebrangan jalan. Pencariannya akan preferensi seksualnya menjadi jelas ketika dia bertemu kedua kalinya dengan Emma di sebuah bar lesbian. Walaupun dia tahu dia lesbian, tidak segampang itu mengakuinya. Keluarga dan teman-teman adalah hal-hal yang musti ia pertaruhkan. Setelah ia jadian ama Emma pun, tak serta merta semuanya menjadi mudah. Culture clash antara Emma yang seniman dan Adele yang guru TK terlihat sangat jomplang, terlihat dengan begitu jelas ketika adegan makan malam dengan keluarga dan kolega-kolega Emma. Naik turun hubungan mereka menjadi topik utama film ini.

Adele Exarchopoulus dan Lea Seydoux are very extraordinary, brave and convincing. Both are deliciously delivers the characters. Lihat adegan ketika mereka mau putus, anying itu emotional galore banget, amati adegan yang di restoran, ugh…perihnya menyayat, bok!. Walaupun Seydoux sudah bersumpah tidak akan pernah lagi mau maen di film-filmnya Kechiche, tak dapat dipungkiri ini adalah salah satu pencapaian tertingginya dalam hal akting. Pun halnya dengan Adele, walaupun dia aktris yang terbilang baru, keberaniannya sungguh jawara di film ini.

Banyak yang menjadikan “brutal and surgical display of so-called lesbian sex” sebagai alasan utama untuk menonton film ini, dan kekisruhan yang terjadi antara aktris dan sutradaranya juga disebut-sebut sebagai usaha membuat film ini populer. Namun semua itu tertutup dengan sempurna oleh pencapaian film ini, Palme d’or tidak akan diberikan secara serampangan, dan their believable intense love story and emotionally draining performance by both actress adalah alasan yang cukup kuat kenapa film ini sangat layak memenanginya, begitu juga memenangi hati anda.

5/5.

Advertisements

Real Steel

November 8, 2011

Charlie, peran yang dimainkan oleh Hugh Jackman adalah seorang mantan petinju yang mencopba peruntungan sebagai operator/manager robot petinju yang mana pertandingan tinju robot adalah event olahraga(?) populer pada tahun 2020, settingan tahun film ini. Dimulai dengan cerita yang standar, pertandingan pertamanya gagal total, hampir bangkrutlah ia. Tiba kesempatan ia mendapatkan uang banyak dengan “menjual” hak asuh anaknya yang belum pernah ia temui kepada kakak perempuan mantan istrinya, 10ribu dolar harganya, sangat cukup untuk membeli robot baru untuk kembali dipertandingkan. Namun secara tak terduga, itu anaknya yang bernama Max, terpaksa tinggal ama dia, mereka beli robot cantik dan mulai tanding, ambisius si Charlie ini dan gampang ditebak, kalah lagi. Akhirnya mereka pun mulai mencari spare part robot di sebuah gudang besar dan bertemulah Max dengan Atom, robot yang akan menjadi andalan mereka menuju kejuaraan dunia tinju robot.

Atom, yang kalau merujuk ke manga karya Osamu Tezuka merupakan The Greatest Robot on Earth, walau hanyalah robot butut yg fungsinya dulu adalah robot latih tanding, ternyata punya fungsi unik, shadowing. Dan dengan robot butut kurus inilah mereka menggapai kejayaan di film ini, sejalan dengan semakin dekatnya hubungan ayah anak ini.

Drama ayah anak dengan sedikit road movie plus sci fi dengan tambahan sedikit action, premis yang cukup banyak yang sayangnya tak tercampur dengan baik. Kesalahan paling fatal film ini adalah tidak adanya perhatian yang diberikan sutradara terhadap karakter robotnya, hanya selewat dan seakan tak penting. Maksud saya begini, Read the rest of this entry »

Cold Fish

August 12, 2011

Tuan Murata adalah orang yang sangat ramah, ia seorang pedagang ikan air tawar yang sukses di kotanya. Pada suatu malam ia menyelamatkan seorang gadis perempuan yang ketauan ngutil di supermarket terdekat. Dengan pengaruh nama baiknya, ia membantu membebaskan gadis itu, dan bersama orang tua gadis itu, Murata mengundang mereka untuk berkunjung ke toko ikannya, kebetulan…ayah sang gadis yang bernama Shamoto adalah juga seorang pedagang ikan. Murata sangatlah baik, ia mau memperkerjakan si gadis bengal tersebut di tokonya. Pun kepada ayah gadis tersebut ia mengajarkan pelajaran yang sangat berharga, yaitu cara menghilangkan orang. Pertama tentu saja setelah memotong-motong bagian tubuh orang yang sudah dibunuh, pisahkan daging dari belulangnya. Tulang dibakar dan abunya buang di tengah hutan, sedangkan daging dicincang kecil (jangan sampai lebih besar daripada nugget kata Murata) untuk kemudian dijadingan pangan ikan di sebuah sungai.

Bahkan saking baiknya, Murata membolehkan bahkan memaksa Shamoto untuk bercinta dengan istrinya yang bernama Aiko, di mobilnya.

Sion Sono kembali dengan tema yang menjadi andalannya dalam bercerita, keluarga, sex dan kekuatan pemberontakan yang terpendam. Kita dikenalkan dengan karakter Shamoto yang pemalu, pengecut, cengeng, pendiam dan gugupan. Dia tidak bisa mengendalikan anaknya yang lebih memilih pergi dengan pacarnya daripada makan malam bersama keluarga. Dia juga tidak bisa berbuat apa-apa ketika istrinya menolaknya ketika ia ingin bercinta. Kepengecutan ini semakin menjadi-jadi sehingga akhirnya menjebaknya untuk bekerja sama dan membantu Murata melakukan kejahatan. Bekerja sama dengan manusia bertabiat setan tentu saja ada harga yang harus dibayar. Read the rest of this entry »

Tamparan yang cukup keras saya dapatkan malam ini, tamparan yang harusnya bisa menyadarkan saya kalaulah janganlah lagi percaya apa yang diteriakkan euforia, apa yang tertulis di timeline twitter atau mungkin review di multiply. Transformers…Michael Bay..jelas tidak akan menjanjikan apa-apa, pikiran ini sudah saya tanamkan dalam-dalam. Ekspektasi sudah saya rendahkan, bahkan mungkin sudah saya hilangkan. “Satu jam terakhir yang keren”, kalimat yang muncul berbagai versi susunan kata ini banyak terdengar oleh saya blakangan ini, jadi hanya berdasar kalimat itulah saya menonton film ini. Bagian yang katanya aksi abis-abisan penuh ledakan dan menggetarkan isi bioskop. Blah, tepu.

Apollo 13 ternyata membawa misi tersembunyi ke bulan sana, menyelidiki jatuhnya benda asing di sana yang ternyata adalah kapal daripada pengungsi Cybertronian yang bernama Ark. Rahasia ini tersimpan rapi sampai akhirnya musti dibuka lagi karna Decepticon diketahui mengincar reruntuhan kapal itu yang ternyata berisi Sentinel Prime dan 5 pilar yang katanya bisa menjadi alat teleportasi bla bla bla bla… Megatron masih idup ternyata, sedikit demi sedikit mengumpulkan kekuatan perang.

Sam Witwicky pengangguran, tak bisa pamer kalau dia pernah nyelamatin bumi, namun bisa pamer punya pacar seamboy Carly, pantatnya mantap pas naik tangga itu, bohay. Ini cewe kerja di galeri mobil kepunyaan Dylan, bos perlente yang menang segala-galanya dibanding Sam, cemburulah dia, merasa tak guna. Read the rest of this entry »

Ini film terakhir saga terpanjang abad ini, sayang aja kalau ndak ditulis reviewnya haha. Jadilah kita menemui sebuah film tanpa basa-basi lagi langsung aja memulai ceritanya tanpa repot2 lagi ngenalin cast di opening scene. Voldemort dah riang gembira hampir nyium Dumbledore eh ternyata cuman mo ngambil tongkat sihirnya, Elder Wand. Harry Potter termangu di depan makam Dobby trus masuk rumah Bill, ketemu kawan karib trus nodong Griphook buat masuk ke dalam Gringotts. Lolos dari Gringotts pake naga, balik deh ke Hogwarts buat nyari Horcrux trus perang terakhir. Tak banyak lagi yang bisa diceritakan film ini, sehingga sebelum film ini tayang saya sudah membayangkan David Yates benar-benar ingin habis-habisan di film ini, perang besar nan kolosal lagi epik serta digdaya dijanjikannya.

Percaya ama ucapan David Yates tentu saja, syirik.

Masih segar di ingatan saya ketika ini buku rilis tengah tahun 2007 lalu, saya tergopoh-gopoh ke Gramedia untuk melihat bukunya, gak beli sih, ga punya duit haha. Sebulan kemudian setelah punya duit baru beli, hihi. Membacanya cukup sulit, karna kali itulah pertama kali saya membeli novel berbahasa inggris dan berniat menamatkannya. Akhirnya tamat juga, membaca bab terakhir muka saya penuh kepuasan yang ganteng, cerita panjang nan melelahkan serta bertwist keren itu happy ending, suka saya. Sayangnya, scene terakhir film ini membuat jidat saya berkerut, tak puas, “errr” tak sengaja terucap, muka saya tetep…ganteng. Itulah perbedaan nyata apa yang saya rasakan, saya tak puas dengan adaptasinya, wabil khusus, film ini. Read the rest of this entry »

HipHopDiningrat

December 2, 2010

Ini adalah film pertama di gelaran Jiffest 2010 yang saya tonton, dan melihat perkembangan terakhir, mungkin ini juga jadi yang terakhir. Padahal banyak banget yg ingin saya tonton, tapi diskriminasi penjualan tiket membuat saya kehabisan tiket. Ya sudahlah, walau Jiffest sudah tidak begitu ramah terhadap saya, setidaknya saya masih berkesempatan menonton satu film yang benar-benar membuat saya penasaran, film yang harusnya invitation only ini bisa saya tonton gegara menang kuis @bicarafilm di twitter, lewat cara apalagi coba orang biasa seperti saya bisa menonton film di gelaran festival film eksklusif ini selain ikut kuis, haha.

Menghabiskan masa kuliah selama 5 tahun di jogja benar-benar membuat saya jatuh cinta akan banyak hal disana, terutama bidang seni. Acara teater, tari, musik adalah acara-acara yang paling banyak saya datangin selama di jogja. Mendatangi acara-acara begitulah saya berkenalan dengan grup rap bernama Rotra, Jahanam, Kill The DJ, dll. Dan pas gelaran Jagongan Wagen 2008-lah saya jadi benar-benar melihat mereka dari dekat dan menjadi suka atas apa yang mereka suguhkan. Mereka semua tergabung dalam Jogja Hip Hop Foundation, dan film ini adalah tentang mereka. Read the rest of this entry »

Mungkin alasan yang dipublish ke umum tentang kenapa Deathly Hallows dibagi menjadi 2 bagian adalah untuk memuaskan die hard fans serial ini, ingin menceritakan semua yang ada di buku ratusan halaman itu sehingga tak ada yg terlewatkan yang kemudian bisa membuat fans beratnya marah. Namun setelah menonton part 1 ini, saya yakin seyakin-yakinnya, ini hanya akal-akalan semata produser yang ingin mengeruk untung dobel dari seri terakhir franchise ini, terlalu banyak flashback, terlalu banyak cerita yang bertumpuk, terlalu lambat dan bertele-tele, dan yang paling utama, terlalu banyak waktu saya yang terbuang. 2 setengah jam dan yang saya dapat hanyalah cerita yang datar dan membosankan.

Keputusan yang salah menurut saya yang dilakukan oleh screenwriter Steve Kloves, menulis ulang apa yang terdapat di buku dan menampilkannya di layar bioskop. Kita mengikuti pencarian sisa Horcrux 3 sahabat ini melintasi Inggris untuk menghancurkannya. Kita mengikuti pelarian mereka dari acara pernikahan itu, kita melihat mereka mulai bertengkar, berdiskusi, berkemah, menari bla bla bla. what you read is what you get, dan itulah kenapa part 1 ini membosankan. Karna ketika membaca imajinasi kita bermain dan itu jadi kesenangan tersendiri. Rincian  tambahan, sifat karakter, detail setting adalah suatu kekayaan tersendiri sebuah sastra. Sedangkan ketika saya menonton film ini, imajinasi yg tadi saya bayangkan itu sudah tertuang di layar dan saya hanya menyaksikannya saja, tidak ada lagi yang bisa saya lakukan, sehingga ia menjadi membosankan. Maaf kalau score tidak terlalu berhasil membuat saya menganggap ini dark, maaf juga sinematografernya juga tidak begitu hebat menggambarkan suasana dramatis menurut saya, semua ini hanya karna saya sudah kadung kebosanan sepanjang film. Dan sungguh, adegan dansa itu ketika di buku terbayang sangat manis, namun di film kok ya canggung pisan.

David Yates mempertahankan gaya gothic yang dia bawa dari film sebelumnya, menyesuaikan dengan basic cerita yang mulai memasuki masa-masa kelam. Voledemort sudah menginfiltrasi kementrian dan mendirikan pemerintahan baru, memerangi muggle dan menduduki Hogwarts. Potter dan konco-konconya malah memasuki kantor kementrian untuk mencari horcrux. Dan mengapa juga ini saya nulis sinopsisnya padahal semua umat udah hapal luar dalam tentang ceritanya zzz.

Daniel Radcliffe tentu saja seperti biasa, selalu termenung dan dikit-dikit khawatir, entah emang karakternya yang ga berkembang selama 7 buku atau memang akting dia yang ga berkembang setelah hampir 10 tahun. Rupert Grint malah cukup bagus terlihat, karakternya sebagai Ron wesley yang memang jadi sangat pencemburu dan pemarah gegara pengaruh liontin itu berhasil dia bawakan dengan baik. walau ekspresi dibawah pengaruh liontin itu mau ga mau mengingatkan saya akan pengaruh The One Ring terhadap Frodo haha. Emma watson, aduh..nulis namanya aja saya dah deg-degan, dia yang sungguh sangat culun di Sorcorers Stone sekarang sudah menjadi cewe yang sangat..omg, speechless gw.. gorgeous!, splendid! magnificent! beautiful!!. Namun sayang, Bill Nighty, Helena Bonham carter, Ralph Fiennes yang seharusnya memberikan jaminan penampilan akting yang sempurna, hanya tampil sedikit disini. Scene stealer malah diambil oleh bukan manusia, tapi seorang peri rumah bernama Dobby. Penampilannya yang singkat berhasil menghilangkan rasa kebosanan saya barang sejenak.

And am pretty sure right now that Emma Watson is a goddess

4/10