Cold Fish

August 12, 2011

Tuan Murata adalah orang yang sangat ramah, ia seorang pedagang ikan air tawar yang sukses di kotanya. Pada suatu malam ia menyelamatkan seorang gadis perempuan yang ketauan ngutil di supermarket terdekat. Dengan pengaruh nama baiknya, ia membantu membebaskan gadis itu, dan bersama orang tua gadis itu, Murata mengundang mereka untuk berkunjung ke toko ikannya, kebetulan…ayah sang gadis yang bernama Shamoto adalah juga seorang pedagang ikan. Murata sangatlah baik, ia mau memperkerjakan si gadis bengal tersebut di tokonya. Pun kepada ayah gadis tersebut ia mengajarkan pelajaran yang sangat berharga, yaitu cara menghilangkan orang. Pertama tentu saja setelah memotong-motong bagian tubuh orang yang sudah dibunuh, pisahkan daging dari belulangnya. Tulang dibakar dan abunya buang di tengah hutan, sedangkan daging dicincang kecil (jangan sampai lebih besar daripada nugget kata Murata) untuk kemudian dijadingan pangan ikan di sebuah sungai.

Bahkan saking baiknya, Murata membolehkan bahkan memaksa Shamoto untuk bercinta dengan istrinya yang bernama Aiko, di mobilnya.

Sion Sono kembali dengan tema yang menjadi andalannya dalam bercerita, keluarga, sex dan kekuatan pemberontakan yang terpendam. Kita dikenalkan dengan karakter Shamoto yang pemalu, pengecut, cengeng, pendiam dan gugupan. Dia tidak bisa mengendalikan anaknya yang lebih memilih pergi dengan pacarnya daripada makan malam bersama keluarga. Dia juga tidak bisa berbuat apa-apa ketika istrinya menolaknya ketika ia ingin bercinta. Kepengecutan ini semakin menjadi-jadi sehingga akhirnya menjebaknya untuk bekerja sama dan membantu Murata melakukan kejahatan. Bekerja sama dengan manusia bertabiat setan tentu saja ada harga yang harus dibayar. Mitsuru Fukikoshi yang berperan sebagai Shamoto mempertontonkan kualitas akting yang hebat, dari seorang lemah dan bergidik setiap melihat darah kemudian menjadi seorang monster yang justru penuh berlumuran darah.

Murata yang dimainkan dengan sangat brilliant oleh Denden adalah tipe psikopat klasik, ia dan istrinya menganggap membunuh dan membantai hanya sebagai rutinitas, namun dilakukan dengan penuh komitmen dan terencana. Senyumnya sangat lebar ketika mengiris-ngiris tubuh manusia dan tertawa keras ketika mengangkat liver dan menyodorkannya kepada Shamoto.

140 menit, Sion Sono berhasil menjaga tempo film ini dengan sangat baik, diantara kekejaman-kekejaman yang dipertontonkan, terselip ceramah moral yang secara mengejutkan, tidaklah membosankan ataupun menggurui. Dan juga kualitas akting serta penokohan dua karakter utama diatas yang merupakan pencapaian tertinggi film ini. Sion Sono seakan-akan ingin sekali menunjukkan kepada penonton bagaimana penggambaran ia terhadap sosok manusia ketika ia sudah mencapai batas-batas manusiawinya, untuk kemudian menjadi setan. Murata yang sudah “setan” dari sananya, membuat setan yang tersembunyi di dalam tubuh Shamoto kemudian bangkit. Dan pola ini tidak berhenti disitu saja.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: