Harry Potter and the Deathly Hallows: Part 2

July 31, 2011

Ini film terakhir saga terpanjang abad ini, sayang aja kalau ndak ditulis reviewnya haha. Jadilah kita menemui sebuah film tanpa basa-basi lagi langsung aja memulai ceritanya tanpa repot2 lagi ngenalin cast di opening scene. Voldemort dah riang gembira hampir nyium Dumbledore eh ternyata cuman mo ngambil tongkat sihirnya, Elder Wand. Harry Potter termangu di depan makam Dobby trus masuk rumah Bill, ketemu kawan karib trus nodong Griphook buat masuk ke dalam Gringotts. Lolos dari Gringotts pake naga, balik deh ke Hogwarts buat nyari Horcrux trus perang terakhir. Tak banyak lagi yang bisa diceritakan film ini, sehingga sebelum film ini tayang saya sudah membayangkan David Yates benar-benar ingin habis-habisan di film ini, perang besar nan kolosal lagi epik serta digdaya dijanjikannya.

Percaya ama ucapan David Yates tentu saja, syirik.

Masih segar di ingatan saya ketika ini buku rilis tengah tahun 2007 lalu, saya tergopoh-gopoh ke Gramedia untuk melihat bukunya, gak beli sih, ga punya duit haha. Sebulan kemudian setelah punya duit baru beli, hihi. Membacanya cukup sulit, karna kali itulah pertama kali saya membeli novel berbahasa inggris dan berniat menamatkannya. Akhirnya tamat juga, membaca bab terakhir muka saya penuh kepuasan yang ganteng, cerita panjang nan melelahkan serta bertwist keren itu happy ending, suka saya. Sayangnya, scene terakhir film ini membuat jidat saya berkerut, tak puas, “errr” tak sengaja terucap, muka saya tetep…ganteng. Itulah perbedaan nyata apa yang saya rasakan, saya tak puas dengan adaptasinya, wabil khusus, film ini.

Banyak scene-scene yang membuat saya berdecak “tsk, gini doang ternyata” karna saya membayangkan jauh lebih extravaganza. Scene kabur dari Gringotts ga sehebat yang terbayang oleh saya sebelumnya. Kebakaran besar di Kamar Kebutuhan hmm…boleh deh, wlo kurang bikin deg-degan kayak baca bukunya. Buat anda-anda yang merasa dosa besar nih banding-bandingin buku dengan film, saya ambil scene paling umum deh, The Last Battle. Pertempuran terakhir nan baik menurut saya dan selalu saya nikmati adalah pertempuran yang melelahkan, penuh jurus-jurus mutakhir (dalam kasus ini mungkin mantra), trik muslihat tak terprediksi, menegangkanlah pokoknya. Lah di film ini cuman…adu sinar-sinar di tangga, kucing-kucingan di menara, jatuh, berguling, trus adu sinar lagi yang SUMPAH ITU CUMAN KAYAK ADU PANCO BELAKA..!!. Sungguh saya tak masalah lho sebenarnya mas Yates klo lo ngerubah2 ini isi novel namun jadinya bakal dahsyat. Kalo sok setia begini trus jadinya biasa kan saya kesal atuh 😦

‘Not my daughter you bitch!!”

Ini juga, seorang teman yang pamer nonton film ini di Kuala Lumpur sana mengulang-ngulang quote ini di ranah twitter sana. Tau persis saya yang dia maksud adalah pergelutan antara Molly Weasley melawan si wanita paling gila sefilm ini namun keren, Bellatrix Lestrange. Ya sudahlah saya jadi membayangkan itu akan jadi gelut paling madness, ibu-ibu rumah tangga lawan tangan kanan, jendral utama, side kick, cukup menjanjikan kekontrasan yang menarik. Apa yang terlihat di film ini? maen anggar yang sangat sebentar.

Ekspektasi lo terlalu berlebihan Ardiyan. Silahkan bilang begitu, karna memang begitulah, kecuali film ini original screenplay, bukan adapted. Saya sudah membaca ketujuh-tujuh bukunya, imajinasi sudah terpatri di otak saya. Banyak film yg saya tonton dengan terlebih dahulu baca bukunya, banyak yang bagus, sesuai, melebihi atau beda dengan imajinasi saya namun ternyata sangat menarik. Namun ada juga yang mengecewakan, ini film salah satunya.

Dari film ini saya jadi mengerti itu Daniel Radcliffe sungguhlah sudah mentok kualitas ektingnya, Emma Watson masih ada harapan, Rupert Grint tuh nah yang paling potensial macamnya. Aktor pendukung mah ga usah diragukan lagi, sederat aktor kenamaan inggris berjejer dan memberikan kualitas akting kelas wahid. Juaranya oma Maggie Smith sebagai McGonagall kalau di installment satu ini. Liat pas dia ngusir itu Severus Snape dong, juara tenan. “And you Potter…it’s good to see you”, line yang ia ucapkan abis ngusir Snape menjadi satu-satunya line yang membuat ini hati membuncah, mata menghangat dan sedikit basah. Ketulusan benar-benar tersampaikan olehnya dengan sangat baik, keren.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: