Pluto

March 27, 2009

 

Saya sangat setuju dengan perkataan Fusanosuke Natsume, seorang kolumnis komik dari jepang. Dia mengatakan Urasawa Naoki adalah seorang pengkhianat, dalam artian dia sangat suka mengkhianati perasaan antusias, penasaran, harapan, dan tebakan daripada pembacanya sendiri, dengan memberikan berbagai macam kejutan yang tidak terduga. Sehingga rentetan kenyataan yang dibangun yang seprtinya menuju ke kenyataan A, ternyata di akhir chapter tersebut malah menuju ke B. Permainan kejutan dan twist seperti ini memang sudah menjadi ciri khas Urasawa, terutama di dua komik dia terakhir, Monster dan 21th Century Boys.

Dan kali ini komik terbarunya berjudul Pluto. Pluto adalah komik remake dari “Astro Boy : The Greatest Robot On Earth” (1964) sebuah masterpiece karya Tezuka Osamu, komikus idola Urasawa dan puluhan mangaka lainnya di jepang. Mungkin banyak yang sudah membaca dan menonton anime cerita Astro Boy, termasuk saya pribadi. Walaupun saya akui saya sudah tidak terlalu ingat konflik cerita dalam komik itu. Yang saya ingat hanyalah gaya gambar Tezuka yang beda dengan komikus lain, lebih kebarat2an, disney2 gitu…trus adegan2 bertempur Atom yang melawan robot yang sangat besar, trus dia memanjangkan tangannya gitu. Begitulah, yang saya ingat hanyalah adegan per adegan, nama karakter macam Atom, Uran, Prof. Ochanimizu dan mobil polisi berbentuk anjing….bukan ceritanya secara utuh.

Sehingga, ketika saya membaca Pluto vol. 1, saya seperti tidak mengenali sama sekali cerita ini. Ceritanya berkisah tentang Detektif Gesicht, seorang detektif robot paruh baya yang menyelidiki sebuah kasus pembunuhan terhadap manusia dan robot berkemampuan tinggi. Peristiwa ini terjadi disaat manusia dan robot sudah hidup berdampingan, sehingga Gesicht -sebagai salah satu diantara 7 robot berkemampuan tinggi-, merasa perlu memprioritaskan kasus ini, sambil berusaha memberi peringatan terhadap temannya yang lain sesama robot berkemampuan tinggi, untuk selalu waspada. Dan Atom sendiri, malah baru muncul di akhir vol pertama tersebut, sambil berpayung dan memegang bekicot dengan tampang polos menatap Gesicht yang menyapanya. Sungguh tidak mencirikan sebagai salah satu robot berkemampuan paling tinggi.

Mulai dari situ ceritanya bergulir, dan seperti ciri khas Urasawa, rentetan adegannya penuh kejutan, pemunculan karakter yang dramatis, dan semua itu digambarkan dengan gaya sinematis. Ya…membaca karya Urasawa sama halnya dengan menonton sebuah film. Pengambilan sudut gambar pada panel-panel setiap halamannya, membuat adegannya seperti bergerak dinamis. Brillian.

 

Dan begitu juga halnya dengan Takehiko Inoue, Urasawa Naoki adalah komikus yang gaya gambar realisnya sangat saya sukai. Tapi agak berbeda dengan Takehiko yang gambarnya lebih brutal, dan sangat artistik, gaya gambar Urasawa lebih sederhana, tidak terlalu banyak detail arsiran tapi tetap dapat memberikan ekspresi emosi yang dalam dan sangat pas.

Satu lagi yang sangat saya sukai dari komik ini adalah desain covernya. Oleh tim MnC, cover komik ini tidak seperti halnya komik lain, yang pada covernya adalah karakter2 komik tersebut dalam berbagai pose, Pluto malah meng copy-paste secara acak potongan-potongan panel yang ada di dalam komik tersebut, disusun dari cover depan ampe belakang. Membuat komik ini tampak begitu keren.

Sungguh layak dikoleksi oleh mereka penggemar komik bermutu seperti saya.
hehe

*note : image diatas bukan gambar komik versi indonesia, soalnya susah nyari yg indonesia, web mnc dari tadi ga kebuka2…haha

10/10

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.