Synecdoche New York (2008)
March 18, 2009
Starring: Philip Seymour Hoffman, Samantha Morton, Michelle Williams, Catherine Keener, Emily Watson, Dianne Wiest, Jennifer Jason Leigh, Hope Davis, Tom Noonan
Director: Charlie Kaufman

Ini merupakan salah satu film yang musti saya tonton dua kali. Tapi tidak seperti Mulholland Drive, yang saya tonton untuk kedua kalinya karna ingin mengetahui petunjuk2 yang terlewatkan, ato seperti The Dark Knight yang saya tonton lagi karna ingin mendapatkan orgasme lagi, wlo ternyata tidak senikmat orgasme pada saat pertama menontonnya. Film ini juga tidak saya tonton karna untuk memahami jalan ceritanya, tapi lebih kepada untuk menyadari, klo ini adalah sebuah film hebat. Karna ketika selesai menonton pertama kalinya, walaupun saya mengerti ceritanya, saya merasa masih ada sesuatu yang hebat, yang coba disampaikan film ini, tapi masih belum saya sadari.
Dan itu adalah tentang suatu hal yang sederhana, tentang hidup manusia dan bagaimana ia menjalaninya. Manusia hidup mempunyai keinginan, sesuatu yang ia ingin dilakukan atau bahkan sesuatu yang harus ia lakukan. Dan untuk melakukan itu semua manusia mengutus “sesuatu” untuk menjalankan peran itu, sesuatu yang kita sebut dengan “diri sendiri”.
Dan ketika manusia mengalami kegagalan dalam menjalani perannya, ia akan berkata (terutama bagi mereka yg mengklaim diri sendiri sebagai orang berfikiran positif), “aku akan ulangi lagi, selalu ada kesempatan kedua”, sedikit omong kosong…karna tentu saja waktu ini terus berjalan, tidak bisa diulang, kesempatan kedua tidak dan tak akan pernah sama dengan kesempatan pertama. Dan keberhasilannya, tidak akan pernah sama rasanya dibandingkan jika kesempatan pertama sebelumnya itu juga berhasil. (*ucapan org yg percaya adanya dunia paralel…hahaha)
Film ini menceritakan bagaimana kalau kita, mengutus orang lain untuk melakukan peran kita, orang tersebut sudah sangat memahami karakter kita, jalan pikiran kita, tingkah laku sampai cara bicara kita, kita tinggal mengarahkannya untuk melakukan apa yang kita inginkan, semuanya untuk melihat bagaimana kita – yang diwakilkan orang lain tersebut- menjalani peran sebagai manusia, sehingga kita bisa, anggaplah…belajar dari pengalaman. Tentu saja, ada suatu saat dimana fikiran kita, disalah-terjemahkan oleh orang lain tersebut. but hey….!!orang lain tersebut kan sudah menjadi diri kita sendiri.!
Dan tentunya, tidak ada profesi yang lebih baik dalam menggambarkan itu semua selain seorang sutradara theater seperti Caden (Phillip Seymor Hoffman), setelah kegagalan rumah tangga dan mulai didera penyakit yang aneh, dia memutuskan untuk membuat sebuah karya besar. Sebuah gudang sangat besar disewanya, sebuah set kota New York dibuatnya disana, dengan skala 1:1, ratusan artis disewa untuk memerankan warga kota New York biasa, dengan fokus cerita adalah dirinya sendiri, artis2 tadi akan memerankan dirinya sendiri dan orang2 yang berhubungan dengannya. dan hal ini terus menerus berlanjut ampe belasan tahun!.
Hoffman sendiri sebenarnya sudah cukup menjadi alasan kenapa film ini menjadi sebuah karya yang layak ditonton. Seorang aktor kelas kakap. Kualitas aktingnya merupakan sebuah jaminan. Bahkan sebuah film “biasa” seperti MI-3, menjadi agak lumayan karna mempunyai penjahat yang keren seperti Hoffman. Akan tetapi ada satu pihak lagi yang membuat film ini jadi hebat.
Dan dia adalah Charlie Kaufman. Memang ini adalah debut penyutradaraannya, tapi Kauffman bukan orang biasa di Hollywood. Script bikinan dia terbukti bisa menjadi sebuah alasan kenapa Spike Jonze dan Michael Gondry menjadi seorang sutradara papan atas, Being John Malkovich (Jonze), Adaptation (Jonze), Human Nature (Gondry) dan Eternal Sunshine of The Spotless Mind (Gondry) adalah sejumlah mahakarya dari Kaufman, bahkan di Eternal dia mendapatkan sebuah Oscar. Mantap.
8/10
May 7, 2011 at 9:01 am
Saya suka film ini .. bulu kuduk mulai berdiri setelah Caden tua bangun dan menuruni tangga ..
Film tentang ambisi, kesepian, dan yg jelas ttg manusia ..
btw nice blog
..